Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 06 Maret 2011

Biarkan Jerawat Itu...

Dulur blogger bagaimana dengan akhir pekan anda?. Ehm pasti seneng ya, setelah sepekan berjibaku dengan segala aktifitas, sekarang ada kesempatan untuk sedikit mengusir penat, merefresh sekaligus merecharge kembali gairah anda untuk beraktifitas kembali.

 

Nah ceritanya sekarang saya juga sedang menikmati akhir pekan nih. Berlagak layaknya orang kantoran sedang menikmati weekend, padahal pekerjaan saya hanyalah seorang penjaga warnet hehehe. Tapi enggak salah kan kalau saya menyebut diri sebagai orang kantoran juga. Sebab kantor kan sama dengan tempat kerja, jadi warnet adalah tempat kerja saya. Dan saya adalah pegawai kantor alias orang kantoran hehehe (mekso.com).

Seperti biasa hutan masih menjadi tempat paling favorit saya untuk menghilangkan semua kejenuhan. Dan saat ini pilhan saya jatuh pada Bandealit. Sebuah teluk yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Sebuah kawasan yang kapan hari banyak diperbincangkan, karena oleh sebagian orang diyakini sebagai tempat berdiamnya si Kiwil atau manusia kerdil.

Perjalanan terpaksa dilakukan malam hari, sebab saya baru meninggalkan tempat kerja pada jam 5 sore. Dengan bersepeda motor saya dan adik-adik saya mulai masuk di kawasan Taman Nasional Meru Betiri kira-kira jam 8 malam. Menyeramkan karena kami masuk ke dalam salah satu belantara Jawa pada malam hari. Menegangkan karena selain kami harus berjuang untuk menaklukkan jalan berbatu yang juga licin akibat guyuran hujan. Mata kami juga diharuskan waspada, karena seringkali saat malam hari satwa liarpun ikut menggunakan jasa jalan itu sebagai lintasan mereka.

Yah, saya takut jika tiba-tiba saja ada segerombolan Bos Javanicus alias Banteng Jawa yang melakukan arak-arakan malam minggu ala satwa berpapasan dengan kami. Enggak lucu kan kalau semua itu terjadi, sebab bisa jadi posting saya hari ini berjudul "kisah blogger nabrak banteng" hehehe.

Alhamdulillah, jam 10an kami telah sampai di tempat tujuan. Meski melalui perjuangan yang tidak gampang dan sempat bertemu pula dengan seekor banteng solitare dan beberapa satwa liar, akhirnya kerinduan saya untuk menghirup udara dari Paru-Paru Jawa keturutan juga malam itu.

Di sela obrolan minum kopi, adik-adik saya kembali menceritakan tentang pengalaman perjalanan mereka barusan. Sebuah keluhan klasik muncul di sela obrolan mereka, karena mereka merasa jika wajah cantik Bandealit tentunya tak layak memiliki akses jalan yang penuh lobang dan berbatu layaknya bopeng dan jerawat.

 Kalau boleh saya deskripsikan, jalan yang kami lalui memang sangat tidak layak. Lebih parah dari makadam kampung karena tataan batunya sudah keluar sana- sini. Saya yakin jika Valentino Rossi pun bakal ngeluh jika melaluinya. Belum lagi ditambah dengan guyuran air hujan yang membuat kondisi jalan semakin licin dan meninggalkan kolam-kolam kecil di sekitarnya.


Dulur blogger, sebagai pemakai jalan tentunya kita mengharapkan kondisi jalan yang kita lalui mulus tanpa lobang sama sekali. Kadang jalan dijadikan pula sebagai acuan tentang berhasil tidaknya seorang pemimpin daerah dalam membangun daerahnya. Tapi  untuk Meru Betiri apakah anda sepakat jika jalannya harus mulus layaknya tol?. Saya pikir enggak perlu. Lah kenapa tidak?.

Kita tahu jika Meru Betiri adalah kawasan suaka yang melindungi berbagai macam spesies flora dan fauna Indonesia. Kita pun tahu jika manusialah aktor utama yang mengakibatkan rusak atau punahnya spesies di alam ini. Jadi jika permudah akses mereka itu berarti sama halnya kita memberi mereka peluang untuk berbondong-bondong  menuju kawasan suaka tersebut. Nah kalau sudah makin banyak manusia yang mulai turut campur tangan di dalamnya, terus apa yang terjadi?. Tentu saja makin banyak pula tangan-tangan jahil yang nantinya akan menjarah segala sesuatu yang ada dalam kawasan suaka tersebut.

Kita bisa ambil contoh daerah kawasan Puncak yang seharusnya bisa menjadi kawasan resapan air, kini justru berubah menjadi hutan beton berupa villa-villa. Dan akhirnya berakibat dengan makin  parahnya banjir kiriman menuju Ibukota. Tentunya makin banyak lagi daerah-daerah suaka lainnya yang karena kemulusan akses jalannya, makin membuat mulus juga kawasan tersebut menuju kehancuran.

Saya pikir biarkan saja jerawat jalan itu ada di sela-sela eloknya wajah Meru Betiri. Biarkan wajah ayu nan alami itu bisa dinikmati tanpa ada permak kosmetika manusia. Biarkan satwa yang ada di dalamnya bisa bermain bebas lepas, tanpa ada ancaman pemburu yang siap dengan senapannya. Biarkan pula pohon-pohonnya selalu setia memberikan udara segarnya, tanpa ada kecemasan truk-truk illegal loging yang siap mengangkutnya.

Oh ya mungkin ada yang minta oleh-oleh saya dari Meru Betiri?. ehm saya kasih papan nama saja ya. Ambil deh tapi jangan berebut ya hehehe.

Image and video hosting by TinyPic