Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 14 Februari 2011

Periculum In Mora


Kapan hari seorang sahabat memberi saya sebuah lagu berjudul Periculum In Mora. Sebuah lagu yang menceritakan tentang bumi yang suatu saat akan mengalami sebuah krisis. Sebuah kondisi dimana pohon, burung, sungai, ikan sudah menjadi sesuatu yang langka. Sayang sekali saya tidak bisa share lagu tersebut disini, karena Periculum In Mora baru akan diluncurkan ke publik pada bulan Maret nanti.

Periculum In Mora jika diartikan adalah bahaya (mengintai) dalam penundaan. Suatu kondisi dimana pada dasarnya tanpa disadari saat ini ada bahaya yang sedang mengintai kita. Sebuah bahaya yang tidak perlu kita tunda-tunda lagi untuk menanggulanginya secara bersama-sama. Boleh saja jika lagu Periculum In Mora ditunda dulu kemunculan untuk sementara waktu. Tapi untuk sebuah masalah yang berkaitan dengan kelangsungan bumi yang kita diami ini, apakah ada kata untuk menunggu?.

Apa benar pohon, burung, sungai, ikan atau segala sesuatu yang menyangga kehidupan di bumi ini akan menjadi barang yang langka?. Mungkin jawabannya adalah bisa saja semua itu terjadi, jika kita tidak segera mengambil sikap untuk menangani. Tentunya bukan hanya sekedar menyuarakan sikap lewat demo atau slogan kosong belaka, tapi sebuah tindakan, tindakan dan tindakan.


Sebuah tindakan meski kecil tapi nyata yang dilakukan lewat kehidupan kita sehari-harinya.

Jika kembali ke masa kecil kita, tentunya anda punya sebuah bayangan dimana saat ini kita sulit atau tak bisa lagi temukan kondisi seperti dulu. Burung enggan lagi berkicau dengan bebas merdeka, karena takut terdengar telinga para pemburu yang sudah siap dengan senapannya. Tiada lagi sungai yang bisa menggoda kita untuk menceburkan diri ke dalamnya, karena kejernihan airnya sudah tergantikan dengan limbah dan sampah. Udara pagi pun tak sesegar dulu, karena sudah bercampur dengan asap knalpot kendaraan.

Lantas apa yang harus kita lakukan agar bumi yang sedang sakit ini tidak semakin parah. Sekali lagi tentunya dengan tindakan...! bukan hanya sekedar slogan..!!.
  • Gunakanlah pemakaian kendaraan bermotor atau listrik kita secara bijak. Bukankah ada slogan Hemat Energi Hemat Biaya?.  Jadi jika tidak terlalu diperlukan  sebisa mungkin kita jangan menggunakan.
  • Menggalakkan budaya menanam pohon sebagai bagian dari gaya hidup kita, karena pohon adalah pabrik bagi oksigen yang kita hirup sehari-harinya.
  • Tidak memutus rantai makanan kehidupan dengan melakukan perburuan satwa untuk kesenangan atau keuntungan sesaat.
  • Membuang  sampah pada tempatnya dan sebisa mungkin berkreasi dengan mendaur ulang sampah.
  • Menghindari pemakaian produk-produk yang tidak ramah lingkungan.
Sepertinya masih banyak hal selain poin di atas yang perlu kita lakukan. Meski sedikit tapi nyata dan bisa menjadi  obat bagi  bumi kita yang sedang sakit. Pemerintah diharapkan juga untuk lebih serius memperhatikan masalah yang berkaitan dengan kerusakan  lingkungan selain fokus kepada masalah yang berkaitan dengan kerusakan moral para koruptor. Adanya sebuah hukum yang jelas dan nyata dijalankan tanpa pandang bulu kepada para  pelaku pembuat kerusakan lingkungan. Membuat sebuah kurikulum pendidikan yang bukan hanya berpatokan pada standar UNAS, tapi juga memiliki standar sadar lingkungan.

Ada baiknya pemerintah juga mengkaji ulang proyek-proyek eksplorasi tambang kita. Semoga "untuk perkembangan investasi Indonesia" tidak dijadikan dalih untuk mengeruk habis-habisan apa yang ada di dalam perut bumi kita. Sebuah harta karun yang menggoda negara lain untuk terus menggalinya, tapi dibalik itu cuma lubang-lubang menganga yang akhirnya kita dapatkan. Cukup Lapindo saja yang menjadi korban!.

Dulur Blogger, Bumi dan segala isinya diciptakan buat kita sebagai khalifahnya. Bukan berarti kita bebas menghambur-hamburkan apa yang sudah menjadi hak kita. Di depan masih ada generasi yang ingin menikmati apa yang saat ini kita nikmati. Mereka juga ingin menikmati air yang memancarkan kemurniannya dan udara yang masih terasa kesegarannya. Mereka pun ingin menikmati hutan perawan yang masih ada aneka satwa di dalamnya. Bukan hanya sebatas lukisan pemandangan atau sketsa satwa yang kita buat untuk mereka.

Sudah ada jaminan jika dunia suatu saat akan mengalami kiamat. Semoga saja kepunahan itu terjadi karena memang sudah waktunya terjadi, bukan karena ulah tangan manusia. Jadi alangkah baiknya mulai sekarang kita saling menjaga bumi yang kita cintai ini dari kepunahan prematur. Yah, semua merupakan tanggung jawab kita bersama karena kita hidup, makan, bernafas dan mati pun ada di bumi yang sama.

Salam Lestari Indonesia...!

Image and video hosting by TinyPic