Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Rabu, 15 Desember 2010

Ketika Badai Datang

Jember lumayan mencekam semalam. Setelah sejak pagi mendapat kiriman hujan abu dari aktifitas vulkanik Bromo, sekarang giliran serbuan angin kencang yang membuat panik sebagian warga. Meski tidak sampai mengakibatkan korban jiwa, tapi setidaknya ada beberapa rumah tetangga saya yang ambruk akibat tertimpa pohon.

Suasana semakin mencekam, karena aliran listrik tiba-tiba dipadamkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Masyarakat lebih memilih keluar ketimbang menanggung resiko berdiam di dalam rumah. Para pemakai jalanpun mesti hati-hati karena sudut pandang terganggu akibat abu vulkanik bertebaran dihempas angin. Suara gemuruh angin yang kencang membuat ibu-ibu tak henti-hentinya berdo'a agar badai segera berlalu. Bahkan sesekali dari kejauhan saya mendengar teriakan takbir dari para warga.

Kalau berbicara tentang badai, saya jadi teringat tentang pengalaman saat melakukan pendakian menuju puncak Mahameru. Sebuah peristiwa yang tak bisa saya lupakan seumur hidup, karena saat itulah saya menjadi saksi terakhir yang melihat dua pendaki asal Bekasi hilang diantara badai.

Walaupun saya selamat dan dua hari kemudian para pendaki itu juga ditemukan selamat meski cedera patah tulang, tapi semua pengalaman ekstrem tersebut tak akan pernah bisa saya lupakan sampai sekarang.

Rasa ketakutan yang dirasakan warga semalam, mungkin tidaklah seberapa dibandingkan dengan ketakutan yang saya alami saat terjebak badai Mahameru. Panik, cemas, takut, semua baur jadi satu. Serasa jika jarak antara maut dan hidup saya cuma sejengkal saat itu. Pasrah dan berdo'a hanya itulah yang bisa saya lakukan agar badai segera berlalu. Dalam kondisi kritis sayapun teringat dengan keluarga dirumah yang mungkin sudah menanti kedatangan saya. Sempat pula saya berfikir jika tak lama lagi saya tak akan pernah lagi melihat orang-orang yang saya sayangi tersebut. Tapi Alhamdulillah, ternyata Allah masih menghendaki saya menjadi seorang blogger seperti sekarang, karena saya bisa mengendalikan kepanikan dan menemukan jalan keluar dari lautan pasir puncak Semeru dengan selamat.

Dulur blogger, dari pengalaman pribadi tersebut kita bisa lihat bahwa satu-satu satunya penolong manusia saat tertimpa kesusahan hanyalah Tuhan. Kepada siapa lagi kita akan meminta pertolongan jika dihadapkan pada suatu keadaan seperti yang saya alami?. Namun adakalanya manusia hanya akan teringat Tuhan tatkala dia terdesak oleh badai masalah, dan saat badai itu telah reda seringkali kita lupa bahkan enggan bersyukur kepada Tuhan.

Saat masih miskin seringkali manusia berniat untuk beramal kepada sesama jika kelak menjadi kaya, tapi tatkala dia telah kaya justru dia telah lupa dengan niatannya saat miskin dulu. Saat masih dibawah bernadzar akan mengabdi kepada masyarakat jika kelak menjadi serorang pejabat, tapi saat kekuasaan itu telah berada dalam genggaman justru kita manfaatkan untuk menindas yang lemah.

Semoga kita semua bisa lulus menjalani ujian dari Tuhan bukan hanya saat kita berada dalam kondisi kesusahan, tapi saat kondisi bahagiapun kita masih mau menyebut Asma-Nya. Semoga pula kita dijadikan manusia yang tak pernah jumawa dengan semua kekuasaan dan kekayaan yang kita punya.  Kekayaan, kekuasaan dan kepandaian hanyalah keberuntungan sekaligus ujian yang diberikan Sang Khalik buat hambanya, jadi wajiblah kita syukuri dengan jalan mau berbagi dengan siapa saja yang membutuhkannya.