Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 07 Agustus 2011

Mau Lari Kemana Kamu?


Malam itu satpam dunia maya dibuat uring-uringan gara-gara warnetnya tersandung kasus curander. Kasus pencurian pengutilan sepele yang sering dialami warnet-warnet manapun. Yah, hanya sebuah card reader yang dikutil. Sebuah barang yang nominalnya tak seberapa. Namun cukup membuat si satpam geregetan, karena barang kecil itu sangatlah diperlukan ketika si satpam menjalankan tugasnya.

Satpam pun merasa tak enak hati dengan majikan besar, karena untuk kesekian kali warnetnya mengalami kebobolan. Satpam juga tak ingin juragan besar menganggap si satpam menjadi teledor karena terlalu asyik bersyalala di dunia maya.

Esok harinya kebetulan si satpam giliran piket di pagi hari. Tanpa disangka komplotan pengutil amatir tersebut muncul kembali di tempat kerjanya. Namun sayang orang yang paling dicurigai sebagai tersangka oleh si satpam  tidak muncul bersama mereka. Satpam dunia maya cuma diam saat melihat mereka. Hanya menatap tajam mereka satu persatu, yang membuat mereka nampak begitu gelisah di depan komputernya. Satpam tak mau melakukan anarki seperti halnya waktu dulu warnetnya kemasukan pencuri. Dia pun tak memilih jalur kekerasan, layaknya saat dia berbaku hantam dengan preman kampung yang membuat onar di tempat kerjanya.

Si satpam kemudian berbincang dengan bang Gondrong yang kebetulan ngenet tepat di depannya.

"Semalam card reader diambil lagi bang", kata satpam.

"Ah, orang-orang itu sepertinya sudah biasa Lozz. Kapan hari di warnet temanku headphone malah yang dikutil. Emang buat apa sih orang-orang itu?. Kayak kurang kerjaan aja.", sahut bang Gondrong sambil ber-poker ria.

"Entahlah bang. Mungkin klepto mereka"

"Tapi saya tahu kok bang, siapa yang mengambilnya semalam. Pokoknya card reader itu gak dikembalikan, akan saya kitik-kitik anak itu sampai pingsan", jawab satpam tinggi.

"Hahaha, kamu bisa aja Lozz. Enggak sekalian aja kamu hisap ubun-ubunnya hahaha", bang Gondrong menyahut sambil ngakak terpingkal.

Itulah dialog antara satpam dunia maya dan bang gondrong. Sebuah dialog yang sengaja volume suaranya dikeraskan oleh si satpam. Dengan tujuan agar didengar pula oleh komplotan pengutil amatir yang kebetulan muncul di warnet tersebut.

Esok harinya nampak seorang ABG menghampiri satpam dunia maya. Nampak pula si ABG mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan dia sodorkan kepada si satpam yang sedang bertugas di meja kantornya.

"Maaf mas kapan hari card readernya keselip terbawa saya. Maaf ya Mas", kata ABG itu pucat.

"Oh enggak apa-apa dik. Matur nuwun ya", jawab satpam dunia maya pelan.

ABG itu pun segera berlalu dan hingga detik ini tak pernah nampak kembali di kantor satpam dunia maya.

****************

Dulur blogger, terlepas dari sengaja atau tidak sengaja card reader tersebut dibawa oleh si ABG. Saya rasa dia patut diacungi jempol, karena mempunyai sebuah keberanian untuk mengembalikan sesuatu yang bukan menjadi haknya. Mungkin pula ada sebuah pertentangan batin di dalam hati si ABG, jika ancaman satpam dunia maya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan ancaman Penciptanya. Yah, si ABG tak pernah takut oleh sebuah hukuman kitik-kitik, tapi mungkin dia akan merasa ngeri jika dia akhirat kelak dia akan di-edel-edel akibat perbuatannya.

Betapa ironis jika dibandingkan dengan kondisi yang terjadi di negeri ini. Di saat si ABG telah memberikan sebuah pelajaran, jika keberanian dan kejantanan mengakui sebuah kesalahan sangatlah diperlukan dalam kehidupan. Ternyata di ujung sana justru para orang-orang berdasi menyuguhkan sebuah pemandangan yang tak pantas untuk disebut sebagai seorang pemimpin.

Saling otot-ototan mencari kebenaran untuk diri sendiri. Cakot mencakot teman untuk mengalihkan perhatian. Dan lucunya disaat ada sebuah titik terang jika masalah tersebut memunculkan seorang tersangka. Ujung-ujungnya justru si tersangka malah melanglang buana. Sebuah dagelan politik yang jika saja disinetronkan, mungkin rating dan panjang ceritanya akan mengalahkan sinetron "Tersanjung" di televisi.

Mungkin ada benarnya jika Tony Q menjuluki negeri ini sebagai negeri para pesulap. Negerinya tukang rekayasa angka nol. Negeri yang hukumnya dipenuhi para pelaku berpenyakit panuan. Yah, sebuah penyakit sepele tapi manjur untuk dijadikan surat dokter saat menghindari sidang.

Kita doakan saja para pemimpin di negeri ini bisa sadar dan mau bertobat. Sebab apa yang saat ini dia emban bukanlah semata amanat yang dipertanggung jawabkan kepada rakyat, tapi juga kepada Pemilik Akhirat.

Semoga mereka mau mengembalikan duit rakyat yang telah mereka embat. Sebab untuk apa mereka bersusah payah menumpuk harta dengan begitu hebat, jika kekayaannya itu tak satu pun yang sanggup menyuap para intelejen akhirat?. Semoga pula para buronan negara yang mungkin saat ini tertidur pulas di kasur empuknya mau kembali pulang dan dengan jantan berani mengakui kesalahan. Sebab bagaimana mereka bisa tertidur nyaman dan merasa aman lepas dari hukuman di dunia, padahal kelak ada sebuah mahkamah maha adil bernama pengadilan Tuhan?


Image and video hosting by TinyPic