Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 28 Desember 2010

Mr. Optimis

Beberapa hari yang lalu seorang teman lewat chat FB menawarkan sebuah tawaran yang menggiurkan buat saya. Teman yang saya sebut sebagai Mr. Optimis ini menawarkan sebuah pekerjaan dengan gaji 2,5 juta perbulan. Wow, sebuah tawaran yang bisa melelehkan air liur saya.

Anehnya setelah saya tanya pekerjaan apa yang harus dijalani, dia malah mengajak ketemuan langsung dengan saya. Jujur saya curiga dalam hati. "Wah, bisa - bisa jadi kurir ganja nih", begitu pikir saya. Saya desak terus dia untuk menceritakan sedikit saja detail tentang pekerjaan itu, eh ternyata dia malah memberikan jawaban jika pekerjaan tersebut malah berpotensi menghasilkan 2,5 juta perminggunya.

Akhirnya dapat saya ambil simpulkan jika pekerjaan tersebut adalah jenis pekerjaan semacam Multi Level Marketing. Sebuah konsep pekerjaan yang terus terang saja saya kurang begitu tertarik. Akhirnya malam itu dia gagal membawa misinya mempengaruhi saya, meskipun sempat pula meminta nomer hape saya.

Beberapa hari kemudian masih lewat FB dia kembali menanyakan tawarannya tersebut dan masih pula saya kekeh dengan pendirian saya. Akhirnya yang terjadi adalah sebuah adu teori masing-masing lewat chat. Ini beberapa inti dialog saya dengan Mr. Optimis

Awalnya dia mengatakan "sekarang sudah waktunya kita rubah pola pikir kita bos", saya cuma diam mengiyakan.

"Sudah waktunya kita menjadi bos bagi diri kita sendiri", saya masih tidak bergeming menjawab.

"Sudah saatnya pekerjaan kita harus bisa bermanfaat buat orang lain".

Saya menjawab "Saya sudah merasa bermanfaat kok menjadi penjaga warnet".

Mr. Optimis balik nanya "Sampai kapan Bos?".

Saya balik nanya ,"Sampai kapan pula anda bergelut dengan bisnis itu, apa anda yakin bisnis itu akan langgeng?", Dia tak menjawab lama.

Akhirnya malam itu kembali misi Mr. Optimis gagal, tapi sekarang ganti dia yang meninggalkan sebaris nomer hape buat saya.

Esoknya kembali Mr. Optimis datang disaat saya diliputi suasana berkabung karena kekalahan timnas.  Masih dengan pola yang sama menanyakan tawarannya. Saya jawab "Maaf saya kurang beruntung". dan setelah itu dialog saya dengan dia berakhir dengan sebuah pertanyaan "kenapa bro?", sebuah pertanyaan yang tak saya jawab hingga saat ini.

Dari beberapa dialog dengan Mr. Optimis saya tahu jika dia sudah mengambil sedikit kesimpulan lewat pertanyaanya kepada saya.

  • Saya bukan orang yang cerdas karena saya masih berpola pikir kuno.
  • Saya hanyalah orang bawahan pekerjaan saya
  • Pekerjaan saya sebagai penjaga warnet kurang bermanfaat buat orang lain
  • Saya bukan orang berpikiran maju, karena saya suka menjadi penjaga warnet
Awalnya saya biasa saja menanggapi hal itu. Saya maklum karena mungkin Mr. Optimis masih fresh dengan pelatihan dari uplinenya. Tapi setelah saya membaca posting dari blog Om Aldy semalam, saya tertarik dengan sebuah tulisan yang berbunyi..

"Sejelek apapun sebuah tulisan , didalamnya pasti terkandung makna"

Sayapun berpikir..

"Seberapapun sepele pekerjaan kita, jika kita bekerja dengan cinta dan hati pasti pula terkandung makna"

Mr. Optimis saran anda begitu   menggiurkan, tapi sekali lagi maaf anda bernasib sama dengan orang-orang yang dulu mencoba mencuci otak saya. Berakhir dengan kegagalan untuk menghancurkan batu yang ada di dalam tempurung kepala saya. Bahkan tak jarang diantara mereka berbalik curhat tentang kegagalan yang mereka alami dalam menerapkan konsepnya.

Saya pikir materi bukanlah harga mutlak yang harus dicapai oleh seorang pekerja, tapi sebuah makna yang terkandung dalam pekerjaan itu yang harus anda cari. Seorang penjaga warnet mungkin bagi anda adalah pekerjaan masyarakat kelas bawah, tapi bagi saya disini saya bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh anda. Saya memang sebatas kuli dari seorang majikan, tapi apakah anda tidak menyadari jika tak ada satupun manusia di dunia ini yang tak menjadi kuli?.

Di warnet ini sayapun sudah merasa bermanfaat buat orang lain meskipun hanya sebatas mengajari sekumpulan anak-anak kecil tentang apa itu internet. Suatu prestasi bagi saya jika bisa menghalangi anak-anak kecil agar tidak mengakses situs-situs yang enggak layak untuk mereka tonton. Suatu kebahagiaan tersendiri  jika saya  bisa menolong anak-anak kecil ndeso yang saat malam hari jauh bersepeda pancal menuju warnet, hanya karena takut dihukum di sekolahnya gara-gara tak bisa menyelesaikan tugas yang sulit mereka kerjakan. Apakah anda bisa lakukan hal itu juga hai Mr. Optimis?.

Saya sarankan anda membuat sebuah blog untuk mengusung semua teori anda, ketimbang anda sebatas menulis lewat update status FB. Bukankah blog juga berkarya sekaligus bermanfaat, tapi kenapa anda enggan membuat?. Bukankah seharusnya orang yang memiliki latar belakang akademi lebih tinggi seperti anda yang lebih pantas menjadi seorang blogger dibanding saya.  Kenapa malah seorang tukang sapu warnet  yang mewakili jutaan warga kota anda di dunia maya. Kenapa bukan anda?.

Maaf jika saya menjadi gerah dengan teori yang anda kemukakan. Saya anggap anda melakukan kesalahan besar karena mencoba mencuci otak saya, disaat saya sedih dengan kekalahan Timnas kebanggaan saya. Cukup Bung Towel sajalah yang membikin saya jengkel dengan komentatornya. Jangan ditambah dengan teori-teori anda.

Semoga saja kekalahan Timnas kemarin bisa anda jadikan pelajaran, jika sebuah rasa optimis yang berlebihan akan berakibat menjadi sebuah antiklimaks dalam kenyataan. Saya cuma mendoakan semoga saja rasa super optimis itu tidak sampai membunuh semua impian anda di kemudian harinya.

Gud lak Mr. Optimis..!

Image and video hosting by TinyPic

sumber gambar : showmenumbers.com