Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 10 Januari 2011

Hape

Sore itu disebuah kandang kambing, terlihat pak Dargombes dan istrinya tengah berbincang.

"Bu mungkin besok aku mau jual kambing kita satu",  kata Dargombes sembari memberi makan kambingnya.

"Loh buat apa toh pak?", tanya bu Dargombes mengernyitkan dahi.
"Wong celengan beras kita di gentong isinya masih banyak".
"Ikan aja tinggal ambil di empang sebelah"
"Mau nyambel kita juga enggak perlu dipusingin dengan harga cabe yang sedang melonjak"
"Apa uangnya itu  mau sampean buat kawin lagi?", tanya bu Dargombez cemberut.

"Ah kamu ini ada - ada aja toh Yang, cintaku hanya untuk dikau kok",  jawab Dargombes merayu istrinya.
"Aku pingin beli hape bu, biar enggak kalah ma Pak Lurah".

"Lah untuk opo sih Pak, kita beli sesuatu yang enggak penting bagi kita", bu Dargombes menyahut.

"Ah kalau nuruti kamu, enggak bakalan maju kampung ini"
"Ya dibuat telpon - telponan sama teman - temanku di kota toh", timpal Dargombes kesal
"Masak mesti ngandalin kentongan balai desa terus. emang kita ini doro mesti ditabuhin kalau mau kumpul?"

Sambil masuk rumah bu Dargombes menjawab, "Ah terserah wis pak, sampean emang kalau ada maunya enggak bisa dikalahin oleh siapa aja"
"Poko'e aku enggak ikut - ikut kalau ada apa - apa nantinya loh",  imbuh Bu Dargombes dari dalam rumah.

Malam itu Dargombes sulit untuk memejamkan mata. Membayangkan besok pastilah namanya bakal melonjak drastis di desanya.
"Mulai besok pasti orang - orang pasti akan sungkan manggil aku lagi si Dargombes wedhus"
"Kalau aku punya hape kan kedudukanku sama seperti Pak Lurah atau Haji Marmo juragan apokat yang juga memiliki hape"
"hahaha, lihat aja besok hai orang - orang ndeso", batin Dargombes meringis.

Esok pagi segera Dargombes menyeret salah satu kambingnya, untuk segera di jual kepada Tarno. Tetangga belakang rumahnya yang sekaligus peternak kambing sama seperti dia. Setelah terjadi kesepakatan harga, segera Dargombes menuju ke kota untuk membeli barang yang amat dia idamkan yaitu sebuah hape.

3 Minggu kemudian....

"Bu keliatannya besok aku mau jual lagi hape ini",  kata Dargombes sambil utek - utek hapenya.

"Loh sampean ini piye toh pak?"..
"Kapan hari ngeyel enggak mau dicegah buat beli hape".
"Lah kok  sekarang malah mau dijual lagi?", tanya bu Dargombes keheranan.

"Perkiraanku salah Bu. Ternyata punya hape itu enggak enak",  jawab Dargombes menghela napas panjang.
"Masak tiap tiga hari sekali aku mesti nitip duit sama Bachtiar kalau pas ke kota buat beli pulsa".
"Wah bisa bangkrut aku kalau gini terus",  imbuh Dargombes berat.

"Tapi kan sampean sudah terkenal di desa ini?",  bu Dargombes balik bertanya sinis.

"Ya aku emang sudah terkenal Bu'ne, tapi terkenal enggak waras sama anak - anak kecil di desa ini", Dargombes menyahut jengkel.
"Masak gara - gara rumah kita ada di balik bukit, jadi tiap mau nelpon bisanya cuma di pojokan kuburan atas sana".
"Lah aku malah dianggap orang gila sekarang. omong sendiri di pinggir kuburan oleh anak - anak kecil"
"Kalau enggak di kuburan. Naik pohon rambutan dulu baru jaringannya enak".
"Wis emboh Bu'ne. Poko'e besok aku mau minta antar Bachtiar ke kota buat jual hape ini lagi".
"Kesikso aku kalau ceritane gini"

Esoknya Dargombes kembali minta antar tetangganya si Bachtiar. Dengan berboncengan motor dia bermaksud untuk menjual kembali hapenya ke tempat semula.

"Waduh.. waduh. apes..apes poko'e tumpes wes!", teriak Dargombes saat dia masuk rumah sekembali dari kota.

"Loh sampean ini ada apa toh Pak. kok kayak orang habis ngeliat setan pake teriak - teriak?", tanya Bu Dargombes heran.

"Gimana aku enggak kesel hape yang kemarin aku beli itu, sekarang dijual malah laku separuh dari harga aku beli dulu", jawab Dargombes sambil membuka baju.
"Padahal tempatnya sama, orangnya sama. lah kok  harganya turun enggak karuan gini malahan"

"Lah itu kan sudah jadi keputusannya sampean dulu kan Pak?".
"Jadi sampean harus bisa nrimo apapun yang terjadi", bu Dargombes mencoba mendinginkan suasana.

"Udah wes Bu'ne. Engga usah ceramah lagi, aku ini tambah mumet dengar ceramahmu", Dargombes membela diri.
"Nyesel rasanya aku beli hape itu dulu".
"Lebih ngenes lagi ternyata kambing yang aku jual dulu, kata si Tarno kemarin sedang bunting"
"Wah rugi banyak aku poko'e.", keluh Dargombes.

"Ya udah Pak, semua dijadikan aja pelajaran buat kita", bu Dargombes menyahut sembari menyodorkan secangkir kopi.

Dargombes menjawab sembari meminum kopinya, "Iya bu'ne, aku nyesel kenapa dulu enggak nurut katamu aja ya".
"Tapi kira - kira boleh enggak ya kalau kapan - kapan aku jual pekarangan buat beli motor seperti punya Bachtiar?"

"Beli motor?, TIDAK...!", jawab bu Dargombes mendelik.

 

Hikmah :

  1. Kebahagiaan adakalanya terasa indah saat masih belum ada di dalam genggaman, tapi manakala keinginan itu sudah kita dapatkan rasanya tidak seindah saat kita membayangkannya dulu
  2. Ambisi berlebihan dalam  mengejar nama, gengsi atau status sosial justru akan memberikan kesulitan pada diri kita sendiri
  3. Kecanggihan teknologi haruslah diimbangi dengan pengetahuan yang memakainya.


    Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

    Image and video hosting by TinyPic