Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 23 Mei 2011

Masih Ada Langit


Kali ini saya akan berbagi sebuah cerita ketika melakukan sebuah pendakian. Saat satpam dunia maya masih kuat-kuatnya menenteng ransel gunung di bahunya. Sebuah catatan perjalanan dari gunung Merapi-Merbabu.

Sehabis Maghrib kami pun mulai melakukan perjalanan menuju puncak Merapi. Namun sayang belum lama rasanya melangkah, tiba-tiba perjalanan kami mendadak terhenti. Semua bermula ketika penyakit lama saya kambuh. Sebuah kebiasaan klasik yang biasanya terjadi akibat kondisi tubuh saya yang mungkin memerlukan adaptasi dengan medan perjalanan. Akhirnya dengan terpaksa perjalanan kami hentikan sementara, hingga menanti kondisi tubuh saya kembali normal.

Istirahat sejenak saat perjalanan, rasanya begitu sangat berharga. Begitu juga halnya saat itu. Tenaga terasa pulih seperti sediakala setelah beberapa jam lamanya saya memejamkan mata. Meski sempat dihampiri sebuah mimpi berbau mistik. Perjalanan harus kami lanjutkan, yaitu menuju puncak Merapi.

Alhamdulillah, setelah beberapa lama kami berjibaku di antara batu-batu gunung yang menuju puncak. Puncak Garuda akhirnya bisa kami belai mesra dengan jemari. Setelah dirasa puas nangkring di atap Jogjakarta, kami pun kembali turun untuk melanjutkan perjalanan kami berikutnya yaitu Merbabu.

Saat melakukan perjalanan turun, kami berpapasan dengan seorang bapak berumur kira-kira 50 tahunan. Seperti layaknya kebanyakan penduduk desa yang ramah, bapak itu pun menyapa kami dengan begitu bersahabat.

"Dari puncak dik?", sapa bapak tersebut hangat.
"Iya pak, nih mau turun terus ke Merbabu", sahut salah satu di antara kami.
"Bapak mau naik?", tanya saya pula sembari menawarkan rokok pada bapak itu.
"Iya dik, kangen nih sudah lama enggak jalan-jalan ke puncak", sahut bapak itu enteng.

Wuih. Jalan-jalan?. begitu pikir saya saat itu. Semalam saja Merapi sudah membuat saya babak belur. Eh si bapak malah menganggap semuanya hanya sebatas jalan-jalan. Lebih hebat lagi setelah saya amati, ternyata bekal bapak tersebut hanyalah sebotol ukuran kecil air mineral. Jauh beda dengan perbekalan kami yang seolah seluruh isi kulkas ingin kami angkut semua selama perjalanan hehe.

Esoknya perjalanan kami lanjutkan menuju Merbabu. Beberapa teman beralasan jika mereka sudah mulai drop mental melihat Merbabu yang masih kokoh berdiri menanti. Hingga akhirnya disepakati cuma saya, seorang teman dari Jember dan seorang pemandu dari Mapala Psikopala UNS yang meneruskan misi kami. Lainnya menanti di base camp desa Selo.

Mendaki Merbabu rasanya berbeda dengan saat semalam di Merapi. Meski jalurnya lebih panjang, tapi jarang kami temui kondisi Merapi yang terus memaksa kami senam jantung dengan tanjakannya. Maghrib hampir tiba, dan kami pun rehat sejenak untuk sedikit melemaskan otot-otot yang mulai menegang. Di sini kami sempat berolok-olok serta menertawakan teman-teman kami yang telah klenger di base camp. Kami pun menganggap jika Merbabu akan begitu mudah untuk ditaklukkan saat itu.

Saat istirahat itulah mata kami disuguhi sebuah pemandangan yang menurut saya cukup membuat kita mengelus dada. Seorang wanita tua berjalan melewati tempat kami beristirahat. Nampak ibu tersebut menggotong sebuah potongan kayu besar, yang saya pikir bobotnya 3 kali lebih berat dari ransel gunung saya. Sempat pula saya berpikir jika saja saya yang membawa beban ibu tersebut. Bukanlah kereta yang saya naiki, tapi sebuah ambulans yang akan mengantarkan saya pulang ke Jember hehe.

Dulur blogger, dari pengalaman tersebut mungkin bisa kita petik sebuah pelajaran hidup. Jika pada dasarnya janganlah kita mempunyai sebuah sikap terlalu membusungkan dada. Jika saja saya sudah merasa hebat telah menaklukkan salah satu gunung teraktif di dunia. Ternyata di sana saya malah ketemu dengan seorang bapak yang menganggap jika Merapi hanyalah tempat dolan. Lebih parah lagi karena di saat saya merasa gagah dibanding teman-teman saya yang di base camp. Eh di Merbabu malah ada seorang nenek yang seakan meruntuhkan mental dan kegagahan saya.

Mungkin ada baiknya jika kita sama-sama telaah kata-kata di bawah ini

Sak duwur duwure gunung, isih duwur dengkul.
Sak duwur duwure dengkul, isih duwur gundul.
Sak duwur duwure gundul, isih duwur kang MAHA LUHUR

Setinggi-tingginya gunung, lebih tinggi kaki kita. Kaki juga lebih rendah dari kepala manusia. Namun sekuasanya seorang manusia, tentu saja tak pernah bisa melebihi kuasa dari Penciptanya. Jadi kenapa kita mesti membusungkan dada? Padahal tanpa Kuasa-Nya kita bukanlah apa-apa?.


Image and video hosting by TinyPic