Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Kirim Email

Jumat, 15 Oktober 2010

Itu Bukan Hanya Sekedar Dolanan..

Saat nonggo di blog sahabat saya ACACICU, saya tertarik dengan sebuah tulisan berjudul "Lagu Anak, Riwayatmu Kini". Suatu tulisan yang mengingatkan kenangan akan masa kecil saya, masa dimana cuma dolan, dolan dan dolan yang cuma ada dalam pikiran saya. Namun kali ini saya tidak akan bercerita tentang lagu anak, karena seperti petuah bijak bilang "serahkan segala sesuatu pada ahlinya", jadi saya serahkan semua masalah lagu dengan segala tetek bengeknya kepada Bro Hakim he.he. Nah berhubung spesialisasi saya adalah "tukang dolan" maka saya akan menulis sesuatu yang ada hubungannya dengan permainan anak-anak.

Di jaman yang serba modern ini segala sesuatu berubah begitu drastis, demikian halnya dengan teknologi.  Namun tak selamanya perubahan membawa semua kebaikan pada diri kita, karena pasti ada sesuatu yang dikorbankan akibat dari dampak teknologi. Budaya silaturahmi alias nonggo sudah mulai bergeser akibat makhluk bernama handphone dan televisi. Yah saat ini masyarakat kita cenderung malas bertegur sapa langsung karena adanya kemudahan ber-say hello via SMS. Budaya nonggo yang dulu jadi ciri khas masyarakat Indonesia kini mulai pudar, karena mereka memilih diam menikmati saluran televisi dirumahnya masing-masing.

Demikian juga dengan permainan anak-anak, sepertinya juga mengalami revolusi yang begitu pesat. Mobil-mobilan dari batang pohon pisang sekarang sudah tergantikan dengan mobil remote control. Dakon/congklak sekarang tidaklah menarik lagi buat anak-anak, karena mereka lebih memilih bermain Wining Eleven lewat playstation.

Kita tentunya tidak bisa lepas dari teknologi kemajuan jaman, tapi sekali lagi tak selamanya suatu perubahan membawa kebaikan. Sudah berapa banyak orang tua yang mengeluh akibat prestasi anaknya menurun gara-gara playstation..??

Sekarang saya akan ajak anda untuk flashback menuju masa kanak-kanak kita, masa saat permainan sejenis petak umpet, gobag sodor dan sejenisnya menjadi idola bagi kita. Disini kita akan sedikit mengenang memori kejayaan permainan tersebut dengan segala kelebihannya, serta membandingkan dengan permainan anak jaman sekarang.



Petak umpet adalah permainan paling favorit saat masa kanak-kanak saya. Permainan ini bagi saya bukan hanya sekedar berbagi keceriaan dengan teman-teman, tapi juga memberikan pelajaran yang positif bagi anak. Saya masih ingat saat kecil seringkali curang dalam permainan ini, yaitu saat giliran bersembunyi saya justru pulang kerumah tanpa memberitahu teman saya. Yang hasilnya esok hari saya menjadi dijauhi oleh teman-teman permainan itu. Suatu pesan moral dari permainan petak umpet bahwa jika kita berbuat curang kepada masyarakat kita akan dijauhi pula oleh masyarakat kita.

Aneka mainan dari  pohon pisang macam kuda-kudaan, mobil-mobilan, senjata dan lain sebagainya, menurut saya meski sudah ketinggalan jaman tapi bisa merangsang kreatifitas anak untuk menciptakan sesuatu. Bandingkan dengan mobile remote control yang sifatnya instan dan cenderung membuat anak menjadi pribadi yang konsumtif.

Perang-perangan alias serangan, meski permainan ini terkesan ekstrem, namun memiliki banyak pendidikan kesetiakawanan, kekompakan dan kepemimpinan. Dimana dalam suatu kelompok permainan perang kita dituntut untuk kompak mengalahkan musuh, dan setiakawan serta mengayomi anggota kita saat diserang musuh. Bandingkan dengan playstation yang kadangkala malah mendidik anak untuk berjiwa individualistis serta menciptakan kesenjangan gara-gara si kaya ogah bergaul dengan si miskin yang tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa playstation.

Masih banyak permainan jadul yang sepertinya masih layak untuk dilestarikan, macam permainan mengasah otak seperti dakon/congklak maupun permainan ketangkasan seperti gobag sodor, lompat tali, engkleng dan lain sebagainya.  Semua kembali kepada kita layak atau engga' permainan jadul itu hidup di jaman modern ini, tapi saya pribadi punya keyakinan jika orang tua kita jaman dahulu menciptakan dolanan tersebut bukanlah semata sekedar permainan, namun ada pendidikan dibalik dolanan itu.

Nah sekarang tinggal pembaca tentukan pendapat layak enggak di dunia modern masih ada permainan tradisional..??
Sekilas Pariwara...

8 komentar:

  1. Wuih..ada acacicu terpampang di atas sendiri, haha..maturnuwon brow; (denganwajah yang merona rona isin)

    Permainan jaman dulu lebih bersifat kolektif alias ada kerjasama tim. Kalo permainan jaman sekarang lebih banyak yg sifatnya individual dan satu lagi, mbayar.

    Tergantung juga. Kita bisa ko mengikuti perkembangan jaman, menginovasi permainan2 jadul dgn sentuhan modern, trus bersifat kerjasama antar teman juga. Contoh : outbond. Tapi tetep mbayar, haha;

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Acacicu@ Sayang kalau karena alasan modern, dolanan tradisional malah dilupakan. "Gandol trek" juga dolanan loh, jadi meki dilestarikan

    Propa@ Matur nuwun sampun rawuh teng tempat mangkale kulo..

    BalasHapus
  4. aku wis ngiro lek sampyan pancen jago nulis..sam ,,,,keren,,

    BalasHapus
  5. Propa@ siah aku ketularan virus cacakmu iku he.he.he

    BalasHapus
  6. belum tentu kolektif bro, bisa juga individu, namun yang jelas lebih menuntut kecerdasan, kreatifias, dan akal bulus (hehehehe). beberapa permainan juga menuntut ketangkasan.

    bukannya anak sekarang ngga mau memainkan itu menurut saya, tapi karena mereka tidak tau aias tidak ada yang menularkan atau menurunkan permainan itu. karena orang tua sekarang juga semakin sibuk dengan pekerjaan sampai tidak ada waktu bermain dengan anak yang akhirnya sang anak diberikan permainan instan saja. dan parahnya, tidak sedikit orang tua yang kecanduan permainan instan mereka sendiri.

    BalasHapus
  7. Wuih, Pak Wawan Curhat rek..Uhui..

    BalasHapus
  8. Ketimbang curhat mending dimarikno tulisane iku.. penonton sudah banyak yang antri diluar gedung...

    BalasHapus