Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 04 Agustus 2011

Karena Aku Penerus Perjuangan Itu



Jika saja bukan karena sebuah amanat, mungkin tak kan kupilih jalan hidup seperti ini. Menj`dikan jalanan sebagai tempat mencari makan. Mengumpulkan kepingan recehan tuk bertahan menjalani kehidupan.

"Aku tahu jalan hidup ini penuh dengan kesusahan nak. Namun aku berharap kau mau meneruskan perjuangan bapak

Ya, karena amanat dari bapak kujadikan musisi jalanan sebagai pilihan hidup. Sebuah wasiat dari almarhum pejuang kemerdekaan. Pak Darjo, itulah nama bapakku. Seorang patriot yang mengabdikan seluruh hidup untuk negeri yang dia cintai. Menjadi seorang musisi jalanan untuk melepas lelah setelah sekian lama berjuang merebut kemerdekaan. Memilih gitar kecil tua sebagai pengganti bambu runcing yang dulu digenggamnya. Mengobarkan semangat kemerdekaan untuk siapa saja lewat lagu-lagu keroncong perjuangan yang selalu beliau dendangkan.

Aku tahu banyak mata memandang rendah kepadaku. Sebagian dari mereka pun mencoba meminggirkan orang-orang sepertiku. Apakah mereka tidak sadar jika aku hanyalah seorang pengamen berkaki pincang?. Apa mereka tidak tahu, jika ku tak semata mengharap sekeping recehan ada dalam genggaman. Tapi ada sebuah pesan dari bapak yang ingin kusampaikan lewat laguku. Tapi biarlah, kurasa mereka tak tahu untuk apa kulakukan semua ini. Cukuplah hanya aku, bapak dan Gusti pencipta diriku yang jadi teman pelipur laraku.

Sungguh rasanya aku mengelus dada. Manakala bukan sekeping recehan yang aku terima, tapi sebuah hardikan, makian dan cacian yang justru aku dapatkan. Ingin rasanya aku berteriak...

"Hai para penduduk negeri.. tak tahukah kamu, jika udara kebebasan yang saat ini kamu hirup, itu karena jerih payah bapakku?"

"Hai orang-orang pintar.. tak sadarkah dirimu,  jika tangisan bapakkulah  yang menebus bermacam gelar yang saat ini kau sandang?"

"Hai orang-orang berdasi.. tak paham jugakah dirimu, jika rintih lapar bapakku pula yang membuat perutmu semakin kenyang?'.

Tidak saudaraku, sekali lagi ku tak terlalu mengharap sebuah keping recehan yang sudi kamu lemparkan. Aku cuma ingin kau mendengar lagu yang kudendangkan. Aku cuma ingin kau merenungkan pesan-pesan dari bapakku.

Aku  yakin di atas sana bapak tak akan mau anaknya mengungkit apa yang telah dilakukan bapaknya.  Aku tahu bapak adalah seorang patriotik sejati yang begitu mencintai negeri ini. Seorang lelaki hebat yang merelakan tangis, lapar, dahaga bahkan tetesan darah untuk negeri yang dia cinta. Aku pun yakin bapak juga rela namanya dilupakan oleh jaman. Rela meski tiada satu pun prasasti yang mengukir namanya. Bapak ikhlas  kendati tak satu pun dinding sekolah yang memajang gambarnya. Ya itulah bapakku, Muhammad Sudarjo. Seorang pahlawan yang selalu ada di hatiku.

Hari ini tepat 17 Agustus, di sini di lapangan yang penuh sesak manusia yang khidmat memperingati perjuanganmu. Ijinkan untuk sekali ini saja bapak, aku tak menjalankan wasiatmu. Biarkan hari ini aku tak mendendangkan lagu perjuanganmu. Biarkan kali ini perutku menahan lapar seperti apa yang dulu kamu rasakan. Bapak, biarkan dari balik pagar istana ini, aku turut memberi rasa hormat pada sang gagah yang berkibar di pucuk tiang itu. Sang Dwi Warna yang selalu jadi kebanggaanku, karena di situ ada perjuanganmu.

Jangan khawatir bapak, apa pun yang terjadi akan kulanjutkan perjuanganmu. Akan terus kudendangkan lagu-lagu perjuangan itu. Akan terus kusampaikan pesanmu, kemana pun aku melangkah. Meski aku tahu tak semua orang mau mendengarkan pesanmu. Tapi aku tak peduli  bapak, karena aku mencintai negeri ini sepertinya halnya dirimu mencintainya. Aku pun bertekad  sampai kapan pun akan kudendangkan lagumu, akan terus kusampaikan pesanmu, karena akulah penerus perjuangan itu.

Image and video hosting by TinyPic 


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.


Sponsored By :