Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Seorang pencinta alam yang mengawali hidup sebagai blogger sejak menjadi penjaga warnet di sebuah kota kecil bernama Jember

Kirim Email

Kamis, 01 Januari 2015

Nol Koma di Pagi Pertama

cari duit online

Tahun 2014 telah berlalu, berganti dengan yang baru. Layaknya tanaman, tahun baru itu ibarat tunas baru yang diharapkan akan memberi buah keberhasilan bagi para penanamnya. Yang di tahun kemarin kurang beruntung, mungkin ini waktunya untuk kembali berhitung. Istilah orang-orang pintar harus segera melakukan resolusi. Agar segala impian bisa tergapai di tahun ini. Meski kadang semua impian belum tentu akan menjadi kenyataan. Jodoh, rejeki, karir serta nasib hanya Allah saja satu-satunya  kreator terbaik di setiap kehidupan manusia.

Rupa-rupa cara orang merayakan malam pergantian tahun. Sebagian ada yang sengaja merayakan dengan suka cita. Meski diantaranya cuma ikut-ikutan saja. Mereka hanya tahu jika malam  itu waktunya ritual tiup terompet dan menyalakan kembang api di angkasa. Namun, ada pula diantaranya yang menjadikan malam pergantian sebagai momentum untuk melakukan perbaikan.

Lantas bagaimana halnya dengan malam tahun baru saya? Sepertinya saya tak melakukan kedua-duanya. Sebab saya lebih suka melukis bantal dengan gugusan nusantara. Tak peduli meski malam tadi puluhan kembang api mencoba mengusik saya di alam mimpi. Bagi saya malam tahun baru tiada beda dengan malam-malam biasanya. Istimewa itu hanya soal manusia yang memperlakukannya. Yang saya tahu hari ini ada sesuatu yang berubah dari komputer saya. Digit terakhir di kalendernya telah berubah menjadi angka lima. Itu saja.

Hari ini saya mulai aktifitas seperti biasanya. Menjadi seorang pengais rejeki dari sudut-sudut dunia maya. Masih dengan komputer dan pola yang sama. Ngasong air mineral dan kacang di antara bule-bule yang demen bola.

Alhamdulillah, ternyata tahun baru ini menyambut saya dengan suka cita. Sederet angka sudah mulai nampak di monitor saya. Tak banyak memang. Cuma angka nol koma dengan 5 digit yang mengikutinya. Namun cukup membuat pagi pertama di tahun baru saya begitu indahnya. Rejeki dari Tuhan yang tak sedikitpun boleh saya keluhkan, tapi justru ini sebuah tantangan. Setitik rejeki yang harus saya syukuri. Meski harus dimulai dengan nol koma, tapi saya harus tetap bersemangat mencarinya.

Sering beberapa orang menganggap perkerjaan saya sia-sia. Mission imposible katanya saya bisa bertahan hidup dengan mengumpukan angka-angka nol koma. Tapi sudahlah, masa bodoh dengan kata mereka. Tak faedah omongan mereka pada orang yang telah jatuh cinta. Ya, saya telah jatuh cinta pada pekerjaan ini. Tak jua sebab persoalan berapa angka yang nanti saya kantongi.

Nol koma bagi saya adalah sebuah pelajaran jika rejeki itu tak bisa dengan ongkang-ongkang kaki saja didapatkan. Senyaman apapun duduk saya di depan layar mini ini, disitu ada perjuangan yang harus saya lakoni.

Nol koma juga menjadi pengingat jika mungkin suatu saat ada yang berubah di peruntungan hidup saya. Yah, ada satu di antara dua hal yang mungkin nanti akan terjadi dari proses yang sekarang saya jalani. Stagnan atau sebaliknya  menjadi seorang jutawan. Sebab adakalanya manusia selalu sukses ketika diuji dengan segala kesempitan diri. Tapi, manakala diri telah di atas, banyak di antara mereka yang tak bisa melalui tali ujian kekayaan dengan tuntas.

Semoga saja nol koma selalu mengingatkan saya agar tak menjadi kacang yang lupa kulitnya. Selalu sadar diri dan bersyukur apapun nasib baik yang mungkin nanti terjadi. Senantiasa ingat jika semuanya harus saya awali dengan nol koma.

Ah, jika dirasa sungguh dahsyat dampak kalimat bernama hamdalah. Pagi tadi saya cuma temui angka nol koma dangan digit lima angka,  sekarang justru sudah berubah menjadi angka dua dengan lima digit yang terus berganti setiap jamnya. Jadi bagaimana saya percaya dengan komentar-komentar yang melemahkan? Jika saya lebih percaya pada kejutan-kejutan yang akan Allah berikan?


Senin, 22 Desember 2014

Emakku Tak Pernah Tahu Hari Ibu

Beberapa hari ini saya mengalami ujian yang berkaitan dengan kesehatan. Tiba-tiba di kaki kiri kanan bermunculan semacam benjolan. Jika dilihat sekilas seperti kulit memar yang baru saja terbentur benda keras. Ukurannya tidak begitu besar. Paling besar mungkin hanya seukuran ibu jari orang dewasa, tapi muncul begitu banyak dan merata di beberapa bagian kaki saya.

Awalnya saya menganggap jika mungkin itu semacam bisul saja. Tapi, makin hari makin banyak pula muncul benjolan-benjolan di kaki saya. Ukurannya sih memang tak begitu besar. Paling besar mungkin cuma seukuran ibu jari orang dewasa, tapi efek yang ditimbulkannya begitu luar biasa. Benjolan-benjolan itu muncul di bagian urat dan persendian kaki. Menimbulkan dampak berupa rasa ngilu yang menjalar di sekujur kaki, serta meriang di seluruh badan. Terus terang saya merasa tak mampu saat itu untuk berdiri. Apalagi berjalan, sungguh benar-benar membuat saya terasa tersiksa.

Syukurlah hari ini kaki saya sudah terasa mendingan. Setelah dua hari kemarin saya putuskan untuk periksa dokter. Diagnosa dokter menyatakan jika saya hanya mengalami gangguan pada hormon saja. Alhamdulillah, jujur sebelumnya saya sudah berpikir enggak-enggak jika sesuatu telah terjadi dalam tubuh saya. Apalagi bapak telah melakukan diagnosis ngasal yang mengatakan jika saya terserang kolesterol. Ada pula tetangga yang mengatakan jika saya besar kemungkinan telah terkena asam urat. Beberapa teman blogger yang saya tanyai pun menyarankan agar saya segera ke dokter, tapi saya tetap saja membandel. Ya, saya lebih percaya ramuan klasik dari pada dokter untuk urusan pegal dan lebam, yaitu param asam garam. Maklum, namanya saja pencinta alam, jadinya obatnya ya harus dari alam.hahaha.

Kembali lagi ke soal penyakit di kaki yang saya alami. Pada malam di mana rasa sakit mengalami puncaknya, saya sempat berpikir dalam hati. Jika dalam usia yang masih muda seperti ini saya merasakan sakit yang luar biasa pada kaki dan sekujur badan, lantas bagaimana  jika nanti saya sudah beruban?. Ketika pikun, encok dan asma sudah menjadi teman setia saya? itulah yang saya pikirkan pada malam itu. Sampai pikiran saya pun melamun ke masa saat kakek dan nenek saya masih ada.

Saya teringat  bulan-bulan terakhir menjelang perpisahan dengan kakek nenek saya. Lebih lagi dengan almarhum nenek yang biasa saya panggil emak. Sebab, bisa dikatakan saya adalah pengawal pribadi emak ketika malam tiba. Ya, emak juga seorang yang bandel seperti saya. Suka nekat pergi ke kamar mandi sendiri, meski dengan kondisi jalan yang tertatih. Meski sebenarnya saya tahu jika emak bukanlah benar-benar seorang pembandel, tapi cuma bermaksud tak ingin membuat repot orang-orang yang ada di rumahnya.

Pernah di suatu malam ketika adzan Subuh mulai bergema. Tiba-tiba saya melompat dari kamar tidur sebab mendengar suara berdebum dari ruang belakang. Yah, emak nekat lagi dan kini justru melukai diri sendiri. Saya liat beliau sedang mengerang kesakitan dan nampak darah mengucur dari hidungnya. Saya tanya kenapa emak tidak memanggil saya?

"Aku arep wudu' Le," jawab Emak.

Ah, rasanya saya merasa bersalah dengan semua kejadian yang menimpa emak malam itu. Saya merasa bersalah sebab kenapa saat itu mata saya bisa terpejam lena, padahal di hari biasanya saya adalah pengidap akut insomnia? Sejak saat itu saya pun semakin berhati-hati menjaga emak ketika malam tiba. Firasat dalam hati mengatakan jika mungkin perjumpaan saya dan emak tak akan lama lagi. Jadi saya harus lebih banyak lagi menemani dan mengabdikan diri dalam kesehariaanya.

Sejak saat itulah saya menjadi ajudan emak yang harus menjaga mata dan telinga agar tak kembali lena. Membantu segala kesulitannya saat tengah malam tiba. Menuntunnya ketika menuju kamar mandi. Menata bantal empuknya agar tetap nyaman di kepala. Kadang ketika nyeri di badan mulai terasa, saya pun menawarkan diri untuk mengurut punggung serta bahunya yang telah renta. Semua saya lakukan dengan penuh ketulusan. Bahkan panggilan emak ketika malam itulah panggilan yang saya rindukan. Yah, saya merasa bahagia sekaligus bangga sebab bisa ada di samping emak menjelang akhir hayatnya.

Saya tahu andai saja hingga detik ini  masih saja merawat emak seperti dulu, mungkin semua itu masih tak akan cukup untuk membalas semua kasih sayang yang diberikan emak. Seorang nenek sekaligus ibu yang tak pernah mau tahu aliran darah siapa yang ada dalam tubuhku. Ibu yang tak setetes pun air susunya telah membasahi tenggorokanku, tapi kasih sayangnya mengucur deras tak pernah henti hingga detik usianya telah terhenti.

Memang benar apa yang dikatakan oleh firasat, jika perpisahan itu kelak akan terjadi. Malam itu emak memanggil saya ke kamarnya. Beliau meminta saya untuk mengurut punggungnya, sambil terus bercerita layaknya obrolan ringan, tapi bagi saya sarat akan pesan. Agar saya tak pernah jauh-jauh dari rumah serta keluarga yang telah membesarkan saya. Agar saya terus menjaga Ning, anak emak yang menjadi ibu saya. Dan seperti biasa emak juga  mengingatkan saya agar senantiasa menjaga nilai-nilai kejujuran dari setiap pekerjaan yang saya lakukan. Setelah itu emak cuma mengucap dua kalimat saja.

"Wis awakmu turu'o disik le, emake mari iki yo arep turu", itu saja kata emak.

Ya, dini hari itu emak telah kembali ke pangkuan-Nya. Dua kalimat terakhirnya seakan menunjukkan betapa besar kasih sayang emak terhadap orang-orang yang dicintainya. Emak masih saja tak mau membuat repot anak-anaknya. Membiarkan seisi rumah lena di alam mimpi ketika dirinya bersiap menuju kehidupan yang hakiki. Seakan emak tak mau kepergiannya dilepas dengan isak tangis dari orang-orang yang dicintainya.

Itulah sebuah kenangan tentang emak saya. Salah satu dari tiga wanita berhati seluas samudera yang telah saya punya. Seorang wanita bernama Supatimah yang ketika saya kecil dulu terlihat ramah, tapi bisa menjadi macan manakala saya dijahili teman-teman sepermainan. Seorang ibu rumah tangga yang selalu rajin menyisihkan kepingan seratus rupiah di balik kasurnya. Yah, menyisihkan receh demi receh uang belanja, agar saat lebaran tiba saya bisa memiliki uang jajan yang sama dengan anak-anak tetangga. Perempuan yang tak pernah paham makna akan aksara, tapi prinsip "asal jadi daging"nya telah menjadi pedoman saya dalam berkarya. Dialah emakku, perempuan yang tak pernah tahu jika dalam setahun ada satu hari yang begitu spesial buat dia. Yah, emak tak pernah tahu akan Hari Ibu. Yang emak tahu mungkin cuma tahu satu hal saja, jika di 365 hari dalam setiap putaran hidupnya, di situ ada curahan kasih sayang bagi anak-anaknya di setiap harinya.


Tulisan ini untuk menyemarakkan #HariIbu Komunitas Emak Blogger dalam rangka menyambut Hari Ibu


Kamis, 11 Desember 2014

Hari Gunung? Apa Yang Perlu Diperingati?

Hari Gunung Internasional

Tanpa sengaja pagi tadi saya melihat sebuah hastag yang lagi naik di Twitter.  Sebab penasaran saya pun mengklik hastag bertajuk #IMS_wisatagunung tersebut. Mencari tahu alasan apakah yang membuat para warga Twitter ramai-ramai menggunakan hastag itu di jejaring pribadinya. Setelah klik sana sini akhirnya saya temukan jika hastag itu digagas oleh akun Twitter resmi Indonesia Morning Show. Sebuah acara di NET. TV yang sedang mengadakan kuis foto untuk memperingati Hari Gunung Internasional.

Mendaki gunung bukanlah sesuatu yang baru bagi saya, tapi jujur saja baru hari ini saya tahu jika ada hari spesial untuk memperingatinya. Sebagai pencinta alam saya punya pandangan jika setiap hari itu adalah hari gunung. Sama halnya memperlakukan setiap hari kita sebagai Hari Bumi atau Hari Lingkungan Hidup yang biasa kita peringati setiap tahunnya. Tapi, semoga saja 11 Desember ini dijadikan momentum bagi kita semua. Tak hanya untuk para pendaki atau pencinta alam, tapi untuk kita semua agar lebih mencintai gunung-gunung kita.

Kini mendaki menjadi  trend di kalangan muda-mudi. Efek film 5cm seakan memprovokasi kalangan remaja kita untuk turut berpetualang di alam raya. Di satu sisi saya rasa ini adalah trend positif bagi mereka. Ketimbang menyalurkan geliat darah mudanya dengan jalan tawuran, balapan liar di jalanan, narkoba atau kenakalan remaja lainnya. Namun, di satu sisi memberi dampak tidak baik pula bagi kelestarian gunung-gunung kita. Efek penasaran yang ditimbulkan setelah melihat filmnya akan membuat orang berbondong-bondong ingin eksis menjadi seorang "pendaki" tanpa lebih dulu memahami etika-etika di alam bebas yang harus  mereka penuhi.

Apa saja etika-etika tersebut?

  • Bawa pulang  sampahmu !
Hingga hari ini sampah masih menjadi permasalahan di dunia petualangan. Ceceran bungkus plastik, botol, kaleng hingga puntung rokok seakan menjadi panorama tersendiri yang ditemui ketika mendaki. Buah dari ketidaksadaran para pengunjung yang tak peduli akan kelestarian.

Hindari membawa logistik dalam kemasan kaleng atau botol beling. Sediakan tas kresek besar untuk menampung sampah-sampah dari logistik kita. Jika mau, ketika turun gunung  pungut pula sampah-sampah yang kita temui semampunya.

  • Jangan tinggalkan  guratan dan coretan  di pohon atau batu !
Coretan serta guratan adalah "panorama lain" yang sering kita temui ketika mendaki. Sikap berlebihan dalam menunjukkan eksistensi diri membuat keindahan sebuah gunung tak lagi alami. 

Sadari jika tujuan kita mendaki adalah untuk menikmati sekaligus mensyukuri mahakarya Tuhan yang masih alami. Bukan sebaliknya, mengotori dengan guratan atau coretan-coretan  tak beraturan dengan dalih "untuk sebuah kenangan".  Kecanggihan kamera atau video jaman sekarang saya rasa sudah lebih dari cukup untuk mengabadikan kenangan di setiap petualangan yang kita lakukan.

  • Jangan tempel kartu nama di tempat yang tak perlu !
Di jalur-jalur pendakian seringkali saya temukan marka-marka penunjuk jalan di kiri kanan. Biasanya marka tersebut terbuat dari seng, berbentuk tanda anak panah dengan tulisan organisasi si pemasang.

Apakah itu perlu? Hmm, sepanjang jalur tersebut dianggap berpotensi membuat para pendaki tersesat, mungkin saja marka jalan bisa membantu. Tapi, yang saya lihat  marka-marka tersebut justru banyak dipasang di tempat-tempat yang tak perlu. Lagi-lagi hanya semacam bentuk sikap untuk menunjukkan eksistensi diri atau organisasi secara berlebihan.

Sadarilah jika kita hanyalah seorang tamu, bukan tuan rumah yang mengelola sebuah kawasan pendakian. Biarlah urusan memasang marka jalan penunjuk arah menjadi tugas dari pihak BKSDA, pengelola Taman Nasional, Basarnas, ranger gunung atau pihak-pihak terkait lainnya. Memasang "papan nama" tanpa mempedulikan etika tak akan membuat besar nama organisasi kita. Justru akan membuat orang lain mempertanyakan label pencinta alam yang kita punya.

  • Jangan ambil sesuatu meski hanya sebongkah batu !
Ada sebuah kata mutiara yang mengatakan jika cinta itu tak harus memiliki. Mungkin seperti itulah sikap yang harus dimiliki seorang pendaki. Menjadi seorang yang sebatas mengagumi tanpa bernafsu untuk memiliki.

Jangan pernah percaya pada mitos yang mengatakan jika mempersembahkan edelweis bagi pasangan akan membuat hubungan cinta kita abadi. Tidak membawa cendera mata dari alam, justru akan membuat diri menjadi sosok penyayang di mata pasangan kita. Seseorang yang memiliki rasa sayang pada bunga abadi, tentu akan memiliki rasa sayang pula pada pasangan yang dia miliki.

Apapun alasannya, edelweis jauh lebih indah di taman aslinya. Sekali lagi cukup memori dalam kepala serta kamera saja untuk menyimpan nostalgia petualangan kita. Bukan oleh-oleh dari alam yang saat pulang kita bawa serta.

  • Jangan cemari mata air dengan sabunmu !
Air adalah komponen utama yang vital dalam kehidupan manusia. Demikian halnya dalam kegiatan mendaki, air adalah logistik utama yang wajib kita bawa.

Jangan gunakan sabun atau detergen di setiap mata air yang kita temui. Lebih baik tidak mandi sekalian daripada kita membuat pencemaran. Naik gunung bukanlah ajang catwalk fashion layaknya film 5cm. Tidak mandi beberapa hari tak akan membuat diri kita mati.

Lantas bagaimana halnya jika ingin "ganti oli" isi perut kita? Temukan jawabannya di kisah Ada Rahasia di Tapal Batas Itu.


Itulah beberapa etika yang harus diperhatikan ketika kita melakukan petualangan. Selain itu perhatikan pula etika-etika dalam membuat api unggun, membuat tenda serta aturan-aturan main yang harus kita penuhi saat di alam terbuka.

Dulur blogger, pendaki serta pencinta alam dimana pun berada. Gunung tak hanya sebuah bentang alam berbentuk segitiga nan penuh tantangan. Gunung sejatinya begitu bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sebagai tandon bagi kelangsungan air bersih kita. Paku bumi untuk menjaga kestabilan goncangan dalam isi perut bumi kita. Benteng alami untuk memecah konsentrasi laju angin kencang agar tak langsung menghujam permukaan bumi. Sekaligus sebagai benteng terakhir bagi flora dan fauna kita, serta masih banyak lagi manfaat gunung bagi kehidupan manusia.

Semoga saja momentum Hari Gunung Nasional ini membuat kita semua lebih sayang lagi pada karya Illahi bernama gunung. Membuka mata hati para penikmatnya untuk mau pula menjaga kelestarian tempat bermainnya. Berpetualang tanpa harus sewenang-wenang. Bercumbu di alam raya tanpa mengurangi sedikitpun elok kosmetika alaminya. Menikmati sekaligus mengagumi tanpa bernafsu untuk memiliki.

Salam lestari Indonesia !

Redesign template mix from Tonzer - Mybloggertrick - Salahuddin-Ayubi Template