Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 16 Agustus 2011

Kalau Cuma Gitu, Vania Juga Kuat Puasa.

Alhamdulillah sudah separuh perjalanan kita di bulan Ramadhan ini. Bagaimana dengan puasa anda semua?. Masih tetap on fire kan hingga penghujung bulan nanti?. Bagaimana pula dengan suasana Ramadhan di tempat anda semua. Apa barisan shaf di masjid anda semakin hari semakin maju ke depan, karena sudah banyak orang yang memilih makmuman di pusat perbelanjaan?. Yah, semoga saja kita semua masih diberi keteguhan untuk melaksanakan ibadah puasa ini secara khusyuk hingga lebaran nanti.

Secara fisik bagi saya puasa adalah sesuatu yang enteng untuk dikerjakan. Bahkan jika saja puasa tersebut dilakukan setahun penuh, Insya Allah saya akan tetap kuat menjalankannya (secara fisik loh). Bukan berarti saya sombong atau merasa sebagai orang yang tahan lapar dan haus. Namun pola hiduplah yang membuat saya bisa berkata demikian.

Sebagai manusia nokturnal tentu saja saya memiliki gaya hidup yang sedikit berbeda dari orang kebanyakan. Di saat sebagian orang menjadikan mentari pagi sebagai start awal menjalani rutinitas hariannya. Saya malah terbuai ke alam mimpi dan asyik mengukir gugusan nusantara di atas bantal tidur.  Siang saya jadikan waktu beristirahat, sebaliknya malam hari saatnya untuk mencari rejeki. Sebuah pola hidup yang hampir sama dengan pola hidup superhero bernama Batman.

Aktifitas di tempat kerja memaksa saya pulang minimal jam 1 dini hari saban harinya. Sebagai penderita insomnia stadium tinggi saya pun mendapat kesulitan memejamkan mata saat tiba di rumah. Apalagi sekarang ada Nona Lappy yang membuat saya begitu betah melek di saat jam tidur. Ngeblog, BW, mulung dollar, ngegame dan utek-utek internet, itulah yang saya lakukan saat menanti sahur tiba.

Setelah Subuhan barulah mata saya bisa diajak untuk kompromi menuju alam mimpi. Bangun biasanya jam 1 siang. Setelah Dhuhuran, jika dirasa masih mengantuk saya pun melanjutkan tidur hingga selesai Ashar. Barulah setelah Ashar saya pun bersiap kembali menjalankan tugas saya sebagai seorang satpam dunia maya. Yah, itulah gaya hidup ala blogger kalong. Sebuah pola berpuasa ala satpam dunia maya, yang saya pikir bocah sekecil Vania pun akan mampu menjalankannya haha.





Kita tahu ada saling silang pendapat tentang tidurnya orang yang berpuasa. Di satu sisi ada yang menganggap jika tidurnya orang berpuasa itu berpahala. Namun ada pula yang mengatakan tidak, sebab bagaimana akan mendapat sebuah pahala, wong kita tidak melakukan apa-apa?. Sebuah perbedaan yang saya rasa wajar, karena masing-masing punya dalil yang mereka jadikan patokan. Saya rasa semuanya benar, enggak ada yang salah. Menurut saya yang salah adalah orang yang mampu dan tiada halangan untuk berpuasa, tapi tak mau menjalankannya.

Mungkin saya lebih memilih ngiler di atas bantal tidur daripada saya keluar rumah dan menggeber motor dengan maksud untuk menunggu maghrib tiba. Saya tak ingin puasa rohani saya menjadi kurang sempurna gara-gara melihat penampakan di jalanan. Sebab di saat lebaran hampir tiba, itu berarti akan banyak pula gadis-gadis yang pulang dari rantaunya. Para gadis berambut merah yang menjadikan jalanan sebagai ajang catwalk dengan mode yang mereka dapatkan saat di kota. Sebuah pemandangan yang jujur saja bagi seorang lelaki normal seperti saya akan membuat ngiler dan membuat puasa rohani akan berbuka sebelum waktunya.

Saya pun lebih memilih berdiam diri di dalam kamar, ketimbang nongkrong bareng orang-orang diluar yang berpotensi akan menghasilkan sebuah obrolan ngrasani. Sebuah kegiatan yang begitu mengasyikkan, tapi akan menjadikan hanya rasa lapar dan hauslah yang akan didapat dari puasa yang kita jalankan.

Puasa adalah sebuah urusan antara seorang hamba dan Tuhannya. Ibarat sebuah sekolah saat ini kita sedang melaksanakan sebuah ujian di sekolah. Dan rapornya baru diketahui saat nanti kredit usia kita sudah lunas di dunia. Semua tergantung diri kita saat menjalani ujian tersebut. Niat dan keikhlasan, saya rasa itulah yang akan menentukan baik buruknya rapor kita masing-masing. Jadi kurang bijak rasanya, jika kita terlalu berdebat perihal dosa dan pahala. Sebab Sang Maha Pemberi Ganjaran-lah yang nantinya akan memberi nilai atas perbuatan kita.

Dulur blogger, mumpung kita masih ada di bulan Ramadhan. Mumpung kita masih berada di separuh perjalanannya. Ada baiknya kita kita kaji kembali semua kegiatan yang kita lakukan di bulan suci ini. Monggo kita luruskan kembali nawaitu puasa kita. Kita tahu di bulan suci ini berbondong-bondong manusia begitu antusiasnya berlomba melakukan kebaikan. Namun adakalanya kegiatan mereka memicu sebuah kontroversi, seperti halnya berbagi takjil di jalan, bersedekah/berzakat besar-besaran dan Sahur On the Road yang beberapa hari lalu memakan korban jiwa. Apakah mereka salah?. Saya rasa, Wallahualam. Hanya Sang Khalik yang tahu kadar niat dan keikhlasan dari masing-masing seorang hamba. Yah, hanya keikhlasan dan niat luruslah yang nantinya akan mendntukan hitam merahnya rapor yang akan kita terima.

Note : buat mbak Lyliana Thia, maaf saya pinjam Vania jadi modelnya. salahe sendiri sih anaknya cantik hehe