Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 17 September 2011

Menjauh Bukan Berarti Musuh


Ada kejadian menarik saat kemarin sore saya melakukan patroli rutin di Warung Blogger. Sebuah kisruh kecil terjadi oleh sebuah ulah seorang pengunjung yang dianggap memberikan sebuah rasa ketidaknyamanan pengunjung warung lainnya. Kejadian tersebut bermula dari sebuah aksi nitip dagangan berlebihan dari salah satu pengunjung warung.

Awalnya saya mentolerir aksi teman yang melakukan aksi flood tersebut, karena saya menganggap mungkin si teman masih belum tahu tentang WB sebenarnya. WB adalah milik bersama meski pada awalnya saya yang menciptakannya. Saya tidak pernah merasa sebagai pemilik tunggalnya, jadi dalam masalah ini saya ingin kebijakan tentang ulah teman tersebut juga diputuskan bersama. Saat itu saya menanti respon dari pengunjung warung lainnya, sebab sebagai salah satu admin saya pun tak ingin sembrono mengambil sebuah keputusan.

Tak seberapa lama nampak mbak Iyha, Melly Margeraye, Erwin Aziz dan beberapa pengunjung lain melakukan aksi protes mereka kepada si teman tersebut. Tanpa saya sadari tiba-tiba pula beberapa blogger mengajukan curhatnya tentang keberadaan teman tersebut di WB. Mereka mengeluhkan jika si teman juga sering melakukan flood di inbox FB dengan tujuan agar memaksa mengunjungi blog dan forum bebas yang dia bikin. Segera saya hubungi si teman lewat FB tentang keluhan pengunjung lain karena obralan dagangannya. Si teman cuma menjawab jika itu otomatis terkirim lewat FB. Ehm..satpam dunia maya kok arep diapusi, begitu pikir saya dalam hati saat itu.

WB semakin panas karena si teman malah menambah dagangan linknya. Bahkan dia pun berpendapat jika tiada guna sebuah forum jika kita tidak bebas mengemukakan pendapat di situ. Iseng-iseng saya menelusuri blog dan forum teman tersebut. Kesimpulan pribadi saya mengatakan jika si teman tidak akan cocok dengan karakter blogging dengan pengunjung WB kebanyakan. Hati saya mengatakan jika si teman harus saya KICK demi kenyamanan warung. Alhamdulillah banyak blogger yang online saat itu lewat chat. Seratus persen pendapat dari mereka menyatakan jika si teman harus segera di kick dari WB. Jadi yo wis, dengan terpaksa atas nama ketentraman dan ketertiban WB sebuah tendangan satpam dunia maya saya luncurkan untuk mengakhiri jurus flood dari si teman.

Lain halnya cerita dari teman di WB. Beberapa hari belakangan beberapa blogger dibuat uring-uringan oleh  aksi dari oknum blogger. Seorang oknum blogger bisnis online yang mencoba memaksakan menggelar lapaknya seperti halnya si teman di WB. Saya kira wajar jika oknum blogger tersebut cuma sekedar menitipkan link lewat sebuah komen jadul "nice info gan, saya tunggu kunjungan baliknya". Tapi jika oknum tersebut memaksakan idealismenya dengan komentar pedas di blog orang, saya rasa itu sudah keterlaluan.

Saya pikir pasti ada rasa mangkel jika blog kita diperlakukan seperti itu oleh seorang oknum. Namun jika kita mau perhatikan sebenarnya itu adalah trik-trik kuno agar mendapat sebuah perhatian. Seorang oknum mengeluarkan komen kontroversi pada sebuah blog, tujuannya hanya satu yaitu sensasi untuk sebuah perhatian. Ya sebuah sensasi agar mereka diperhatikan. Agar kita penasaran dan berkunjung balik ke blognya. Membuang energi sia-sia rasanya jika kita terlalu mempedulikan mereka. Atau bahkan membicarakan mereka lewat posting tersendiri di blog kita. Apalagi jika kita dengan terang-terang memuat link yang mengarah ke blognya. Jelas itu sebuah keuntungan bagi dia, karena secara tidak langsung kita telah memberikan backlink gratisan dan blog dia akan nangkring nyaman di anak tangga Google. Bukankah sudah menjadi hukum alam jika sesuatu yang biasa akan menjadi luar biasa jika kita terlalu membicarakannya?.

Itulah beberapa hal gesekan yang kerap kita temui di ranah blogspher ini. Perbedaan idealisme dalam ngeblog seringkali menjadi pemicu timbulnya gesekan itu. Apakah salah dengan perbedaan itu?. Saya rasa tidak, semua tergantung bagaimana kita menyikapi dan saling menghormati semua perbedaan tersebut.

Di awal-awal ngeblog satu hal yang saya lakukan adalah mengamati berbagai aliran dan idealisme blogging yang ada di ranah blogspher ini. Tujuannya agar saya mendapatkan sebuah pakem yang jelas tentang arah blog saya ke depan. Akhirnya saya mendapat kesimpulan pakem saya adalah blog santai dengan konten enteng layaknya blog yang dimiliki emak-emak.

Jujur saya kurang begitu tertarik dengan blog motivator ala bisnis online, karena keterbatasan saya dalam berpikir secara bombastis. Saya juga kurang tertarik dengan blog monetize, SEO, karena saat ini saya tak terlalu peduli dengan Alexa, PR dan segala jenisnya. Saya pun tak akan betah berlama di sebuah blog  puisi dengan sastra tinggi, karena radar otak saya tak bisa menangkap dengan sempurna sinyal-sinyal sebuah karya sastra. Tapi tetap, saya menghormati mereka semua, sebab bisa jadi kelak saya pun akan membutuhkan artikel-artikel mereka.

Yang saya lakukan adalah berusaha agar pakem idealisme ngeblog saya tetap berjalan pada relnya. Berhubungan dengan dulur-dulur blogger yang saya anggap seidealis dengan saya. Sedikit menjaga jarak dengan blog-blog yang saya rasa bukan sealiran. Menjauh tapi saya tak menganggap mereka musuh. Harus ada sebuah zona yang saya ciptakan agar pakem saya tidak berantakan dan sebaliknya saya pun tak ingin merusak pakem idealisme ngeblog orang lain. Coba saja anda bayangkan jika tiba-tiba saja saya komen cengengesan di blog orang serius, jelas saya akan digampar habis-habisan di situ.

Menurut saya ranah blogsphere tak ubahnya ibarat perumahan besar dengan berbagai macam karakter penghuninya.  Sebagai salah satu warganya tentu saja kita diharapkan agar menjaga keharmonisan perumahan itu. Tak mungkin kiranya kita meloncat pagar tetangga dengan seenaknya. Ada bel di situ yang harus kita pencet. Ada pintu yang harus kita ketuk. Mungkin pula kita memerlukan uluk salam jika ingin masuk ke dalamnya. Jika ada makanan cobalah nikmati dengan sepenuh hati. Jika ada yang tak cocok dengan makanan tersebut, cobalah untuk memberikan sebuah saran yang tak sampai menyinggung empunya rumah. Kita pun tak bisa memutar musik idealisme kita kencang-kencang, karena mungkin ada tetangga yang tak berkenan dengan kencangnya suara musik kita. Harus ada kesadaran pribadi, jika sebuah idealisme pribadi kita tak bisa dipaksakan masuk ke dalam semua batok kepala orang lain.

Jika saja kesadaran itu kita punyai, insya Allah tak akan terjadi lagi kejadian-kejadian seperti yang saya tulis di atas. Seorang blogger bisnis online afiliasi mungkin hanya akan menemukan resep masakan sambal terasi jika dia masuk di blog emak-emak. Blogger emak-emak pun tak akan mencari info data harga sembako pada sebuah blog SEO. Jadi apa yang harus kita ributkan. Apa yang sebenarnya oknum-oknum itu cari?.

Memang benar kita telah bebas dari pasung demokrasi. Kebebasan mengemukakan pendapat sudah kita genggam. Tapi bukan berarti kita harus bebas berpendapat dan berekspresi seenak udelnya. Kejujuran dan bebas merdeka harus kita punyai saat menulis. Tapi kita juga harus sadar jika ada hak asasi orang lain yang wajib kita hormati.

Jujur bukan berarti kita bebas mengumbar lisan tentang apa yang ada di kepala kita. Kita masih punya hati, masih ada nurani sebagai penimbang semua tindakan kita.  Bebas bukan berarti kita harus mengeluarkan tulisan dan komen-komen yang pedas. Sebab selamanya Indonesia ada berada di timur.! Bangsa yang terkenal ramah tamah dan menyikapi semua perbedaan dengan tepo sliro.

Dulur blogger, Mari kita semua saling belajar dewasa demi kejayaan blogger Indonesia di dunia maya. Saling menjaga dan menghormati zona idealisme kita masing-masing. Jika ada perbedaan sikapilah dengan bijaksana dengan semangat persaudaraan. Jangan nodai karya kita dengan cacian, umpatan atau hujatan. Sebab seorang blogger sejati tentunya tak akan kebingungan memilih kosakata yang baik saat menyuarakan idealismenya. Maju terus blogger Indonesia.!