Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 21 Mei 2011

Di Balik Tembok Pembatas Itu


Selamat malam Vania,

Udah mau bobo' ya sayang? Hem.. mau enggak om ceritain sesuatu sebagai teman pengantar Vania menuju mimpi indah?. Ehm, Vania masih belum kenal om kan?. Perkenalkan om namanya Lozz Akbar, teman dari mama Lyliana. Nanti deh Vania tanya sendiri ma mama, siapa om Lozz Akbar. Pasti mama kenal kok, kan mama Lyli sering dolan ke rumah maya milik om.

Meski kita belum pernah ketemu, Vania boleh kok anggap om Lozz sebagai om sendiri. oh ya Vania panggil om dengan sebutan uncle Lozz aja yach?. Biar keren gitu loh dan kompak sama si Mahes, keponakan Om yang lainnya hehehe.

Uncle yakin beberapa hari ini Vania udah enggak sabar menunggu hari ultah ya. Gimana udah dibelikan baju baru sama mama?. Udah ada rencana jalan-jalan kemana nih buat merayakan hari jadi Vania?. Kalau boleh uncle usul, coba deh nanti Vania minta antar mama jalan-jalan ke kota Wisata Legenda di Cibubur. Vania nanti bisa beli jajanan di Kampoeng China atau Kampoeng Indonesia. Bisa berkeliling menikmati pemandangan rumah-rumah dengan berbagi ciri khas berbagai negara. Vania pun bisa sepuasnya bermain air di Water park El Dorado di kota Legenda. Asyik kan?.

Oh ya kalau nanti Vania sama mama jadi jalan-jalan kesana, Vania juga bisa lihat loh patung-patung yang dulu uncle Lozz buat di situ. Nah pasti Vania penasaran kan?. Oke deh uncle akan ceritain sekarang, tapi boleh enggak uncle minta tolong sebelum memulai cerita?. Tolong bilang sama mama Lyli ya sayang, uncle minta kopi manis yang agak kental, biar nanti uncle enggak ikutan ngantuk pas bercerita hehe.

Waktu itu uncle ikut sama pamannya uncle Lozz yang kebetulan seorang seniman patung. Menjadi seorang kenek alias asisten dari pamannya uncle Lozz. Mencampur olahan pasir dan semen sebagai bahan pembuat patung. Menganyam rangkaian beton dan kawat sebagai rangka pembentuk patung, sekaligus mengecat patung tersebut apabila telah mengering permukaannya. Sebuah pekerjaan kasar sayang, tapi uncle merasa senang. Setidaknya ada sebuah karya sebagai kenang-kenangan yang uncle tinggalkan di sana.

Uncle terkejut tatkala pertama kali datang di tempat kerja uncle. Awalnya uncle sangka jika nantinya uncle akan tidur di sebuah kasur empuk seperti tempat Vania rebahan sekarang. Uncle juga mengira jika nanti di kota pastilah uncle akan menikmati segala kemewahan kota seperti yang uncle lihat di televisi.

Ternyata dugaan uncle meleset jauh. Uncle ternyata hanya tinggal di sebuah rumah pengap dengan penerangan lampu neon 10 watt dan bocor saat hujan tiba. Sebuah rumah adat Sunda tua, yang kata orang-orang di situ pernah menjadi tempat orang bunuh diri. Namun uncle enggak takut kok, kan uncle seorang pencinta alam sayang. Sudah terbiasa dengan gelap dan fasilitas seadanya. Uncle juga enggak takut hantu, tapi uncle juga merasa ngeri jika pas tengah malam kebelet untuk beol, uncle harus menuju sebuah jamban tradisional yang letaknya di tengah rerimbunan pohon bambu.

Uncle merasa heran kenapa di daerah pinggiran Jakarta ini masih ada yang menggunakan jamban tradisional. Padahal Vania tahu kan jika itu bisa menyebarkan aroma tak sedap dan menularkan penyakit buat sekelilingnya. Tapi kenapa orang-orang kota masih memakainya ya Vania?.

Pagi hari uncle harus segera menuju lokasi proyek. Antri mandi, menikmati secangkir kopi dan mengganjal perut dengan dua bungkus roti. Itulah yang biasanya uncle lakukan sebelum menuju ke lokasi kerja.

Saat menuju tempat kerja biasanya uncle melewati sebuah tangga yang dipasang di sebuah tembok yang memisahkan antara kampung dan lokasi perumahan tempat uncle kerja. Saat berada pas di atas tembok pembatas itulah biasanya uncle sering bercanda dengan teman-teman kerja. Uncle sering mengatakan jika uncle saat itu tengah berada di perbatasan antara Indonesia dan luar negeri.

Selamat datang di luar negeri!

Itulah kata-kata yang biasanya uncle teriakkan ketika berada di atas tembok pembatas itu. Di depan mata uncle sekarang telah nampak sebuah perumahan elite. Nampak berjejer rapi rumah-rumah bergaya arsitektur dari berbagai belahan kota di dunia macam Paris, Amsterdam, Tokyo, New York dan banyak lagi. Rumah-rumah yang kadang hanya di tempati sebulan sekali oleh pemiliknya, padahal harga rumah tersebut bernilai ratusan juta bahkan ada yang lebih dari semilyar.

Vania sudah tahu berapa nol dari semilyar?. Hem, uncle juga belum tahu sayang. Uncle cuma tahu jika saat berada di atas tembok pembatas itu. Bukan hanya kemewahan yang bisa uncle tatap. Namun di belakang uncle berdiri, ada juga sebuah pemandangan yang begitu berbeda dari apa yang saat itu uncle liat di depan sana.

Makanya Vania wajib bersyukur karena masih bisa tidur di kasur yang empuk ini. Karena saat Vania tengah asyik terbuai di alam mimpi dengan perut kenyang. Di suatu tempat yang Vania belum ketahui, masih ada saudara-saudara seumuran Vania yang masih sulit memejamkan mata saat tidur karena menahan rasa lapar.

Uncle juga merasa bersyukur meskipun pernah merasakan tidur tak nyaman karena aroma jamban. Setidaknya uncle masih bisa menceritakan kisah uncle ini kepada Vania. Kita masih beruntung sayang karena masih banyak saudara kita yang merasakan kepedihan. Tidur beralas tanah di antara tumpukan sampah. Dan saat perut lapar pun mereka tak tahu harus kemana  hendak mengadu.

Mungkin cukup itu saja yang uncle bisa ceritakan. Uncle cuma nitip jika Vania jadi jalan-jalan ke Kota Wisata. Cobalah lakukan apa yang dulu uncle lakukan. Berdiri di atas tembok pembatas itu. Menatap segala kemewahan yang ada di depan mata, sekaligus menoleh pada sebuah kenyataan yang ada di belakang punggungmu.

Yo wis uncle mau pamit ya. Kopinya dah habis. Mama Lyliana kelihatannya sudah tidur. Jadi no coffee no story hehehe. Selamat Ultah Vania, semoga jika besar nanti Vania tahu jika masih ada sebuah tembok pembatas di antara kita semua. Uncle berdo'a semoga kelak Vania dan teman-teman Vania bisa menjadi generasi yang bisa merobohkan keangkuhan tembok itu. Yach, setidaknya Vania tidak ikut-ikutan menjadi seseorang yang  membuat tembok pembatas itu semakin kokoh dan tinggi menjulang ke angkasa.

Artikel ini diikutsertakan dalam acara “Vania’s May Giveaway”

Image and video hosting by TinyPic

sumber gambar : thewe.cc