Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 28 November 2010

Jangan Sampai Satwa Hanya Menjadi Sebuah Sketsa

Tiga hari yang lalu adik-adik saya di Wachana membawa oleh-oleh yang lain dari biasanya. Seekor satwa liar yang  selama ini saya cuma bisa tahu namanya adalah garangan.  Esoknya adik-adik saya kembali membawa seekor garangan. Oleh mereka satwa bernama keren Herpestus Javanicus ini sekarang dibuatkan kandang, dan menjadi hiburan tersendiri bagi saya saat bangun dari tidur.

Pada awalnya saya sempat memarahi adik-adik saya, karena memelihara satwa liar tentunya tidak sesuai dengan baju kami sebagai seorang pencinta alam. Ternyata adik-adik saya sekarang sudah bisa mengerti akan siapa mereka dan apa yang harus mereka lakukan. Mereka menjawab jika garangan tersebut hanya sementara mereka pelihara, karena nanti akan mereka lepaskan ke hutan kecil bukit sebelah tempat biasa kami bermain. Mereka berdalih jika tidak secepatnya garangan tersebut diselamatkan dari tangan penduduk yang menangkapnya, pasti nasib garangan tersebut akan berakhir di ujung pisau alias jadi sate garangan.

Alhamdulillah, ternyata adik-adik saya sudah bisa mengerti dari makna dari bandrol Wachana yang saat ini mereka gantungkan di leher mereka. Wadah Pencinta Habitat, Flora dan Fauna sekarang sudah mulai mereka terapkan, yah meskipun satwa yang mereka selamatkan cuma masuk sebagai satwa berstatus Konservasi Risiko Rendah (Least Concern), tapi setidaknya hal ini bisa dijadikan pembelajaran buat kami tentang perlunya bersikap kritis terhadap satwa liar Indonesia.

Kita sering mendengar berita tentang satwa yang tiba-tiba masuk perkampungan, dan seringkali pula kita mendengar jika satwa tersebut berakhir dengan kematian akibat dihakimi massa oleh penduduk (padahal bukan maling loh). Mungkin hal yang biasa jika satwa yang dihakimi massa tersebut cuma seekor garangan, tapi bayangkan jika saja satwa tersebut adalah satwa yang dilindungi dari status kepunahan?.

Adanya satwa yang masuk perkampungan, haruslah kita cermati bahwa keseimbangan alam kita mulai terancam. Kita tidak bisa menyalahkan seekor garangan jika mulai memangsa ayam milik penduduk, karena bisa jadi satwa yang jadi makanan garangan telah habis diburu oleh manusia. Ada baiknya fenomena satwa masuk kampung kita jadikan bahan perenungan jika kondisi bumi kita sedang sakit.

Dulu di daerah saya dihebohkan dengan munculnya seekor banteng di perkampungan, padahal tempat saya bukanlah daerah yang memiliki hutan. Setelah diselidiki ternyata asal banteng tersebut dari daerah perbukitan yang jaraknya kurang lebih 25 kilometer dari tempat saya. Kenapa banteng tersebut bisa nyasar ke kampung saya? jawabannya cukup sederhana karena habitat banteng tersebut sudah mulai rusak akibat pembabatan liar..!.

Jangan pernah berpikir jika seekor satwa semacam garangan tidak akan punah, karena saya yakin dulu Harimau Bali-pun pasti jumlahnya ratusan, tapi sekarang siapa diantara sahabat blogger yang pernah melihatnya dengan mata telanjang?. Coba kita sejenak kembali ke masa kecil kita dulu, saya yakin  pastilah anda bisa membayangkan satwa apa saja yang dulu begitu mudah anda temui, namun saat ini semuanya hanya menjadi kenangan kita saja.

Para netter, sekarang kita tahu kan, harus berbuat apa jika ada satwa liar nyasar ke kampung kita?. Tapi  jangan sampai loh gara-gara tulisan ini, seekor ayam yang nyasar ke pekarangan anda, langsung anda selamatkan masuk ke rumah anda dengan dalih penyelamatan satwa liar ha..ha

Cukup kita saja yang merasakan pedihnya tidak bisa melihat Harimau Bali, karena kelak anak cucu kita juga ingin menyaksikan satwa-satwa yang saat ini masih bisa kita lihat. Tentunya dengan penglihatan  mereka secara langsung, bukan dari sketsa gambar yang telah kita buatkan untuk mereka.

sumber gambar : istockphoto.com