Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Rabu, 26 Januari 2011

Apa Yang Kamu Lakukan Dasrun...?

Mencoba melanjutkan operan cerita dari Mbak Iyha dan MasBro

Sebuah lika liku kehidupan manusia ala Dasrunisme dalam episode... 


"Apa yang kamu lakukan Dasrun?"


Sepanjang siang hingga sore hari, kondisi Rama semakin memprihatinkan. Dan puncaknya...

"Mas..mas, Rama mas.!", jerit suara Bu Dasrun dari dalam kamar.

Dasrun berlari menuju kamar itu, dia melihat istrinya menangis sambil menggoncang - goncangkan tubuh Rama yang enggan bergerak. Dasrun sadar jika saat itu Rama dalam kondisi kritis. Jadi tak ada jalan keluar lagi selain segera membawa anak semata wayangnya itu menuju rumah sakit terdekat.

Laksana seorang pembalap sepeda yang ingin segera mencapai garis finish. Dasrun pun mengayuh pedal sepedanya membabi buta, membonceng Rama yang berada dalam pelukan istrinya. Dalam pikirannya cuma satu, Yah harus segera tiba di rumah sakit jika masih ingin melihat Rama.

Tanpa pikir panjang Dasrun membelokkan sepedanya ke sebuah rumah sakit. Sambil menggendong Rama, dia menuju ruang UGD sembari diikuti istrinya dari belakang.

"Mbak tolong anak saya", pinta Dasrun kepada seorang perawat yang sedang piket.

Segera petugas itu membawa Rama menuju ruang UGD. "Maaf anda di luar dulu", begitu kata sang perawat kepada Dasrun.

---------------------------

"Gimana keadaan anak saya Dok?", tanya Dasrun kepada seorang dokter yang baru keluar dari ruang UGD.

"Alhamdulillah kondisi kritisnya bisa diatasi Pak". "Untung saja anda segera membawanya kesini, kalau tidak?", jawab dokter tersebut

"Tapi untuk sementara anak bapak harus dirawat disini dulu, karena kondisinya lumayan memprihatinkan".

"Duh Gusti ujian apa lagi ini", keluh Dasrun dalam hati.

"Setelah kemarin gaji pertama dan gitarku amblas. Kini giliran Rama yang hampir saja pergi dariku".

"Uang darimana lagi aku untuk membiayai perawatan Rama"

"Apakah aku juga harus merelakan sepeda pancalku itu pergi demi Rama?, tapi apa cukup?"
, batin Dasrun sambil menatap sepedanya.

-------------------------------------

Sudah lewat tengah malam, tapi mata Dasrun sepertinya enggan berkompromi dengan dunia mimpi. Sesekali dari luar kaca ruang UGD, dia tatap anaknya yang masih terbaring lemah di dalam sana. Terlihat Bu Dasrun tengah tertidur di bangku panjang ruang tunggu UGD. Ya, sekarang hanya tinggal Dasrun seorang yang masih saja bertahan bersama sejuta gejolak di dalam pikirannya. Dia buka jaket yang dikenakannya dan di selimutkan ke tubuh istrinya yang tengah tertidur.

"Maafkan aku Iyha", bisik Dasrun sembari mengusap rambut istrinya.

"Jika saja dulu kamu lebih memilih Dargombes menjadi suamimu"

"Mungkin sekarang kamu sudah menjadi seorang Bu Sekdes, bukan istri dari seorang tukang toilet yang selalu bergelimang kesusahan di ibukota ini"

"Tapi tidak..! kamu dan Rama adalah amanat buatku, jadi apapun yang terjadi aku akan terus memperjuangkan kalian", tekad Dasrun dalam hati.

Dasrun merogoh kantung celananya. 1..2..3 , setengah bungkus Toppas filter hasil barter dengan gitar kesayangannya itu kini cuma tinggal 3 batang. Seolah tak mempedulikan sebuah tulisan MEROKOK MERUGIKAN KESEHATAN..! yang terpampang di depannya. Dia nyalakan lintingan penuh sugesti itu. Perlahan dia hisap asap ketenangan yang ada di dalamnya. Ya, saat ini yang dia butuhkan cuma sedikit ketenangan pikiran untuk bisa menyelesaikan masalah yang dia hadapi.

"Apa aku harus terima tawaran itu?", kernyit Dasrun seperti menemukan sesuatu.

Pikiran Dasrun menerawang pada kejadian 2 hari yang lalu saat dia tengah membersihkan toilet kantor.

"Oh kamu yang namanya Dasrun?"
, sebuah suara menghentikan Dasrun yang tengah membersihkan wastafel kantor.

"Be..benar Bu", jawab Dasrun kepada seorang wanita yang tak lain adalah istri bosnya.

"Aku dengar selentingan di kantor ini jika suamiku ada main dengan sekretarisnya"

"Apa kamu tahu sesuatu tentang kebenaran kabar itu?", tanya wanita itu terkesan bernada sinis dan menekan.

"Ma..maaf bu, saya tidak tahu kabar tersebut", jawab Dasrun gugup.

"Sudah kamu bilang aja kalau tahu enggak perlu takut. Perusahaan ini punya bapakku, jadi aku enggak ingin suamiku yang cuma modal dengkul itu malah main gila disini", imbuh wanita itu nampak emosi.

"Be..betul Bu saya tidak tahu apa - apa", Dasrun makin terdesak.

"Udah kalau kamu tahu apa - apa nanti bilang aja saya, saya akan kasih kamu 10 juta untuk setiap info yang kamu berikan.. paham.!", tambah wanita itu sambil berlalu meninggalkan Dasrun.

Sebenarnya Dasrun tahu akan sesuatu yang dibutuhkan wanita itu. Ya, seringkali dia memergoki si Bos dan sekretarisnya di toilet melakukan perbuatan yang tidak layak. Namun Dasrun cuma bungkam. Menimbun semua aib yang terjadi antara Bos dan sekretarisnya.

"Apa yang kamu lakukan Dasrun?", cuma itu pertanyaan yang saat ini berada dalam alam pikirannya.

Tiba - tiba dia seolah mendengar sebuah suara berbisik di telinga kirinya. Sebuah suara serak dan bernada merayu "Sudah kamu terima aja tawaran itu Dasrun!"

"Jangan siakan kesempatan itu kawan, kamu kan butuh duit cepat buat kesembuhan Rama", bisik suara itu semakin merayu di telinga Dasrun.

"Betul juga ya. Jika aku terima tawaran itu mungkin bukan hanya masalah Rama saja yang akan selesai, tapi gitar kesayanganku pasti juga akan kembali", batin Dasrun meringis.

"Apa yang kamu lakukan Dasrun?", sebuah suara yang bernada lembut dan bijak tiba - tiba muncul di telinga kanan Dasrun.

"Apa cuma karena uang, kamu tega menjual aib orang lain.. hai saudaraku", bisik suara itu perlahan.

"Jangan didengar Dasrun.. kamu kan butuh duit, ambil aja tawaran itu. beres masalahmu", suara di kiri itu kembali membujuk Dasrun.

"Jangan hiraukan Dasrun, apakah kamu sudah putus asa memperjuangkan anak istrimu", suara di kanan menimpali.

"Sudah terima saja Dasrun", teriak suara di kiri makin meninggi.

"Apa yang kamu lakukan Dasrun?", tanya suara di kanan.

TIDAK........!!!

Bu Dasrun tersentak dari tidur mendengar teriakan suaminya.

"Ada apa mas?", tanya Bu Dasrun keheranan.

"Maafkan aku Iyha, aku seolah tak punya harapan lagi untuk menyelesaikan masalah kita ini", Dasrun menjawab perat.

"Sudahlah mas, sampean itu butuh istirahat dulu biar tenang", Bu Dasrun menghibur suaminya.

"Kalau sudah tenang kan sampean bisa berpikir jernih untuk mencari jalan keluar dari masalah ini."

"Sudah sampean tidur aja di sini", Bu Dasrun mengarahkan kepala Dasrun bersandar di pahanya.

"Sabar dan Tawakal itu kunci kita Mas dalam menghadapi masalah ini", Bu Dasrun mencoba menghibur sembari mengelus rambut Dasrun dengan mesra.

Entah sudah berapa petuah bijak yang disampaikan Bu Dasrun untuk membesarkan hati suaminya. Beberapa menit kemudian Dasrun pun tertidur di pangkuan istrinya. Sebuah tidur dari seseorang yang menunggu teka teki kemunculan sinar mentari esok hari.

Apakah sinar kehangatan mentari esok akan memberikan sinar keberuntungan kepada Dasrun?. Yah, hanya Tuhanlah yang berkuasa menolong untuk menjawab sebuah pertanyaan yang saat ini masih mengendap dalam hati Dasrun. Apa Yang Kamu Lakukan Dasrun?.

Bersambung............

Saya hadiahkan kelanjutan cerita ini kepada seorang wanita manis berkacamata bernama Yustha TT, sebagai tanda perkenalan saya.. Mohon diterima ya.

Image and video hosting by TinyPic

sumber gambar : akatelsp.ac.id