Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 09 Mei 2011

Sebenarnya Itu Bukan Sampah




Alhamdulillah, meski impian untuk menikmati cokelat Cadburry dari Gaphe urung terlaksana. Namun rasanya saya cukup bahagia hari ini. Tanpa saya sangka tiba-tiba Kakaakin menyatakan jika saya berhak untuk mendapatkan bingkisan cokelat karena menjadi komentator pertama dalam postingnya kemarin. Hem memang Allah Maha Kreatif untuk membuat senang hamba-Nya. Cokelat Cadburry melayang dari hayalan, sekarang sebagai gantinya cokelat made in Samarinda bersiap ada di tangan hehe.
Lebih membahagiakan lagi karena siang tadi ada sebuah pesan singkat yang mengatakan jika adik-adik saya berhasil menjadi juara 1 dalam lomba kreatifitas daur ulang sampah yang digelar oleh Mapala Mahadipa Fakultas Teknik Unej.


Tanpa menafikan arti dari sebuah cokelat yang telah diberi Kakaakin. Bagi saya kabar tersebut ibarat sebuah cokelat yang lebih lezat dari semua cokelat yang ada di dunia ini. membahagiakan karena bagi kami ini merupakan sebuah jawaban jika pada dasarnya apa yang kami lakukan bukanlah sesuatu yang sia-sia.

Banyak tantangan menjadi seorang pencinta alam kampung seperti kami. Apalagi bagi diri saya sebagai anggota yang paling tua sekaligus salah satu pendiri organisasi. Banyak nada sumbang yang mengatakan jika saya hanya bisa mendidik adik-adik saya menjadi seorang pemulung sampah. Tapi ya sudahlah, namanya juga sebuah perjuangan. Tak selamanya apa yang menurut kita baik, bagi orang lain akan dianggap baik pula.

Inti permasalahannya mungkin karena di dalam organisasi kami ada semacam progam kegiatan yang dianggap sebagian orang sebagai kegiatan memulung. Memulung, ya sebuah kegiatan yang kadangkala membuat para pelakunya menjadi seseorang yang termarjinalkan dan dianggap sepele dalam masyarakat kita.

Sebenarnya saya tidak setuju jika ada yang mengatakan apa yang kami lakukan adalah memulung. Menurut saya itu bukan hanya semata memulung, tapi memberdayakan dengan cara berkreasi, memanfaatkan sekaligus menyelamatkan sampah yang kita pungut.

Ketika adik-adik saya memunguti kertas-kertas ujian yang dibuang berserakan di sekolahnya. Itu bukan memulung!, tapi itu memanfaatkan. Sebagai organisasi yang berdiri di kaki sendiri, tak ada satupun lembaga yang mengucurkan dana buat kami. Tiada baliho atau spanduk sponsor yang mewarnai setiap kegiatan kami. Dari sampah yang kita pungut dan kumpulkan itulah kami masih bisa bernafas untuk memberikan sedikit sumbangsih kami kepada bumi pertiwi.

Saat ada pesta perayaan ulang tahun di pencinta alam lain, seringkali adik-adik saya pulang terlambat karena masih disibukkan memunguti sampah perayaan. Itu bukan memulung!, tapi itu menyelamatkan. Sebab sudah sepatutnya kami sebagai seorang pencinta alam bisa memberikan contoh kepada pencinta alam lainnya, jika bukanlah seberapa banyak gunung yang harus ditaklukkan oleh seorang pencinta alam, tapi seberapa banyak sampah yang sudah dia selamatkan.

Ketika adik-adik saya berjalan menyusuri jalan sembari menenteng tas kresek sebagai wadah sampah yang mereka pungut. Sekali lagi itu bukan memulung!, tapi mereka sedang berkarya. Karena setidaknya mereka sudah memberikan bukti jika masih ada sekelompok orang yang mau berbuat di tengah kondisi para pemuda kita yang sudah mati suri untuk berkarya.

Semoga tulisan ini bisa semakin memotivasi adik-adik saya untuk terus berkarya. Tentunya bukan sebuah karya yang hanya semata mengejar sebuah piala, tapi sebuah karya yang didasari tanggung jawab mereka sebagai seorang pencinta alam.

Sekali lagi, sebenarnya itu bukan sampah, tapi adalah sesuatu. Ya sesuatu yang telah menjadi perekat persaudaraan kami sekaligus semangat untuk berkarya bersama di dalam satu atap bernama Wachana. Setidaknya karena sampah itu pula mereka kelak punya sebuah nostalgia yang bisa mereka ceritakan buat anak-anaknya.

Image and video hosting by TinyPic