Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 15 November 2010

Antara Aku dan Majikanku

Dulu saya pernah bekerja pada seorang majikan yang menurut saya begitu kurang perhatiannya pada seorang bawahan. Dengan upah yang bisa dibilang pas-pasan saya mencoba bersabar menghadapi tekanan yang ada saat bekerja. Sebagai bawahan saya selalu mempunyai prinsip untuk mengabdi dan selalu memberikan yang terbaik buat majikan saya, siapapun orangnya. Bagi saya kemajuan usaha majikan saya adalah kebahagiaan saya juga. Sebaliknya jika usaha dari majikan saya mengalami kemunduran, saya juga merasa menjadi bagian yang membuat usaha tersebut mengalami kemunduran.

Namun tak selamanya kebaikan yang coba kita berikan kepada orang lain akan berbalas kebaikan pula kepada kita, karena entah kenapa secara tiba-tiba saya dipecat tanpa alasan yang jelas. Pernah saya dengar selentingan jika saya dicurigai mengambil sesuatu dari tempat kerja saya, tapi saya lebih memilih bersabar karena saya yakin kelak Allah akan memberi ganti pekerjaan yang lebih layak kepada saya.

Alhamdulillah, keyakinan saya akan perlunya rasa bersabar ternyata membuahkan hasil, karena tak seberapa lama saya kembali mendapatkan pekerjaan. Masih tetap sama sebagai satpam dunia maya alias operator warnet, namun kali ini yang membedakan adalah majikan dan kondisi kerja yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saat ini saya mempunyai majikan seorang pria berkebangsaan Mesir yang kebetulan menikah dengan salah seorang warga ditempat saya. Pria yang hampir seumuran dengan saya dan bisa memberikan nuansa tersendiri bagi kehidupan saya. Jurang pemisah antara majikan dan pembantu sepertinya tak pernah saya rasakan, karena dia bisa mengerti bahwa kesuksesan dari usahanya tak bisa lepas dari peranan karyawannya.

Rasa nelongso menjadi seorang bawahan tak pernah saya rasakan, karena majikan saya begitu mudah membuka jalur komunikasi jika ada sesuatu hal yang kurang pada pekerjaan saya. Sang majikan saya juga tidak terlalu pelit memberikan suatu pujian atau bonus jika saya melakukan pekerjaan dengan baik, bahkan saat ini upah yang saya terima bisa dikatakan merupakan upah tertinggi sebagai seorang operator warnet di daerah saya.

Tak pernah saya melihat sosok seorang majikan dari dia, karena yang saya rasakan justru saya menjadi sahabat buatnya. Tak jarang saya bercanda dalam takaran yang menurut saya bukanlah canda antara seorang majikan dan pembantu, tapi sebuah canda seperti halnya saya bercanda dengan teman-teman saya. Di saat sebagian orang masih menganggap hal yang tabu untuk bercanda dengan majikan masing-masing, disini saya malahan saling berbagi rokok dan cubit-cubitan dengan majikan saya. Sebuah suasana yang tentunya membuat kekakuan hubungan majikan dan pembantu menjadi pudar.

para netter, jika saja pengalaman antara saya dan majikan saya bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin tidak ada lagi berita penyiksaan kepada seorang pembantu yang akan kita dengar. Tidak ada lagi berita tentang demo buruh karena menuntut kesejahteraan, karena pada dasarnya majikan dan pembantu saling membutuhkan.
Saya juga membayangkan jika saja para "orang gede" mau untuk sedikit lebih berbaur bersama masyarakat kecil, keadaan negeri kita pastilah akan lebih baik dari sekarang. Bukan hanya saat menjelang pemilihan saja mereka mau turun ke jalan, tapi saat mereka terpilih juga tak segan untuk berbaur dengan masyarakat kecil.. Tapi ono ora yo..?


Selamat Ultah buat Mr. Montaser, seorang majikan sekaligus sahabatku.


Meski anda tak tahu arti dari tulisan ini, tapi inilah kado yang bisa saya berikan buat anda. Saya yakin andapun punya pikiran seperti saya, jika sebuah perbedaan status, bahasa dan bangsa bukanlah penghalang untuk sebuah persahabatan.
Do'akan kelak saya bisa menjadi orang besar seperti anda, agar kita bisa berpetualang bareng menyusuri tepian sungai Nil , menelusuri setiap lorong Pyramid seperti yang sering anda ceritakan di sela-sela obrolan kita.   
شكرا لك يا صديقي