Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 21 Januari 2011

Manusia Nokturnal

Sepertinya ada benarnya jika Cak Sugeng menjuluki saya sebagai seorang blogger kalong. Menclok dari blog satu ke blog yang lainnya ketika malam hari. Namun saat siang telah tiba, saya bisa hilang begitu saja.

Lah, mau gimana lagi? Kalau orang sudah terserang penyakit imsonia tingkat tinggi. Disaat sebagian besar dulur blogger sudah berselancar di dunia mimpi, saya malah asik utek - utek sendiri. Walaupun mata dipaksakan untuk bisa disiplin tidur teratur, tapi tetap saja hasilnya nol.

Kadang saya berpikir apa bedanya saya dengan Vampire ya?. Sama - sama alergi matahari. Juga mempunyai hobi yang sama yaitu doyan menghisap. Cuma bedanya vampire menghisap darah, sedangkan saya doyan menghisap sepuntung Toppas.

Pernah saya punya keinginan bisa menjadi Batman. Seorang superhero yang memberantas para penjahat saat jam maling beroperasi. Namun saya berpikir masak sih Batman punya tubuh yang kerempeng seperti saya?

Tapi saya masih bersyukur dengan gaya hidup yang saya jalani saat ini. Yah, setidaknya saat malam hari itulah saya bisa belajar banyak hal dari setiap kehidupan malam yang saya temui.

Seperti biasa tuntutan kerja mengharuskan saya untuk pulang minimal jam 1 dini hari setiap harinya. Dan di saat itulah banyak sekali saya temui bermacam corak kehidupan manusia. Sebuah warna warni kehidupan yang kadangkala bisa memberikan saya renungan saat tiba di rumah.

Saat pulang kerja setiap hari saya temui seorang abang becak yang mengais - ngais rejeki dalam setiap keranjang sampah yang ditemui. Sebuah pekerjaan para kaum marjinal, namun bisa membuka mata kita semua. Yah, seorang pemulung mungkin terlihat kotor penampilannya, tapi setidaknya pekerjaan mereka halal dan bisa mengurangi sampah kita. Ketimbang menjadi seorang koruptor yang berpenampilan bersih, tapi bisa menjadi sebuah sampah bagi masyarakat.

Saat terlambat pulang hingga selesai Subuh, sering pula saya berpapasan dengan pak tani yang berangkat ke sawahnya. Sebuah dedikasi yang sering kita lupakan, padahal tanpa mereka mungkin perut kita tak akan pernah terisi dengan nasi. Di sinilah saya diajarkan untuk menghargai sebuah proses. Sebab terkadang kita malah membuang - buang nasi kita, padahal di situ ada kerja keras dari seorang petani yang harus kita hargai.

Sering pula saya menemukan sekumpulan remaja mabuk atau kebut - kebutan. Anak siapa dan apa yang sebenarnya mereka cari?. Kenapa enggak seharusnya mereka ada dirumah masing - masing, ketimbang selalu memberikan rasa kawatir kepada orang tua mereka?.

Dulur blogger, mungkin itu cuma sekelumit realita yang saya temui saat pulang kerja. Tentunya masih banyak lagi manusia nokturnal yang bisa kita jadikan pelajaran bersama. Para penjaga malam, tukang bakso, wanita malam, gelandangan atau pekerjaan malam lainnya, yang bisa memberikan cerita dan hikmah tersendiri bagi kita.

Oh ya, doakan saya ya jika pulang aman - aman saja, sebab ada satu pekerjaan yang saya tak ingin temui saat pulang yaitu maling. Tapi jika saja hal itu terjadi. Setidaknya memberikan gambaran bagi kita semua, jika negeri kita belumlah makmur. Yah, seandainya para maling gede di negeri ini banyak yang diberantas tuntas, tentu makin banyak pula maling kecil yang akan menghentikan aktifitas.