Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 04 September 2011

Apa Cukup Hanya Ramadhan?.


Idul Fitri sudah lewat beberapa hari, tapi perbincangan tentang lebaran dua versi masih saja terjadi di sana-sini. Ada seorang ibu yang mengeluh karena jerih payahnya di dapur  berantakan gara-gara lebarannya diundur. Seorang remaja merasa tak terima, karena acara bareng si dia menjadi tertunda.

Di satu sisi saya merasa trenyuh dengan kondisi tersebut. Lebaran yang harusnya diwarnai satu semangat untuk merayakan sebuah kemenangan, namun kini terasa berbeda karena adanya sebuah perbedaan waktu saat merayakan. Jujur saya tidak begitu tertarik untuk terlibat pro kontra lebaran dua versi. Bagi saya perbedaan adalah sebuah rahmat yang harus disyukuri atau dicarikan sebuah solusi jika ternyata dirasa bisa dicarikan jalan yang terbaik. Bukan malah sebaliknya diperuncing dengan sebuah opini-opini pribadi, apalagi opini tersebut muncul dari sebuah pendapat tanpa ilmu.

Media televisi sepertinya juga tak mau ketinggalan mengangkat fenomena lebaran dua versi. Saling menyalahkan dan mengklaim diri benar. Pemerintah dituding tak becus merangkul ormas-ormas terkait. MUI dianggap pula tak tegas dengan masalah umat. Bahkan lebih parah lagi, kalangan masyarakat akar rumput pun ikut andil bicara. Memberikan opini tanpa dasar ilmu versi mereka. Tapi yo wis lah, saya rasa inilah resiko hidup di udara reformasi. Semua berhak dan bebas beropini dengan pendapat masing-masing. Saya pun bersyukur alhamdulillah, karena setidaknya pro kontra lebaran dua versi kali ini bisa sedikit meredam gempuran pertanyaan tentang status anak dan istri saat saya melakukan safari lebaran haha.

Saya pikir semua mempunyai dalil dan patokan yang dipakai untuk menentukan kapan mereka merayakan lebaran. Namun jika saja ada yang ngotot mencari siapa yang salah, saya rasa yang salah adalah yang sudah merayakan lebaran sebulan kemarin alias mampu berpuasa tapi tak mau menjalankannya.

Kita sama berharap semoga ke depan pemerintah dan pihak-pihak yang terkait bisa menemukan sebuah solusi terbaik agar perbedaan lebaran tidak terjadi kembali. Kalau pun masih ada semoga juga tidak terlampau dibesarkan, bahkan sampai mengeluarkan pendapat jika ini adalah perpecahan umat.

Semoga saja kita tidak memaknai lebaran sebagai ajang menang-menangan. Namun jika saja ada yang masih ngeyel, mungkin ada baiknya kita mengkaji kembali apa yang sudah kita perjuangkan selama sebulan kemarin. Ramadhan kemarin adalah momentum bagi kita untuk menempa akhlak dan rohani ke arah yang lebih baik. Ibarat seorang pencinta alam, Ramadhan adalah sebuah diklat penempaan jiwa dan mental mereka sebagi seorang pencinta alam. Yang hasilnya diharapkan akan diaplikasikan dalam kehidupan mereka saat bermasyarakat.

Ramadhan adalah bulan diklat rohani kita, dan hasilnya akan kita aplikasikan ke sebelas bulan ke depan. Jadi pertanyaan sekarang, apakah benar kita telah menjadi seorang pemenang?. 


Image and video hosting by TinyPic