Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Seorang pencinta alam yang mengawali hidup sebagai blogger sejak menjadi penjaga warnet di sebuah kota kecil bernama Jember

Mohon Perhatian !

Pemilik blog ini sedang mencari Marpuah. Silakan kirim email jika ingin berkenalan.. hehehe

Kamis, 11 Desember 2014

Hari Gunung? Apa Yang Perlu Diperingati?

Hari Gunung Internasional

Tanpa sengaja pagi tadi saya melihat sebuah hastag yang lagi naik di Twitter.  Sebab penasaran saya pun mengklik hastag bertajuk #IMS_wisatagunung tersebut. Mencari tahu alasan apakah yang membuat para warga Twitter ramai-ramai menggunakan hastag itu di jejaring pribadinya. Setelah klik sana sini akhirnya saya temukan jika hastag itu digagas oleh akun Twitter resmi Indonesia Morning Show. Sebuah acara di NET. TV yang sedang mengadakan kuis foto untuk memperingati Hari Gunung Internasional.

Mendaki gunung bukanlah sesuatu yang baru bagi saya, tapi jujur saja baru hari ini saya tahu jika ada hari spesial untuk memperingatinya. Sebagai pencinta alam saya punya pandangan jika setiap hari itu adalah hari gunung. Sama halnya memperlakukan setiap hari kita sebagai Hari Bumi atau Hari Lingkungan Hidup yang biasa kita peringati setiap tahunnya. Tapi, semoga saja 11 Desember ini dijadikan momentum bagi kita semua. Tak hanya untuk para pendaki atau pencinta alam, tapi untuk kita semua agar lebih mencintai gunung-gunung kita.

Kini mendaki menjadi  trend di kalangan muda-mudi. Efek film 5cm seakan memprovokasi kalangan remaja kita untuk turut berpetualang di alam raya. Di satu sisi saya rasa ini adalah trend positif bagi mereka. Ketimbang menyalurkan geliat darah mudanya dengan jalan tawuran, balapan liar di jalanan, narkoba atau kenakalan remaja lainnya. Namun, di satu sisi memberi dampak tidak baik pula bagi kelestarian gunung-gunung kita. Efek penasaran yang ditimbulkan setelah melihat filmnya akan membuat orang berbondong-bondong ingin eksis menjadi seorang "pendaki" tanpa lebih dulu memahami etika-etika di alam bebas yang harus  mereka penuhi.

Apa saja etika-etika tersebut?

  • Bawa pulang  sampahmu !
Hingga hari ini sampah masih menjadi permasalahan di dunia petualangan. Ceceran bungkus plastik, botol, kaleng hingga puntung rokok seakan menjadi panorama tersendiri yang ditemui ketika mendaki. Buah dari ketidaksadaran para pengunjung yang tak peduli akan kelestarian.

Hindari membawa logistik dalam kemasan kaleng atau botol beling. Sediakan tas kresek besar untuk menampung sampah-sampah dari logistik kita. Jika mau, ketika turun gunung  pungut pula sampah-sampah yang kita temui semampunya.

  • Jangan tinggalkan  guratan dan coretan  di pohon atau batu !
Coretan serta guratan adalah "panorama lain" yang sering kita temui ketika mendaki. Sikap berlebihan dalam menunjukkan eksistensi diri membuat keindahan sebuah gunung tak lagi alami. 

Sadari jika tujuan kita mendaki adalah untuk menikmati sekaligus mensyukuri mahakarya Tuhan yang masih alami. Bukan sebaliknya, mengotori dengan guratan atau coretan-coretan  tak beraturan dengan dalih "untuk sebuah kenangan".  Kecanggihan kamera atau video jaman sekarang saya rasa sudah lebih dari cukup untuk mengabadikan kenangan di setiap petualangan yang kita lakukan.

  • Jangan tempel kartu nama di tempat yang tak perlu !
Di jalur-jalur pendakian seringkali saya temukan marka-marka penunjuk jalan di kiri kanan. Biasanya marka tersebut terbuat dari seng, berbentuk tanda anak panah dengan tulisan organisasi si pemasang.

Apakah itu perlu? Hmm, sepanjang jalur tersebut dianggap berpotensi membuat para pendaki tersesat, mungkin saja marka jalan bisa membantu. Tapi, yang saya lihat  marka-marka tersebut justru banyak dipasang di tempat-tempat yang tak perlu. Lagi-lagi hanya semacam bentuk sikap untuk menunjukkan eksistensi diri atau organisasi secara berlebihan.

Sadarilah jika kita hanyalah seorang tamu, bukan tuan rumah yang mengelola sebuah kawasan pendakian. Biarlah urusan memasang marka jalan penunjuk arah menjadi tugas dari pihak BKSDA, pengelola Taman Nasional, Basarnas, ranger gunung atau pihak-pihak terkait lainnya. Memasang "papan nama" tanpa mempedulikan etika tak akan membuat besar nama organisasi kita. Justru akan membuat orang lain mempertanyakan label pencinta alam yang kita punya.

  • Jangan ambil sesuatu meski hanya sebongkah batu !
Ada sebuah kata mutiara yang mengatakan jika cinta itu tak harus memiliki. Mungkin seperti itulah sikap yang harus dimiliki seorang pendaki. Menjadi seorang yang sebatas mengagumi tanpa bernafsu untuk memiliki.

Jangan pernah percaya pada mitos yang mengatakan jika mempersembahkan edelweis bagi pasangan akan membuat hubungan cinta kita abadi. Tidak membawa cendera mata dari alam, justru akan membuat diri menjadi sosok penyayang di mata pasangan kita. Seseorang yang memiliki rasa sayang pada bunga abadi, tentu akan memiliki rasa sayang pula pada pasangan yang dia miliki.

Apapun alasannya, edelweis jauh lebih indah di taman aslinya. Sekali lagi cukup memori dalam kepala serta kamera saja untuk menyimpan nostalgia petualangan kita. Bukan oleh-oleh dari alam yang saat pulang kita bawa serta.

  • Jangan cemari mata air dengan sabunmu !
Air adalah komponen utama yang vital dalam kehidupan manusia. Demikian halnya dalam kegiatan mendaki, air adalah logistik utama yang wajib kita bawa.

Jangan gunakan sabun atau detergen di setiap mata air yang kita temui. Lebih baik tidak mandi sekalian daripada kita membuat pencemaran. Naik gunung bukanlah ajang catwalk fashion layaknya film 5cm. Tidak mandi beberapa hari tak akan membuat diri kita mati.

Lantas bagaimana halnya jika ingin "ganti oli" isi perut kita? Temukan jawabannya di kisah Ada Rahasia di Tapal Batas Itu.


Itulah beberapa etika yang harus diperhatikan ketika kita melakukan petualangan. Selain itu perhatikan pula etika-etika dalam membuat api unggun, membuat tenda serta aturan-aturan main yang harus kita penuhi saat di alam terbuka.

Dulur blogger, pendaki serta pencinta alam dimana pun berada. Gunung tak hanya sebuah bentang alam berbentuk segitiga nan penuh tantangan. Gunung sejatinya begitu bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sebagai tandon bagi kelangsungan air bersih kita. Paku bumi untuk menjaga kestabilan goncangan dalam isi perut bumi kita. Benteng alami untuk memecah konsentrasi laju angin kencang agar tak langsung menghujam permukaan bumi. Sekaligus sebagai benteng terakhir bagi flora dan fauna kita, serta masih banyak lagi manfaat gunung bagi kehidupan manusia.

Semoga saja momentum Hari Gunung Nasional ini membuat kita semua lebih sayang lagi pada karya Illahi bernama gunung. Membuka mata hati para penikmatnya untuk mau pula menjaga kelestarian tempat bermainnya. Berpetualang tanpa harus sewenang-wenang. Bercumbu di alam raya tanpa mengurangi sedikitpun elok kosmetika alaminya. Menikmati sekaligus mengagumi tanpa bernafsu untuk memiliki.

Salam lestari Indonesia !

Rabu, 03 Desember 2014

Ah Bulik, Tahu Saja...

Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera

Sulit, rasanya begitu sulit jika saya disuruh bercerita akan silsilah. Apalagi bercerita tentang seorang ayah, rasanya itu adalah hal yang paling susah. Yang saya tahu, sejak kecil hingga sekarang saya hidup berdamping dengan seorang Ibu yang akrab dipanggil Ning. Yang saya tahu, saya tumbuh besar dalam sebuah keluarga yang tak pernah henti mencurahkan kasih sayangnya pada diri saya. Memberi makan saat perut saya kelaparan. Mengobatkan  ketika didera kesakitan. Memberi  pendidikan agar kepala saya terisi pengetahuan sebagai bekal masa depan. Satu hal lagi yang saya tahu, keluarga itu sama sekali tak pernah peduli tentang asal-usul serta bibit bebet bobot yang saya punyai. Masih saja mencurahkan cinta dengan porsi yang sama pada diri saya serta anak semata wayang mereka. Itu saja silsilah tentang saya.

Ketika kecil dulu seringkali orang-orang sekitar bercerita tentang diri saya. Sengaja atau tak sengaja, mereka coba menguak akan jati diri orang tua saya sebenarnya. Namun, semuanya tak berpengaruh dalam diri saya. Ya, tiada kisah sinetron ala "Putri Yang Terbuang" nan mengharukan. Tiada adegan seorang anak yang menangis sesenggukan ketika mendapati dirinya hanyalah anak pungutan. Semuanya baik-baik saja. Pikiran polos saya sudah mampu mencerna apa yang dikata orang-orang tentang diri saya sebenarnya. Rasa cinta pada keluarga yang membesarkan saya, seakan membuat hati saya tegar menerima kenyataan di usia yang masih belia.

Ketika beranjak dewasa, barulah ada semacam pergolakan batin pada diri saya. Maklum, dinamika hati seorang remaja mudah sekali berubah-rubah. Bahkan kadang suka mengingkari apa yang menjadi kehendak Illahi. Suka mengkambinghitamkan saat diri sedang didera kesempitan. Kadang pula menyalahkan nasib  semasa kecil dulu dengan segala impian yang tak bisa saya raih saat itu.

Syukurlah, Tuhan ternyata telah memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang dulu sering muncul dalam diri saya. Sebuah fragmen hidup telah membuka mata hati ini, jika skenario Tuhan yang begitu indah telah saya lakoni. Ketika menjadi seorang kaum urban disitulah akhirnya saya temukan jawaban. Merantau pada sebuah kota yang sebenarnya adalah tanah kelahiran saya. Megapolitan yang dulu pernah memberi sedikit udaranya untuk paru-paru kecil saya. Sekarang justru menjadi medan berjuang saya mengadu peruntungan. Yah, menyabung nasib sebagai kuli bangunan sekaligus menapak tilas di masa-masa diri ini baru diciptakan.

Di Jakarta itulah saya bertemu dengan seorang perempuan. Wanita paruh baya dengan dua anak yang telah remaja. Seorang perantau sejati yang bertahan hidup sebagai  penjaja warung nasi. Mbak Mia, begitu orang-orang memanggilnya. Namun, saya lebih terbiasa memanggilnya Bulik. Perempuan yang pernah memberikan air susunya sebagai penghilang dahaga tenggorokan saya. Ya Bulik, itulah perempuan yang telah melahirkan saya.

Dulu hampir setiap akhir pekan saya habiskan waktu menginap di rumah kontrakan Bulik. Meski saya rasa itu bukanlah rumah, tapi cuma ruang sempit yang ditinggali Bulik bersama anak-anaknya. Ya, hanya sebuah kamar merangkap dapur dengan furniture berupa ranjang bertingkat plus kompor sebagai penghias ruangannya. Begitu pengap, sangat pengap tak seperti halnya kamar di kampung yang saya punya. Membuat saya berpikir andai saja sejak awal turut serta, mungkin ruang sempit itu makin sempit saja dengan kehadiran saya. Belum lagi ditambah dengan bel dari kereta besi yang lalu lalang tepat di halaman kontrakan. Juga nyamuk-nyamuk yang menyerang secara membabi mata, sungguh tak bisa membuat mata terpejam segera. Seakan semuanya memberi jawaban jika keputusan yang dulu Bulik lakukan, salah satu tujuannya adalah agar saya bisa menikmati tidur dengan nyaman.

Di ruang sempit itu Bulik seringkali mendongeng dengan cerita masa kecil saya. Tentang rumah sakit Cideng, tempat saya dilahirkan. Tentang gubuk-gubuk kumuh yang pernah saya tinggali. Juga tentang kebiasaan saya yang suka melambai-lambaikan tangan ketika rombongan panser pengawal presiden melintas di jalanan. Selebihnya Bulik cuma bercerita tentang betapa susahnya hidup di ibukota. Kesempitan hidup yang memaksa adik-adik saya tak bisa melanjutkan pendidikannya. Ah, lagi-lagi serasa saya menemukan jawaban jika tujuan Bulik  dulu sebenarnya agar saya bisa merasakan pendidikan sebaik-baiknya, meski hanya tamatan SMA.

Pernah di suatu hari saya memberanikan diri bertanya tentang keputusan Bulik ketika saya kecil dulu. Bulik cuma tersenyum dan berkata jika semua itu tak semudah seperti yang saya bayangkan. Beliau merasa jika pilihan terbaik baginya saat itu adalah meninggalkan diri saya. Memberikan bayinya pada Ning yang hingga sekarang menjadi Ibu saya. Bulik yakin jika Ning mampu memberikan segenap kasih sayangnya pada diri saya. Itulah jawaban Bulik.

Ternyata Jakarta tak memberi bintang terang dalam peruntungan nasib saya. Otot-otot saya rasanya sudah tak mampu lagi melakukan pekerjaan sebagai seorang kuli. Mental perantau saya sepertinya tak setangguh Bulik punya. Saya merasa menjadi seorang yang gagal di tanah kelahirannya sendiri. Jadi saya harus segera pulang. Berpisah kembali dengan Bulik dan adik-adik saya. Meski beberapa bulan setelahnya Bulik mengabarkan sebuah lowongan pekerjaan di ibukota, namun saya menolaknya. Saya merasa jika Jakarta bukanlah tempat yang tepat bagi saya. Tapi, di kota kecil inilah medan pertempuran saya hingga menutup mata.

Beberapa tahun kemudian, sebuah kabar duka tiba-tiba datang. Di ujung telpon adik lelaki saya mengabarkan jika Bulik telah berpulang mendahului mereka dan akan dikebumikan di kampung halamannya. Sungguh tak saya sangka kabar duka itu. Rasanya baru kemarin saya masih bersama Bulik. Menemaninya ke pasar induk untuk belanja sayuran yang akan dia dagangkan. Ah, belum lunas pula janjinya untuk mengantar saya ke pantai Ancol untuk berwisata. Ternyata kini Bulik telah tiada.

Sayang, saya tak sempat menatap raut wajah Bulik untuk yang terakhir kalinya. Adat di kampung halamannya mengharuskan segera mengebumikan jasad tanpa perlu menunggu anak-anaknya datang. Di sebuah kampung tandus di daerah Ponorogo, disitulah Bulik dilahirkan dan dikebumikan. Orang-orang sekitar mengatakan jika Bulik adalah salah satu  perantau sejati dari kampung mereka. Seorang perempuan yang tak hanya diam pasrah melihat kering kerontang tanah kelahirannya. Tapi, juga berani mencari sedikit kemakmuran meski jauh dari tanah kelahiran. Sedari muda hingga dia menutup mata, itulah Bulik Mia.

Dari kampung nan gersang itu akhirnya saya pun mendapat jawaban. Tentang alasan Bulik untuk tak memberikan saya pada sanak familinya. Bulik menurut saya adalah seorang yang jenius, sebab bisa memprediksi masa depan yang nanti akan saya hadapi. Saya rasa Bulik tak ingin saya tumbuh menjadi pemuda yang hanya mengerti tentang cara mencangkul tanah kering saja. Mungkin saja Bulik tahu jika saya bukanlah tipe lelaki yang mengandalkan kekuatan fisik  dalam mencari sumber rejekinya.

Di kaki sebuah bukit, disitulah jasad Bulik dikebumikan. Beliau pergi untuk meneruskan perjalanannya sebagai perantau di kehidupan yang lebih hakiki. Terima kasih Bulik untuk masa depan baru yang telah kau berikan. Terima kasih karena telah menganugerahkan aku seorang Ibu bernama Ning. Seorang perempuan yang juga memiliki hati seluas samudera sepertimu.

Ah Bulik, tahu saja pilihan terbaik untuk anaknya....


Selasa, 25 November 2014

Ojo Medit Ilmu Olehe Nemu


Saya merasa beruntung sebab ketika pertama kali mengenal dunia maya bisa berkenalan dulu dengan Friendster. Jejaring sosial yang telah bubar tersebut sedikit banyak telah mengajari saya  dasar-dasar dalam dunia blogging. Ya, dulu FS memperbolehkan para penggunanya untuk mengotak-atik sendiri tampilan jejaring pribadinya. Secara tidak langsung saya pun bisa berkenalan pula dengan HTML dan segala pernak-perniknya. Pengetahuan baru yang di kemudian hari berguna bagi kehidupan saya sebagai seorang blogger.

Kini bisa dikatakan saya sudah mulai bisa mengotak-atik template blog sendiri. Meski tak bisa dipungkiri kemampuan saya cuma rata-rata. Ya, saya masih belum mampu mencipta template sendiri. Kemampuan saya hanya sebatas memodifikasi template jadi dengan sesuka hati. Latar belakang ilmu yang didapat dari "jalanan" membuat saya kadang tak bisa memberi penjelasan ketika diberi pertanyaan. Semua mengalir begitu saja. Cuma mengandalkan naluri, selebihnya cuma kreatifitas diri.

Alhamdulilah, saya bersyukur "ilmu nemu" yang saya dapat dari jalanan tersebut ternyata kadang bermanfaat juga buat orang-orang. Seringkali saya diminta bantuan dulur-dulur blogger lainnya, khususnya emak-emak yang memiliki sedikit masalah dengan tampilan blognya. Faktor-faktor teknis dalam ngeblog yang mungkin terlihat remeh, tapi bisa membuat bingung para pemula. Itulah curhat yang biasanya terdengar ketika mereka meminta bantuan saya.

Pernah di suatu ketika seorang emak meminta bantuan saya. Si emak meminta tolong merombak total tampilan blognya sesuka hati saya. Dengan senang hati saya sanggupi, kendati ada sedikit rasa tak enak hati. Ya, si emak tiba-tiba saja mempertanyakan soal biaya pembuatan blognya. Saya pun menjawab jika tak  sepeser pun meminta bayaran untuk ongkos rias tampilan blognya. Justru saya merasa bersyukur, sebab diberi kesempatan untuk kembali belajar lewat permintaan bantuan tersebut. Asal dua syarat harus dipenuhi sebagai imbalan kerjaan saya, yaitu mau mengisi blog tersebut dan percaya ! Ya, harus percaya sebab saya meminta email dan  passwordnya, itu saja.

Saya merasa jika ilmu nemu itu tak layak untuk saya jual. Apalagi untuk sebuah pekerjaan yang tidak terlalu sulit dan senggang untuk dilakukan. Mungkin inilah yang harus saya lakukan sebagai seorang pencari ilmu di jalanan. Dulu memungut ilmu itu di jalanan, dan sekarang giliran saya untuk membagikan ke siapa saja yang membutuhkannya.

Sebab itulah akhirnya saya pun membuat blog Bengkelozz yang berisi seputar pengetahuan teknis non penulisan dalam ngeblog. Tidak, blog itu bukanlah blog tips atau trik blogspot tingkat tinggi. Bagi saya Bengkelozz itu semacam note tempat  menyimpan remah-remah pengetahuan yang saya temukan di jalanan. Sebagai media pengingat agar saya tak lupa dengan njlimetnya angka serta kode pemanis tampilan blogspot. Selebihnya  agar blog tersebut bisa dibaca dan membantu siapa saja, khususnya bagi mereka yang baru saja mengenal dunia blogging.

Dulur blogger, 25 Nopember hari ini bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Semoga saja semangat dan pengabdian para guru tertular juga pada kita semua. Menjadi seorang "guru" yang suka mengajari siapa saja dengan senang hati. Sesuai dengan filosofi kita sebagai seorang blogger, jika hidup itu untuk berbagi. Ya, berbagi tidak akan membuat diri kita rugi. Dengan mengajari itu berarti akan mengasah diri kita menjadi seorang yang ahli. Mengajar akan membuat kita akan terus belajar. Mengulang-ulang pengetahuan yang sudah kita tahu hingga menjadi sangat tahu. Mengajari itu juga akan membuat kita semakin kaya ilmu. Sebab ketika mengajari sebuah ilmu kadangkala kita pun menemukan ilmu-ilmu baru. Tanpa di duga, dan itulah bonus buat kita.

Monggo bagi Anda yang mungkin punya sedikit permasalahan dengan pernak-pernik blognya, dengan senang hati saya siap membantu semampunya. Jika mampu dan senggang, insya Allah saya bantu dengan senang. Jika tak mampu, jangan marah. Sebab saya bukanlah mastah. Itu tanda jika waktunya kita saling belajar bersama-sama.  Yah, belajar bersama-sama untuk menemukan segala macam ilmu pengetahuan. Lalu membaginya kembali untuk siapa saja yang ingin pula memiliki. Sebab, sejatinya saya, Anda dan kita semua adalah guru. Kita semua adalah penebar remah-remah ilmu di muka bumi ini. Yah, remah-remah setitik ilmu  dari Sang Pemilik Ilmu.

sumber gambar : school-clipart.com


Redesign template mix from Tonzer - Mybloggertrick - Salahuddin-Ayubi Template