Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 02 Mei 2011

Enggak Mesti Di Sekolahan

Sebelumnya saya ucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional buat anda semua, para tenaga pengajar, siswa atau siapapun anda yang mempunyai kepedulian dengan dunia pendidikan di negeri ini.

Nah sekarang saya akan sedikit berbagi sebuah kenangan saat saya di bangku sekolah. Jaman tatkala televisi masih menjadi barang yang langka dalam masyarakat kita. Saat dimana saya seringkali numpang menonton siaran televisi di rumah tetangga depan bareng tetangga-tetangga lain yang belum mempunyai televisi di rumahnya.

Dulu yang namanya stasiun televisi tentunya tidak sebanyak sekarang. Hanya TVRI satu-satunya stasiun yang bisa diakses. Dunia Berita, Kelompencapir, Cerdas Cermat, Siaran Pedesaan sampai Laporan Khusus Sidang Kabinet, mungkin itulah beberapa acara yang mau tidak mau harus kami lihat di sela-sela menunggu acara hiburan macam Aneka Ria Safari, Kameria Ria, Film Cerita Akhir Pekan dan acara hiburan lainnya.

Menarik karena selain bisa nonton televisi bareng tetangga kanan kiri, sayapun secara tidak langsung bisa belajar dari acara-acara TVRI yang mungkin di jaman sekarang dianggap sebagai acara yang kurang menarik. Kala itu sayapun bisa paham sesuatu saat mengamati obrolan atau debat polos para tetangga saat mereka menemukan sesuatu yang baru dari acara televisi yang mereka tonton.

Oh ya ding, Saya kan mau cerita tentang masa sekolah dulu ya?. Lah kok malah mblarah cerita tentang nonggo di waktu kecil sih hehe. Oke wis sekarang saya akan cerita saat dimana Lozz Akbar masih menjadi seorang anak kecil yang kinyis-kinyis hehe.

Dulu saya bersekolah di sebuah SD yang katanya orang-orang di daerah saya di anggap sebagai SD pinggiran. Meski pinggiran saya merasa senang dan bangga pernah bersekolah di SD tersebut. Disinilah saya pernah mengukir sebuah prestasi. Sebuah memori yang mungkin tidak akan pernah saya alami lagi sampai kapanpun.

Di SD pinggiran ini, Alhamdulillah saya selalu menjadi siswa paling pinter di antara siswa yang enggak pinter hehe. Karena status juara kelas abadi itulah akhirnya saya mendapat jatah untuk mewakili SD tersebut mengikuti lomba tahunan cerdas cermat antar SD se-kecamatan. Tanpa target dan hanya sekedar berpartisipasi. Mungkin itulah yang jadi pikiran guru-guru saya, karena jelas mereka sadar jika mutu SD kami tentunya kalah bonafid dengan SD lainnya.

Tanpa diduga ternyata saya menjadi juara dua dalam lomba antar kecamatan tersebut, sekaligus berhak menjadi salah satu wakil dalam lomba mata pelajaran antar SD se-kabupaten. Kebetulan dalam lomba tersebut saya mendapat jatah mengikuti lomba mata pelajaran PMP, IPS dan PSPB.

Alhamdulillah saya lolos melaju ke semifinal meski berada di urutan ke dua dari bawah di antara 9 semifinalis lainnya saat itu. Dan tanpa diduga pula saya bisa mencapai babak grand final mengungguli siswa dari salah satu SD bonafid di kota.

Di babak final itulah akhirnya saya sadar jika pengalaman nonggo nonton televisi di rumah tetangga banyak sekali membantu saya dalam kejuaraan tersebut. Saya merasa mudah menjawab semua pertanyaan dari juri. Bukan karena otak saya encer, tapi saya merasa soal-soal tersebut rasanya pernah saya dapatkan saat menonton acara TVRI. Ya berbagai soal pengetahuan yang sering saya dapatkan ketika mengamati para tetangga saling ngobrol tentang apa yang mereka lihat saat nonton televisi bareng.

Namun sayang saya hanya menjadi juara ke dua dalam lomba tersebut. Beda tipis satu angka dengan juara pertama. Sebuah kekalahan yang sempat menjadi perdebatan antara guru pembimbing saya dan juri kala itu. Ya saya kalah gara-gara tidak bisa membedakan antara "Panglima Sudirman" dan "Jenderal Sudirman".

Saya bersyukur karena setidaknya saat itulah saya bisa memberikan sebuah prestasi bagi kecamatan saya. Saya bangga karena mungkin sayalah satu-satunya siswa di SD saya yang bisa menorehkan sejarah prestasi. Sebuah SD pinggiran yang sekarang telah tiada, tapi mempunyai sejarah telah menyelamatkan muka SD-SD bonafid di kecamatan saya pada ajang lomba tahunan kabupaten.

Dulur blogger, dari pengalaman saya tersebut mungkin bisa kita ambil hikmah jika pada dasarnya lingkungan kita juga sangat berperan memberikan kita pelajaran. Sekali lagi bukan karena otak saya encer, tapi karena kebiasaan nonggo di rumah tetangga itulah yang menjadikan saya bisa meraih juara dua di lomba tersebut. Lewat acara TVRI yang saya lihat. Lewat debat polos dari tetangga yang saya dengar saat mereka nonton TV. Kebiasaan itulah yang membuat saya begitu mudah menjawab soal-soal lomba dibandingkan peserta lain yang mungkin saja telah mempersiapkan lombanya dengan bertumpuk buku dan guru-guru les mereka.

Enggak ada batasan waktu bagi kita jika ingin belajar. Enggak harus ada papan tulis dan guru berseragam di depan jika kita ingin belajar sesuatu. Tapi apapun yang kita temui dalam kehidupan ini, mungkin bisa pula kita jadikan sebagai sarana untuk mengambil sebuah pelajaran.
Image and video hosting by TinyPic