Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 24 September 2011

Sebutir Beras


Sedang asyik-asyiknya ber-kojom ria di YM, tiba-tiba saja juragan besar menghampiri saya.
"Akbar, can you go to walimah?", kata juragan besar kepada saya. Huh..kah enggak essip banget sih juragan ini. Masak satpam dunia maya disuruh kondangan?. Apa enggak tahu ya kalau sekarang si satpam lagi tebar pesona di dunia maya?.

Tapi sudahlah, yang namanya bawahan saya harus nurut perintah dari juragan, meski pun permintaannya aneh-aneh. Sepanjang permintaan tersebut tidak melanggar undang-undang ketenagakerjaan internasional, yo wis saya turuti saja perintah dari lelaki dari negeri Fir'aun ini.

Untuk mengurangi rasa sebel karena niatan untuk berkojom ria di YM terpending oleh ulah juragan besar. Saya pun mengajukan sebuah syarat kepada juragan besar. "Smoking First.!", Ya itu syarat yang harus dipenuhi juragan agar saya segera berangkat ke acara kondangan dia. Nampak juragan besar mengeluarkan selembar ceban sebagai ganti  rugi karena telah mengganggu keasyikan si satpam. Tanpa babibu lagi segera saya angkat kaki dari meja kantor. Pergi meninggalkan juragan besar sambil tersenyum manis. Semanis senyum Sultan Baddarudin yang ada dalam lembaran ceban yang sudah saya genggam.

"Selamat melototin monitor ya gan. Sekarang ente yang gantiin ane jadi satpam dunia maya. Ane tinggal sedal sedul di luar dulu ya. Hati-hati jangan ada yang hilang loh pas saya balik lagi hehe"

Tiada sesuatu yang istimewa saat yang menghadiri kondangan tersebut. Cuma saat itu kondangan tersebut dihadiri dengan banyak sekali undangan. Maklum sohibul hajat adalah salah satu orang yang terpandang di daerah saya. Yang paling saya ingat saat itu adalah radar penciuman saya selalu menangkap aroma asap daging kambing terbakar begitu pekat. "wow makan sate kelihatannya. Perbaikan gizi nih ceritanya". Itu saja yang ada dalam pikiran saya saat itu hehe.

Alhamdulillah tiba juga sesi acara puncak yang saya tunggu-tunggu di kondangan itu. Tanpa menunggu lama akhirnya seporsi nasi gulai plus sate kambing nampak di depan saya dan siap untuk saya hajar habis-habisan.

Ada yang menarik perhatian saya pada saat sesi acara makan tersebut. Dari ratusan undangan yang ikut makan di kondangan tersebut, saya lihat diantara mereka kebanyakan meninggalkan sisa makanan di piringnya masing-masing. Ada yang seperempat, separuh bahkan ada pula yang cuma memakan satenya dan meninggalkan nasinya begitu saja. Saya heran kenapa orang-orang ini begitu mudahnya menyia-nyiakan sebuah nasi?. Padahal di satu sisi banyak saudara kita banyak mengalami kesusahan gara-gara perutnya ingin terisi dengan sepiring nasi. Bahkan kita pun pernah melihat sebuah tragedi memilukan. Saat sekumpulan ibu-ibu harus meregang nyawa gara-gara antri berebut beras.

Dalam acara diklat anggota baru di pencinta alam, seringkali saya menghukum habis-habisan para peserta manakala saya melihat banyak nasi berceceran saat mereka makan. Bukan berarti saya mengajarkan kekerasan, tapi saya ingin adik-adik saya kelak menjadi seseorang yang bisa menghargai hasil jerih payah orang lain. Kendati hanya sebutir beras, setidaknya mereka sadar jika di situ ada sebuah kerja keras. Meski hanya segepal nasi, tapi di situ ada sebuah karya petani yang harus kita beri sebuah apresiasi tinggi.

Dulur blogger, saya mempunyai pengalaman bekerja di sebuah penggilingan padi. Menjadi seorang buruh kasar yang tugasnya menjemur padi yang disiapkan menuju penggilingan. Sebuah pengalaman singkat, karena saya tak bertahan lama bekerja di sana. Bukan karena saya gengsi atau malu menjadi seorang buruh kasar, tapi jujur saya tidak kuat menjalani pekerjaan tersebut. Di bawah terik matahari yang kering kerontang saya harus membolak-balik padi agar mendapatkan kadar air yang diinginkan untuk siap dimasukkan ke penggilingan. Panas, gatal di sekujur badan dan keterbatasan stamina lah yang mengharuskan saya cuma bertahan dua minggu di pekerjaan tersebut.

Saya rasa saat itu saya hanya menjalankan sepersekian kecil dari tugas seorang petani. Padahal kita tahu untuk sesuap nasi yang biasa kita makan, disitu banyak sekali tahap-tahap yang dilalui seorang petani. Ada banyak proses yang harusnya kita perhatikan. Menanam bibit, mengairi sawah, mencangkul, membajak, menjaganya dari hama, antri pupuk dan mungkin masih banyak lagi kerja keras mereka yang saat ini tidak pernah kita sadari. Jadi sungguh rasanya kita mengelus dada manakala jerih payah mereka justru  kita siakan dengan membuang-buang nasi yang harusnya kita makan.

Hari ini bertepatan dengan Hari Tani Nasional. Semoga saja para pahlawan pangan kita senantiasa diberi kekuatan dan kemudahan dalam berkarya. Semoga pemerintah tak latah untuk jor-joran mengimpor beras, karena jelas akan membuat harga padi petani kita turun begitu deras. Membangun sarana irigasi, disamping sibuk mengurusi isu korupsi.  Semoga pula pupuk tak menghilang dari peredaran seperti halnya kasus-kasus orang gede yang semudah itu menghilang dari ingatan.

Selamat Hari Tani Nasioanal..!. Matur nuwun dulur atas semua karyamu. Terima kasih karena lewat kerja keras kalianlah perutku selalu terisi nasi. Mungkin hanya lewat sebuah tulisan yang bisa kuberikan sebagai wujud terima kasihku. Tapi setidaknya aku akan mencoba untuk selalu menghabiskan nasi yang aku makan, sebagai ungkapan penghargaanku untuk pengabadian yang telah kalain berikan kepada bangsa ini
Maju terus petani Indonesia..!