Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 23 November 2010

Menunggu Datangnya Inspektur Vijay

Lagi - lagi para aktor kawakan negeri ini membuat cerita, tapi yang jelas ini bukanlah Cerita Suka - Suka miliknya Kang Erdien loh. Kalau dulu mata kita sudah dimanjakan oleh tontonan berjudul "Penjaraku Surgaku" dengan bintang Artalyta. Kali ini muncul debutan baru dengan lakonnya "Aku Tak Mau Terpenjara". Masih dengan setting penjara dan tentu saja ujung-ujungnya menghasilkan ending yang enggak jelas alias blind ending.

Dulu lewat mata pelajaran PMP  diajarkan jika di negeri ini hukum berlaku buat siapa saja tanpa pandang bulu, tapi kenapa hukum masih berlaku cuma untuk bulu ayam kampung saja? sedangkan bulu burung merak yang jelas - jelas sudah melanggar hukum,  mereka dibiarkan leluasa melakukan kejahatannya?.

Kenapa seorang maling jemuran meski babak belur saat dipaksa mengakui tindak kejahatan amatirnya? Sedangkan sepertinya tak satupun yang berani menghajar seorang koruptor yang menguras uang rakyat. Apa karena bulu merak lebih indah dari bulu ayam kampung?, hingga para penyelenggara hukum di negeri ini merasa eman untuk mencabut bulunya.

Saya cuma bisa mengelus dada saat dulu menyaksikan seorang ibu tua menangis karena diancam dibui oleh oknum aparat gara-gara mengambil ranting-ranting pohon jati. Yah, kalau hanya mengambil ranting  buat kayu bakar saja, sudah dianggap tindakan kejahatan. Lantas kenapa para pembuat kerusakan lingkungan sampai sekarang  masih bisa tertidur pulas dengan barang jarahannya?.

Seakan para pelaku hukum negeri ini kekurangan pekerjaan, sampai hanya karena untuk sebuah semangka dan kakao mereka jadikan sebuah perkara. Rasanya mereka juga sudah kehilangan nalar sehatnya, karena kita tahu orang gila adalah orang yang tak bisa dijerat dengan hukum, tapi kenapa masih saja ada yang nekat menghakimi karena kasus mengambil telepon genggam. Sebuah perkara yang seharusnya cukup untuk dimaafkan bukan untuk diperkarakan.

Tak kurang rasanya sekolah-sekolah di negeri ini yang mengajarkan ilmu hukum kelas tinggi, tapi apakah cuma bisa menciptakan para pembela koruptor?. Orang-orang yang selalu memakai HAM dan sakit sebagai dalih penangguhan  saat kliennya akan diadili. Apakah saat mereka sekolah dulu juga diajarkan "hukum dibuat untuk diembat?".

Yo wes lah, sebagai orang kecil saya cuma bisa mengelus dada saja menyaksikan ulah orang-orang yang katanya ngerti hukum itu. Mending saya diam ketimbang ngawur omong tentang sesuatu yang bukan keahlian saya. Saya juga takut kalau posting saya keliwat ngawur berbicara tentang hukum, nanti akan ada orang-orang yang ngerti hukum akan memperkarakan saya karena tindak pidana "posting pencemaran nama baik".

Mungkin yang harus saya lakukan adalah menunggu dan menunggu akan kehadiran Inspektur Vijay yang akan membawa keadilan. Sebuah sosok pahlawan  di film India yang sanggup memberantas para Takur-takur di negeri ini. Tapi sampai kapan saya harus menunggu?.

Dulur blogger, ada yang tahu enggak ya keberadaan Inspektur Vijay sekarang?


sumber gambar : http://world.casio.com/