Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 04 Oktober 2010

Jangan Selingkuhi Bahasamu..!

Masih cerita tentang perjalanan saya saat melancong ke Kawah Ijen. Dimana pada saat itu saya temui beberapa turis asing yang berwisata.
Seperti biasa saya sangatlah antusias bertemu dengan orang-orang baru yang menarik, apalagi saat itu yang saya temui adalah orang-orang yang sangatlah berbeda dari orang-orang yang saya temui tiap hari.. Yah itung-itung saya ingin mempraktekkan bahasa Inggris saya yang amburadul he.he..he.

Orang  yang saya temui sebut saja namanya Tim, asli Belanda yang melakukan studi di Surabaya. dengan pede saya sapa dia dengan hangat dalam sapaan "Good morning", tapi heran ternyata Tim malah memberikan jawaban yang membuat kaget saya. "Monggo" itulah kalimat dari Tim, sampai saya bertanya-tanya dalam hati apakah tim ini seorang Londo apa malah orang Jowo tapi mirip bule?. saya semakin takjub ternyata Tim juga tahu beberapa macam kosakata Jawa semacam "matur nuwun" atau "lombok ijo", lebih lucu lagi teman Tim ternyata juga tahu beberapa kosakata dari bahasa Madura. wuih gile..!


Dari pertemuan saya dengan Tim dan teman-temannya tersebut saya sadar jika Indonesia memang negara yang begitu menarik untuk semua orang, bukan hanya dari sisi keindahannya tapi juga dari sisi bahasanya. Buktinya si Tim yang dari kecilnya cuma mengerti bahasa ibunya sekarang kelihatan begitu menikmati berbicara dengan kosakata Jawa atau Indonesia dengan gaya lidahnya yang kaku.


Rasanya sangat kontradiktif dengan situasi di Indonesia yang saat ini terjadi. Disatu sisi orang-orang asing tertarik dengan bahasa-bahasa daerah atau nasional kita, namun disisi lain justru kita sendirilah yang mulai melupakan bahasa kita. Kita bisa lihat dalam pergaulan anak-anak muda, kosakata-kosakata yang biasa mereka gunakan saat ini cenderung mengadopsi dari bahasa Inggris. Padahal kosakata tersebut dirasa masih belum perlu untuk dibakukan kedalam bahasa sehari-hari kita. Kita ambil contoh "cemburu" diganti "jealous", "kencan" diganti "ngedate", "sarapan" diganti "breakfast" dan banyak lagi yang lainnya. Apakah menurut anda kosakata itu memang sudah waktunya diganti seiring perkembangan zaman? Apakah karena cuma menuruti gaya atau keren kita sudah berani berbuat lancang menyelingkuhi bahasa kita dengan bahasa asing?.


Enggak ada yang salah  jika kita belajar bahasa Inggris, namun sesuatu yang fatal kiranya jika karena bahasa orang lain kita sudah melupakan/menghilangkan kosakata dari bahasa kita sendiri. Bukankah keren tapi milik bangsa lain adalah suatu hal yang maya, sebaliknya biasa tapi pasti milik bangsa  kita itulah sebenar-benarnya kebanggaan?.


Kita patut iri kepada negara macam Thailand,  Jepang atau China yang sampai saat ini masih memegang teguh adat berbahasa mereka. Sampai dalam dunia tekhnologipun mereka tidak malu untuk mengakui bahasanya sendiri. coba kita lihat di google translate aksara-aksara mereka masih nangkring dengan nyaman disana, namun sebaliknya tak ada google translate atau keyboard versi aksara huruf Jawa disitu..?


Bukan cuma Harimau Jawa saja yang saat ini perlu kita lindungi dari ambang kepunahan, tapi mungkin  waktunya juga bagi kita untuk memberikan suaka buat bahasa kita. Minimal tidak lebih parah lagi mengalami degradasi keaslian kosakatanya. Rasanya bukan dalam percintaan saja kita dituntut untuk setia kepada pasangannya masing-masing, tapi dalam berbahasa kita juga wajib untuk setia  dengan bahasa kita.



Bukankah tanggal 28 Okober kita sudah mengucapkan sumpah setia yang berbunyi...



KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA