Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 03 Januari 2017

Aku Iki Medit !

sumber
Move on bang, pilpres dah lewat jam tayang...

Jangan pernah berpikir jika semua berita yang kamu temui di Gugel itu benar. Gugel itu cuma wadah yang diisi oleh banyak manusia dengan segala kepentingannya. Kadang isinya susu yang terasa legit ketika orang mencicipinya. Namun kadang pula berisi racun yang ampuh membunuh semua logika.

Jangan pernah berpikir jika yang dot com atau berdomain itu sahih untuk dijadikan rujukan. Sebab harga satu bungkus rokokmu itu setara dengan harga domain situs-situs yang kamu bagikan. Jika mau, nanti kamu akan kubuatkan satu dengan cuma-cuma, lalu silahkan isi sesuai kehendakmu.

Enggak perlu beranggapan aku ini tidak peduli dengan Indonesia. Negara tidak akan menjadi hancur gara-gara aku tidak ikutan menghiasi linimasa dengan aneka macam berita. Alasannya sederhana.. AKU IKI MEDIT ! Ya, aku emoh menjadi sukarelawan buzzer berita provokatif di sosial media, yang justru membuat empunya situs semakin kaya raya.

Enggak usah curiga aku ini Pro Jokowi. Hingga hari ini saya pun mencoba mencari alasan apa yang membuatku untuk turut membenci seorang bernama Jokowi. Tapi sayang, mungkin bukan rejekimu. Nurani  mengatakan tidak ada alasanku untuk turut pula membenci presidenku.

Dukunganku yang sewajarnya saja tanpa harus terlalu mengidolakannya. Sebab telah lama aku belajar untuk tidak terlalu mengidolakan manusia, kecuali Dia yang telah maksum saja. Yang baik tentunya harus kita dukung. Sedangkan yang kurang baik, ya serahkan semua pada ahlinya. Bukan kepadamu, lebih lagi kepadaku.

Enggak usah lagi inbox dan ngetag aku dengan berita-berita SARA dan politikmu. Tema seperti itu bagiku cuma obrolan minum kopi yang kadang dilakukan ketika kita kekurangan bahan obrolan. Sebuah topik yang sering mengubah obrolan minum kopi menjadi tak lagi asyik. Membuat lawan bicaraku menjadi bosan dan bahkan muak, sebab menganggap aku adalah lawan bicara yang sok tahu segalanya.

Percuma saja kau jejali aku dengan berita-beritamu. Semanis apapun judulnya, aku tidak akan sepenuh hati membacanya. Lebih lagi mentah-mentah mempercayainya. Kecuali satu, kau sodorin aku berita hasil pertandingan bola.

Silakan saja menganggap aku tak melakukan apa-apa di dunia maya untuk Indonesia. Dukunganku mungkin cuma diam saja. Tidak seperti kamu dan mereka yang menyibukkan diri membangun Indonesia di dunia maya dengan berbagai analisa yang kadang hanyalah sebatas prasangka dan mengira-mengira.

Bagiku Indonesia tak cuma seluas kotak komentar di sosial media. Masih banyak hal yang harus kita benahi di luaran sana dengan keahlian yang masing-masing kita punya. Maaf saja jika aku tak mau menjadi bagian dari kaummu. Medan pertempuranku bukanlah sosial media, tapi blog yang menjadi pilihan hidupku.

Kujadikan sebagai senjata untuk berkarya sekaligus mencari remah-remah penghasilan. Tapi tentu saja dengan cara yang elegan. Tidak seperti empunya situs-situs yang sering kali kamu bagikan. Yang mengais rejeki dengan menjadikan ruang kotak komentarnya sebagai ring untuk  saling mencaci.

sekali lagi... Move on bang, pilpres dah lewat jam tayang...

Sabtu, 17 Desember 2016

Malu Dengan KTP Saya


Jelang lagi pamungkas Timnas versus Thailand, tiba-tiba  teringat sebuah lagu yang sepenggal liriknya saya tulis di bawah. Judulnya Persidmania ( untuk Letoy), sebuah lagu dari Tamasya band Jember yang diciptakan oleh RZ Hakim.

Berjanjilah padaku kau 'kan tetap tersenyum
Persid kalah lagi bukanlah satu-satunya alasan
Engkau tidak lagi berkarya, tak lagi bersorak dan bernyanyi

Menceritakan tentang kegalauan salah satu personal Tamasya  bernama Andi "letoy" Fahmi yang kebetulan juga menjadi salah satu koordinator suporter Persid Jember. Letoy merasa gelisah sebab tim kebanggaannya tak kunjung naik kasta. Lagu sederhana, tapi tersirat makna. Seakan mengajak kita semua untuk belajar menerima kekalahan dengan legawa. Tentang bagaimana cara seorang pendukung menyikapi sebuah kekalahan tanpa harus mencari-cari alasan untuk menghentikan dukungan. Juga tentang bagaimana sebuah kompetisi harus pula diimbangi dengan persiapan dua mental dari para pelakunya. Mental di saat menang, juga mental ketika giliran tumbang.

Seperti halnya Letoy, saya pun merasakan hal yang sama. Gelisah karena masih saja Persid kalah. Menjadi salah satu dari sekian ribu orang yang mendamba kesebelasan daerahnya bisa menikmati legitnya kompetisi sepakbola tertinggi di negeri ini. Tapi sudahlah, mungkin saja belum waktunya.

Pun demikian ketika menjadi seorang pendukung timnas Indonesia. Setali tiga uang, prestasi puncak timnas senior masih tak kunjung datang. Tapi syukurlah, saya tak sampai menjadi oknum suporter yang durhaka pada timnasnya. Ya, para suporter durhaka yang suka nimbrung di kotak-kotak komentar portal bola. Yang suka membully, mencaci dan merendahkan timnasnya sendiri. Sebaliknya, mereka akan miskin pujian ketika timnasnya menggapai kemenangan. Mereka selalu beralasan jika timnas menang karena faktor keberuntungan. Lupa dan tidak menyadari jika saat bernafas, ngemil, bahkan kentut sekalipun  masih numpang di sebuah negeri bernama Indonesia.

Ironisnya, mereka justru menjadi super militan ketika mendukung tim atau klub dari luar negeri sana. Mereka akan mati-matian membela jika saja ada suporter lain menghina kesebelasan kesayangannya. Menjadi orang yang bangga dengan klub luarnya, tapi lupa dengan KTP yang dikantonginya. Tidak pernah menyadari jika sejatinya  Timnas saja satu-satunya kesebelasan yang layak didukung dengan sepenuh hati. Sebab kita orang Indonesia, itu saja.

Dulur blogger, beberapa saat lagi timnas senior akan kembali berlaga. Peluang emas bertahta intan pertama sudah ada di depan mata. Semoga saja kali ini nasib baik berpihak ke timnas kita. Semoga kita semua sudah mempersiapkan mental dengan hasil akhirnya.

Jika menang semoga prestasi itu bisa sedikit meredam kegaduhan yang sedang terjadi di tengah kita agar sedikit tenang. Kalah semoga pula kita bisa mengambil hikmah. Untuk belajar menjadi seorang pendukung yang siap menerima kekalahan dengan legawa. Apapun bentuk dukungan dan siapapun yang kita dukung. Belajar untuk segera move on dan tidak berlama-lama menjadi kaum barisan sakit hati ketika jagoannya kalah dalam kompetisi.

Jika akhirnya kalah? Indonesia masih akan indah. Thailand kembali membuat kita terseok? Indonesia juga tak akan kehilangan elok. Sepakbola bukanlah ukuran akan kebesaran sebuah bangsa. Sebab masih banyak hal lain dari kita yang jauh lebih KEREN dari Thailand. Ya, bukan hanya Thailand saja, tapi juga bangsa-bangsa lain yang ada di dunia.

Kecewa bisa saja nanti akan terjadi, tapi untuk mencaci? Hmmmm...nanti dulu.. malu dulu dong ah dengan KTPmu


note : Lagu Persidmania bisa didengarkan dan diunduh DISINI


Senin, 24 Oktober 2016

Nulis Lagi Ah....



Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya bisa ngopi bareng Pakde Cholik lagi. Salah satu di antara banyak blogger yang bertahan mbarengi saya berkarya sejak dulu hingga detik ini.

Lazimnya kodpar blogger lainnya, obrolan kami masih seputar dunia blog dengan segala pernak-perniknya. Namun tidak sedang bicara soal DA, PA, nona Alexa, link tughel, adsense, juga soal Page Rank yang sudah tidak penting lagi nilainya.

Yah, kami cuma sedang bernostalgia sembari menikmati legit bergelas-gelas kopi. Mengabsen satu persatu teman-teman lama kami. Advertiyha, Jumialely, pak Mars, Bunda Lily, Kang Achoey, bli Putu Sudayasa, om Aldy M. Aripin, Mama Ina, miss Orin, sam Insan Robbani, Bunda Mahesh, Yunda Hamazah, kang Pakies, Emak Elje, Bunda Lahfy, uni Fitray, bang Isro Machfudin, dan banyak lagi dulur blogger yang sekarang nyaris tak terindeks lagi di linimasa kami.

Di satu sisi kami juga berbincang seputar fenomena blogger sekarang. Sejatinya kami turut merasa senang. Blogger sekarang bisa hidup makmur, sebab tawaran job makin lama makin menjamur. Meski mungkin saja ada beberapa hal yang mulai berubah di antara kami. Namun kami yakin blogger Indonesia tidak akan pernah lupa dengan tagline pakemnya.

"ngeblog itu untuk berbagi".

Intinya, malam tadi kami sedang rindu saja. Kata orang, kami sedang CLBK, Cinta Lama Blogger Kembali. Yah, kangen dengan budaya todong menodong PR Award. Rindu dengan aneka giveaway nan ceria. Di mana tidak ada pemenang apalagi pecundang di antara kami, sebab semua peserta sejatinya dialah sang juara.

Rindu dengan semangat dan antusias di antara kami. Tentang ketulusan bahu membahu ketika membikin gawe, kendati kegiatan itu nyaris ora ono duite. Kami pun rindu dengan tulisan emak-emak yang jujur tentang huru-hara mereka ketika berjibaku dengan asap dapur. Juga tentang entang tulisan mereka yang sederhana akan kisah anak-anaknya. Yah, cuma tulisan sederhana dan mudah untuk dicerna, sebab tak perlu lagi untuk membahasnya hingga berhari-hari di situs jejaring pribadi.

Ah, cuma kopdar empat mata, namun istimewa. Obrolan hangat yang membuat lupa hingga tengah malam telah lewat. Jadi, diskusi ngalor ngidul ala perguruan Udut Sakti harus segera diakhiri. Kendati masih menyisakan pertanyaan juga peer bagi kami hingga detik ini.

"Kok hape canggih Pakde ora iso digawe nyanyi Smule?"


Jombang, 24 Oktober 2016