Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 02 Juli 2011

Sudahkah Anda Ngopi Hari Ini?

Ketemu lagi dengan malam minggu. Malam yang oleh sebagian orang dianggap sebagai malam panjang. Malam yang pas bagi para karyawan untuk sejenak me-recharge tenaga sekaligus me-refresh jalan pikiran yang penat oleh aktifitas sepekan.

Bagi yang sudah berkeluarga mungkin saja sekarang sedang asyik bercanda bareng anak istri tercinta. Mungkin pula sang ayah bersemangat mengajak anak istri jalan jalan keluar rumah. Maklum sekarang tanggal muda. Waktunya untuk sedikit melonggarkan  kantong celana. Sekedar menikmati sedikit hasil jerih payah selama sebulan bekerja. Sekalian pula melunasi hutang kepada si kecil. Yah, sebuah hutang yang mungkin saja di tanggal tua kemarin hanya bisa dibayar dengan kata-kata.

Ada pula yang sejak sore tadi cengar cengir sendiri. Pasang aksi di depan cermin bak model iklan. Parfum udah di sebar ke sekujur badan. Rambut sudah disisir rapi dan nampak basah oleh minyak orang aring yang baru saja di beli. Motor pun tak ketinggalan, sudah di sulap nampak mengkilat dan siap untuk melesat. Mau kemana? Ya, tentu saja ke rumah pujaan tercinta. Wajib lapor ke rumah doi, sekaligus mencoba mempraktekkan kata-kata puitis yang kapan hari dia lihat di layar kaca.

Lantas bagaimana malam minggu si satpam dunia maya?. Ah ternyata masih stagnan seperti sedia kala, tiada yang terlalu istimewa. Padahal anak-anak muda di luaran sana menganggap jika malam ini adalah malam yang penuh cinta. Tapi kenapa rasanya biasa saja ya?.

Benar apa yang dikatakan mbak Erry kemarin, jika "Jomblo Itu pedih, Jenderal". Malam minggu terasa menyiksa bagi seorang lelaki yang hampir kadaluwarsa tanpa si dia hahaha. Mau protes kepada siapa?, jika sudah seperti ini lakon ceritanya. Yang bisa dilakukan hanyalah ridho menerima, tapi tetap berusaha dan berdoa. Sebuah perjuangan mencari cinta, agar bukan hanya warnet saja yang menjadi tempat piket, tapi secepatnya diri ini pun ada kegiatan wajib  lapor ke rumah seorang calon mertua hehe.

Mencoba untuk membuang kebosanan dengan mencari angin segar di luaran. Ternyata makin membuat suasana hati terasa mengerikan. Melihat ramai lalu lalang pasangan muda mudi berboncengan sedang beraksi. Duh..kah sungguh sebuah kondisi semakin terasa mrekes ati. Bukan iri, tapi justru membuat diri larut dalam sebuah ilusi. Andai diriku adalah pasangan itu, mungkin?... ah sudahlah, kenapa hati terasa pilu, padahal dulu aku sudah puas dengan semua itu?. Bukankah seorang pencinta alam sudah terbiasa dengan suasana kesepian?. Jadi kenapa aku harus bingung hanya karena sebuah embel embel seorang pasangan untuk malam mingguan?.

Yang kubutuhkan saat ini adalah sebuah inovasi pengusir sepi. Secangkir kopi nikmat untuk mengusir penat. Ya sebuah warung kopi yang bisa memberikan sebuah ketenangan dari sebuah kejemuan yang rasanya kurang begitu layak untuk dijadikan beban.

Di warung itu aku bisa berkumpul bersama orang-orang seperjuangan. Orang-orang yang mungkin masih belum waktunya menemukan apa yang mereka impikan. Mungkin saja mereka justru memiliki problematika kehidupan yang lebih pelik dari diriku. Namun kulihat mereka lebih santai dalam menyikapi kehidupan. Sesantai saat mereka mengangkat secangkir kopi, dan meneguk pahit manis isi di dalamnya.

Kulihat sekumpulan anak muda nampak pula nongkrong di situ. Lengkap dengan sepeda motornya yan nampak diparkir tersusun rapi di pinggiran trotoar. Kucoba memasang telinga, mencuri sekaligus merekam tentang yang mereka bicarakan. Black nyungsep, razia polisi, taruhan, revans..... Duh Gusti, kenapa mereka menunjukkan eksistensi kehidupan lewat sebuah balapan liar jalanan?  Apa mereka tidak mengerti, jika kredit hidup mereka cuma sekali. Bukanlah seperti permainan balapan motor di video game, yang saat  sewanya habis kita bisa memasukkan koin agar permainan berlanjut kembali.

Selanjutnya muncul beberapa lelaki paruh baya duduk di dekatku. Lagi-lagi telingaku nakal mencuri obrolan hangat mereka. Keluaran Hongkong, Singapura, luput dua angka... oalaah.. ternyata para bapak ini adalah pemburu rejeki instan via angka-angka keberuntugan tah. Sepertinya para bapak ini belum paham deh kata bang Rhoma, jika judi itu meracuni keimanan. Guru ngaji juga kan sudah memberi tahu pak, jika judi adalah permainan setan. Sekumpulan setan yang mencuri catatan di  langit, lantas membawa ke bumi disertai bumbu kebohongan. Tapi biarlah pak, minimal anda masih mempunyai harapan dan berusaha meskipun keliru. Setidaknya anda sudah berjiwa sosial dengan memberi nafkah anak istri bandar togel. Saya juga salut bapak cuma merugikan diri sendiri, bukan mencuri punya orang lain. Bapak juga enggak sama seperti orang-orang pintar di atas, yang mungkin saja sekarang sedang mengadakan rapat jamuan kopi hangat. Yah, rapat membahas tentang uang rakyat mana lagi yang hendak disikat.

Cukup sudah pelajaran dari warung kopi malam ini. Saya bersyukur Sang Maha Kreatif bisa memberikan pelajaran bagi saya lewat secangkir kopi. Kesimpulannya satpam dunia maya tak ingin seperti pembalap liar, tapi haruslah bisa menghargai dan menyayangi kehidupan yang telah dikaruniakan Tuhan. Satpam dunia maya tak ingin menjadi para bapak pencinta rejeki instan lewat angka keberuntungan. Satpa dunia maya haruslah bekerja, meski dikit asal halal. Karena dengan bekerja kita akan bisa lebih menghargai sebuah proses dari apa yang kita kerjakan.

Satpam dunia maya juga tidak mau menjadi orang-orang pintar yang suka meminta paksa  uang rakyat. Satpam dunia maya ingin lebih banyak lagi memberi, memberi dan memberi, karena dengan banyak memberi itulah kita bisa menjadi seorang kaya sejati. Dulur blogger, bagaimana dengan anda?. Dapat pelajaran apa dari kopi hari ini?. Atau... jangan-jangan anda masih belum nyruput kopi hari in..?



Note : Artikel ini saya persembahkan buat adik yang saya temukan di dunia maya, Zey Yoshito aka Brigadir Kopi. Matur nuwun dulur untuk award dan template cantiknya. Semoga  jalinan persaudaran kita bisa terus semakin hangat, sehangat kopi Capucinno yang nikmat. Andai saja sang Khalik tak mentakdirkan kita bisa saling bertatap muka, semoga pula di manapun kita berada bisa saling untuk mengenang manis, layaknya menikmati sebuah  secangkir kopi item yang terasa manis.