Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 18 Maret 2011

Antara Anggrek, Paing dan Jaeman

 
Alkisah di sebuah desa di lembah perbukitan Sukmo Ilang, terjalin sebuah persahabatan antara dua orang anak manusia. Paing, seorang pemuda sederhana. Anak seorang  kusir dokar, bersahabat dengan dara jelita bernama Anggrek, puteri semata wayang dari seorang perangkat desa.

Anggrek, sebuah nama yang begitu pas untuk menggambarkan sosok orangnya. Menawan dan nyaman bagi setiap mata yang memandang. Sebuah keindahan yang membuat setiap kumbang muda desa begitu berhasrat ingin memilikinya. Begitu halnya dengan Jaeman, tuan muda dari keluarga besar Raden Mas Blontang Brotowali. Seorang pengusaha tambang mangan, sekaligus orang nomer satu di desa Sukmo Ilang.

Jaeman, selalu dimanja dan dieman. Yah, itulah sosok pribadi dari putera kesayangan Den Mas Blontang. Terbiasa dengan kehidupan mewah, membuatnya tumbuh menjadi seorang pemuda manja yang selalu terbuai dengan segala macam kemewahan dunia.

Jaeman baru saja menyelesaikan kuliahnya di kota. Sekarang dia kembali pulang ke desa, untuk melanjutkan mengelola perusahaan tambang PT Pinarak Lapentos milik ayahnya. Kehidupan di kota pulalah yang membuat dirinya merasa menjadi sosok kacang yang lupa kulitnya. Tak banyak pemuda desa yang mau bergaul dengannya. Mereka risih sebab Jaeman selalu menganggap jika sebagai orang kuliahan kaya raya, derajatnya lebih tinggi dari semua pemuda yang ada di desa itu.

Hanya Paing satu-satunya pemuda desa yang bisa menjadi teman Jaeman. Meski pada dasarnya pertemanan itu hanyalah semu. Jaeman hanya terpaksa menjadikan Paing sebagai temannya. Sebab dibalik itu Jaeman hanya mencari sebuah pamrih dalam sebuah pertemanan. Jaeman tahu jika Paing begitu dekat dengan Anggrek. Makanya dia menjadikan pertemanan antara dia dengan Paing sebagai kedok agar dirinya dekat pula dengan Anggrek.

Siang itu di pinggiran Kali Kedung Sekilan terlihat Anggrek, Paing dan Jaeman tengah memperbincangkan sesuatu..

"Kang besok pagi Anggrek mau ke kota, tapi enggak ada yang anterin soalnya Bapak lagi ada rapat di balai desa", Anggrek membuka pembicaraan kepada Paing.

"Kata bapak sih sampean yang disuruh anterin Anggrek pakai motor bapak, piye kang?", tanya Anggrek penuh harap.

"Waduh gimana ya Nggrek, bukannya aku enggak bersedia. Bapakku sekarang lagi sakit, jadi aku enggak berani keluar jauh-jauh buat nemanin emak di rumah", jawab Paing berat.

Jaeman yang mendengar perbincangan itu, tiba-tiba saja menyahut, "Bagaimana kalau sama aku aja Nggrek, nanti kita naik mobilku aja biar enggak kepanasan".

Seolah tidak mempedulikan Jaeman, Anggrek kembali bertanya kepada Paing "piye Kang Paing, sampean bersedia kan?".

"Piye yo Nggrek. Gini aja deh nanti aku liat kondisi dulu, kalau bapak sudah penakan Insya Allah aku anterin kamu ke kota ya", jawab Paing

"Tuh kan Nggrek, Paing lagi jagain bapaknya. Kasihan kan dia kalau kamu paksa", celetuk Jaeman sambil melirik sinis ke arah Paing.

"Sama aku aja wis Nggrek. nanti sekalian aku ajak kamu puter-puter keliling kota naik mobilku"

"Sudah wis..! pokoknya besok aku harus ke kota. Masalah siapa yang mau anterin terserah wis. Pokoknya siapa yang paling pagi datang ke rumah, dialah yang berhak anterin aku", sahut suara Anggrek meninggi.

------------------

Pagi hari sekali setelah usai menunaikan kewajiban sebagai seorang Hamba Tuhan, Paing segera beranjak untuk menunjukkan baktinya kepada kedua orang tua. Sebuah rutinitas mencari rumput buat kuda penarik dokar milik ayahnya. 


Sengaja hari itu dia berangkat tak seperti biasanya, karena walaupun kemarin dia tak sepenuhnya menyanggupi permintaan Anggrek. Tapi bagi dia kerut di wajah Anggrek di tepi kali itu, sudah cukup baginya untuk tak menunda lagi permintaan Anggrek. Paing memang sudah menyayangi Anggrek semenjak kecil. Apapun yang Anggrek minta, pastilah Paing selalu mengabulkannya. Paing pun sudah menganggap Anggrek sebagai adik dia sendiri.

Kini perasaan sayang itu berangsur berubah seiring bertambahnya kedewasaan pada dirinya. Yah, Paing tidak bisa membohongi, jika rasa sayang seorang kakak itu telah berubah menjadi rasa sayang yang Paing sendiri tak bisa uraikan dengan kata-kata. Paing sadar jika dia hanyalah anak dari orang tua yang mencari makan dari rumah Anggrek.


Emak Paing hanyalah buruh cuci pakaian keluarga Marmo Margono, bapak Anggrek. Dua ekor kuda dokar bapaknya pun sebenarnya hanyalah pinjaman dari keluarga Anggrek. Sebuah alasan yang cukup bagi Paing untuk mengubur dalam-dalam gejolak asmara terhadap wanita pujaannya. Satu hal yang cuma bisa dia lakukan adalah ngawulo kepada keluarga Marmo Margono, sebagai wujud terima kasih dia atas semua kebaikan yang telah diberikan keluarga Anggrek terhadap dia dan kedua orang tuanya.

"Le nanti setelah nyari rumput, tolong ke rumah Mbok Darmi ya", Kata emak Paing sambil menyalami anaknya yang hendak berangkat merumput.

"Tolong panenkan kelapa di kebunnya. Sekalian nanti antarkan semua kelapanya ke kota pakai dokar, soalnya bapakmu masih panas badannya".

"Inggih Mak..", jawab Paing singkat.

Pupus sudah harapan Paing untuk meluluskan permintaan Anggrek pagi itu. Bagi Paing perintah emaknya adalah sebuah pengabdian yang harus segera dia jalankan. Sebuah permintaan yang nilainya melebihi permintaan siapapun, termasuk permintaan Anggrek sekalipun.

Dengan langkah gontai Paing berjalan sambil memanggul keranjang rumput di bahunya.  Menuju perbukitan Sukmo Ilang. Sebuah perbukitan yang mulai kehilangan warna hijaunya, karena ulah tangan-tangan yang mengatasnamakan tambang untuk kesejahteraan rakyat jelata. Paing tahu jika semenjak orang-orang berdasi terlihat berkunjung ke rumah Pak Lurah, sejak itulah bukit itu mulai dikikis sedikit demi sedikit. Berbondong-bondong pula para pemuda di desanya menjadi pekerja tambang, mengeruk semua harta karun yang ada di perut bukit tanpa memperhitungkan jika ada bahaya yang siap datang menuju desanya.

Aku gak ngerti ada banyak tambang
Yang aku tahu banyak hutan yang hilang
Aku gak perduli banyak nada sumbang
Kita orang ini dianggap terbelakang

Ya itulah sebuah lagu yang membuat  Paing tetap bersemangat dan kokoh pada pendiriannya. Sebuah lagu yang membuatnya masih tetap bertahan menjadi seorang lelaki desa sederhana, yang tak pernah peduli dengan kemilau harta dari hasil tambang. Baginya tanah yang saat ini dia pijak sudahlah lebih dari cukup untuk memberikannya makan, tanpa mengeruk habis-habisan semua isi yang ada di dalamnya.

Perlahan dia mulai memainkan sabit rumputnya, sambil sesekali dia tebarkan beberapa biji-bijian ke setiap tanah kosong yang dia jumpai. Paing berharap biji-bijan itu kelak akan menjadi tunas sebagai ganti pohon  yang telah ditebang. Hanya itu yang Paing bisa lakukan tiap hari, sebagai wujud cintanya terhadap bukit yang telah menjadi tempat bermainnya bersama Anggrek sewaktu kecil.

Setiap sabetan sabit yang paing lakukan, disitulah bayangan ayu Anggrek muncul di sela rerumputan. "Duh Gusti, jika dia memang jodohkan, tolong berikan kemudahan buat langkahku. Namun seandainya takdir berkata lain, biarkan rasa ini terkikis perlahan bersama terkikisnya bukit di atas sana", isak Paing dalam hati.

--------------------

Di dalam kamar terlihat Anggrek tengah bercermin mempersiapkan segala sesuatunya menuju kota. Dalam hati dia sangat berharap Paing lah pria yang nanti akan mengantarnya. Hingga akhirnya...

"Tin..tin..tin", terdengar suara klakson mobil dari luar.

"Ah kenapa harus si Eman itu sih yang datang?", Pikir Anggrek cemberut.

Bergegas dia ke luar kamar dan menuju arah suara klakson mobil tersebut. Nampaklah Jaeman memakai setelan jas hitam dan bersepatu merk Bedigas, berdiri di depan mobil Dainapsu Cobra mewahnya.

"Gimana enggak ada yang ketinggalan kan?", kata Jaeman menyunggingkan senyum kemenangan.

"Enggak ada Kang Eman, ayo berangkat", jawab Anggrek.

"Loh jangan panggil Eman dong, Panggil aja Bang Jay biar keren hehe", sahut Jaeman meringis.

Sambil membanting pintu mobil Anggrek menyahut ketus, "Terserah wis".

Perlahan mobil itu pergi menuruni desa Sukmo Ilang, meninggalkan Paing yang mungkin telah berjibaku di atas pohon kelapa di kebun Mbok Darmi. Di dalam mobil tak banyak terjadi perbincangan diantara mereka. Yah, Jaeman hanyalah seorang lelaki yang terlihat jantan dalam penampilan, padahal hatinya ciut manakala berdekatan dengan wanita secantik Anggrek.

Sepi tiada  percakapan diantara keduanya. Yang ada hanyalah suara radio mobil yang terdengar lirih memecah keheningan diantara mereka berdua. Sebuah lirik lagu mengingatkan Anggrek pada seseorang yang juga menyukai lagu itu.


Aku gak perlu uang ribuan
Yang aku mau uang merah cepe'an
Aku gak butuh kedudukan
Yang penting masih ada lahan 'tuk makan

"Duh Kang Paing, kenapa bukan kamu yang anterin aku sekarang", lamun Anggrek dalam hati.
"Aku enggak nyaman Kang bareng ama Eman, meski naik mobil enggak kepanasan"
"Aku enggak butuh kekayaan yang sering Eman banggakan Kang. Aku cuma butuh kesederhanaan kamu"

"Tapi, kenapa kamu tak datang hari ini Kang Paing..?", Jerit Anggrek dalam hati.

"duor..bleg.bleg", terdengar suara keras memecah lamunan Angrek seketika.

Seketika Jaeman menginjak pedal rem, karena merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan mobilnya.

"Waduh apes ban mobilku mbledhos, mana aku enggak membawa ban cadangan lagi", teriak Jaeman dari luar.

"Lah aku terus piye iki Kang Eman?", teriak Anggrek dari dalam mobil.

"Ya kita nunggu orang lewat aja Nggrek, buat minta bantuan mereka", Jaeman mencari alasan.

"Huh kah, tahu gini aku minta anterin Kang Paing aja, aku dah firasat sebenarnya kalau bareng sampean bisa apes", jawab Anggrek tak mau kalah.

Sejam lamanya mereka menunggu datangnya orang yang lewat di tengah hutan karet itu, namun tak kunjung datang apa yang mereka harapkan. Hingga tiba-tiba nampak di depan sana sebuah dokar hendak melintas di tempat mereka. Semakin dekat nampaklah siapa sebenarnya kusir dari dokar itu. Dialah orang yang sangat mereka kenal. Paing yang saat itu akan menuju ke kota ternyata telah bertemu mereka di hutan karet yang sepi itu.

"Kang Paiiinggg...!!", teriak Anggrek berlari ke arah dokar itu.

"Kang aku numpang ke kota ya, kesel aku sejam lebih rasanya jadi patung di hutan ini"

"Lah terus Kang Eman piye, masak kita tinggal?", tanya Pahing keheranan.

"Biarin aja Kang, lagian sapa yang jaga mobilnya nanti.. Ayo wis Kang berangkat", paksa Anggrek.

Dokar itu berlalu membawa Paing dan Anggrek menuju kota, meninggalkan Jaeman yang terlihat jengkel melihat kenyataan.

"Ternyata naik dokar itu enak yo Kang", kata Anggrek

"Enggak butuh bensin. enggak keluar asap. Terus kalau bannya pecah juga enggak bingung, kan kita bisa naiki kudanya hehe", imbuh Anggrek terlihat ceria.

Paing hanya tersenyum kecil mendengar cerita Anggrek. Dalam hati dia mengucapkan syukur, "Matur Nuwun Gusti untuk semua kebahagiaan yang hamba terima ini"

-----------------------

Jauh dari dokar tempat Paing merajut asmara bersama wanita pujaannya. Di sebuah hutan karet nampak seorang pemuda dengan setelan jas warna hitam. Berjalan meninggalkan sebuah mobil yang enggan bergerak dari tempatnya.

"hadoh..hadoh  Paing. Awas ya pembalasanku", ancam Jaeman dalam hati

"Aku akan minta romo Blontang segera melamar Anggrek. Biar enggak kamu enggak bisa lagi mendekatinya"

"Poko'e awas kamu Paing, liat aja aku putra kesayangan den mas Blontang Brotowali, tuan muda Jaeman Jaedi. kalau enggak keduman, aku pasti akan jadi memedi buat kamu"

bersambung.........

Dulur blogger, bagaimana kelanjutan kisah cinta antara Anggrek, Paing dan Jaeman ini?. Apakah Anggrek menerima lamaran dari Jaeman? Atau malah Paing punya rencana untuk menggagalkan niatan Jaeman? Biar enggak penasaran, monggo segera meluncur ke rumah Apikecil dan Acacicu  untuk mengikuti kisah selanjutnya.


Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.