Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 10 September 2011

Antara Tanah Abang dan Pasar Senen


Tak biasanya laju bus Kopaja berjalan sekencang ini. padahal sekarang sudah sore hari. Waktunya para pencari rejeki pulang ke rumahnya kembali. Pak sopir terlihat santai memainkan lingkar kemudi di tangannya. Tak sedikitpun gurat kegelisahan nampak di wajahnya. Gelisah karena tak ingin uang setoran buat si bos menjadi bertambah. Gara-gara body bus yang dikendarainya menjadi ringsek, karena berebut jalan dengan pengguna lain yang ingin terhindar dari macet.

Jakarta lengang hari ini. Ibukota telah ditinggal oleh warga urbannya. Megapolitan sekarang tak ubahnya seperti kuburan. Sunyi sepi nyaris tak berpenghuni. Menyisakan hutan-hutan pencakar langit yang masih pongah berdiri seperti kemarin. Seakan tak pernah peduli dengan apa yang ada di bawahnya. Padahal di situ banyak cerita yang harusnya dia dengarkan. Banyak perut-perut kelaparan. Banyak pula bandit-bandit jalan berkeliaran.

Sekarang sudah memasuki hari ke dua lebaran. Mungkin para warga urban itu sudah kembali ke kampung halaman. Saling melepas rindu bersama sanak dan handai taulan. Berkumpul dengan teman lama dan berbagi pengalaman saat menjadi pengejar mimpi di ibukota. Tak lupa pula memamerkan perubahan yang dia dapatkan saat di perantauan. Yang dulunya berteman mesra dengan lumpur di sawah. Sekarang sudah berubah menjadi pemuja barang-barang mewah. Cangkul, sabit dan kerbau mulai dilupakan. Berganti dengan hape, laptop dan mobil yang begitu menawan. Dandanan pun harus mengikuti perkembangan jaman. Kerudung mulai ditanggalkan, berganti dengan pakaian yang memamerkan indahnya lekuk tubuh seorang perempuan. Itulah Jakarta, sebuah kota yang sanggup merubah seseorang dalam sekejap mata.

Namun tak semua pengalaman yang mereka ceritakan berakhir dengan sebuah kesuksesan. Banyak pula diantara mereka yang pulang dengan tangan hampa. Tiada kebanggaan, tiada pula segenggam berlian yang bisa dijadikan modal untuk melanjutkan hidup di kampung halaman. Seperti halnya aku di sini yang hanya bisa merenungi arti dari sebuah kegagalan. Cuma bisa meratapi semua kebodohan yang aku lakukan.

Ya, betapa bodohnya aku saat ini. Di saat semua warga urban itu tengah merayakan arti dari sebuah hari kemenangan. Ternyata di sini aku hanya bisa menjadi seorang pecundang. Harus bisa menerima kekalahan, jika upah jerih payahku tak akan pernah kunjung datang.

Tak seharusnya aku berada di kota yang lengang ini. Harusnya aku berada di kota kecil itu. Meresapi kalam-kalam Ilahi dikumandangkan di musholla kampungku. Mencium punggung tangan nan lembut dari seorang ibu. Menikmati opor ketupat yang biasa beliau buat. Tapi apa yang aku lakukan di sini?. Telah kulewatkan semua kebahagiaan itu. Semua itu telah pergi. Semua telah sirna bersama impian yang dulu kubawa saat pertama kali menapak kaki di ibukota.

Kurasa inilah sebuah kehidupan. Tak selamanya alur kehidupan kita akan selalu berjalan indah. Ada resah dan juga masalah yang harus kita kecap, tapi perlu kita renungkan agar bisa memperoleh sebuah hikmah. Dari sisi materi mungkin tiada lagi yang bisa kuharap dari kota ini. Tapi setidaknya sekarang aku sudah mendapat jawaban tentang pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Sebuah jawaban yang kudapat lewat cerita dari seorang wanita yang seharusnya kupanggil ibu, jika dari kota inilah layar kehidupanku pertama kali digelar.

Tapi biarlah, bagiku itu hanyalah bagian dari masa lalu. Jakarta sudah tak menarik lagi buatku. Tiada lagi gubuk kenangan yang tempo hari ibuku ceritakan. Gubuk itu telah hilang berganti dengan sebuah taman. Batavia tak lagi ramah bagiku. Tak seperti saat dulu senyumnya mampu menenangkan tangis pertamaku di dunia ini. Betawi rasanya sudah tak bisa pula menahanku untuk berlama di sini. Jadi apa pun yang terjadi aku harus pergi dari sini.

Ya aku harus segera pulang kembali ke kota kecil itu. Meski kutahu kota itu tak semegah dirimu. Tapi di situ banyak sekali impian-impian yang saat ini aku lupakan. Aku tahu di sana tiada pernah ada satu pun wanita yang pernah melahirkanku lewat rahimnya. Tapi bagiku dialah sebenar-benarnya ibuku. Dialah yang pertama kali menangis saat mendengar di kota ini aku meringis karena rasa kelaparan. Dialah yang selalu memberikan sebuah kehangatan kasih sayang meski aku sering berbuat kesalahan. Ya aku rindu dengan kota kecil itu. Aku rindu dengan keluarga itu.

Maaf Jakartaku jika sekarang aku melupakanmu. Rasanya kulitku tak terbiasa dibilas dengan airmu yang penuh pekat kaporit. Tak terbiasa pula isi paru-paruku menampung udaramu yang bercampur dengan asap-asap sedan mewahmu. Jangan kawatir sayang, kuyakin masih banyak pengejar impian lain yang mau memahatkan karyanya di sini. Bukanlah seorang kuli bangunan sepertiku yang tak kuasa menahan kerasnya kehidupan di kotamu.

Terima kasih pak sopir karena kau tlah mengantarku di stasiun Senen ini. Dari stasiun inilah dulu pernah kutambatkan impian dan harapan. Dan dari sini pula mungkin harus kutanggalkan semua impian-impian itu. Terima kasih pula karena setidaknya kau tlah memberiku kesempatan untuk mengucap selamat tinggal pada kota ini tanpa harus berdesakan di antara penumpang.

Aku harus segera pulang. Aku harus kembali ke kota kecil itu untuk berkarya dan melanjutkan semua mimpi-mimpiku di sana. Dan jika saja kelak aku ditakdirkan untuk kembali ke kota ini. Mungkin aku tak mau kembali menjadi seorang pemimpi di sini, tapi menjadi seorang lelaki yang sudah menggenggam semua impian-impian di tangannya.

Image and video hosting by TinyPic


sumber gambar : http://akumassa.org