Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 12 September 2011

Teman Bicara


Foto di atas diambil kira-kira akhir November tahun kemarin di sebuah acara pernikahan seorang sahabat saya. Sebut saja namanya Dimas atau biasa akrab saya panggil Iyek.

Seperti biasa jika ada sebuah acara pernikahan seorang sahabat, saya selalu saja mendapat jatah sebagai seksi sibuk di dalamnya. Mulai kurir undangan, tukang antar makanan buat tamu/nyinom, sampai jadi saksi pernikahan pun pernah saya rasakan. Nah sekarang ceritanya saya menjadi seorang tukang foto amatir pribadi di acara pernikahan si Iyek.

Menjadi seorang tukang foto tentu saja akan menanggung sebuah resiko. Apa resikonya?. Ya, tentu saja jarang kebagian bernarsis ria he..he. Begitu halnya dengan saya saat itu. Di saat semua tengah asyik berpose ria, saya hanya bisa mengintip mereka dari sela-sela lensa kamera. Meski ada tukang foto pernikahan sendiri, tapi tetap saya harus menjalankan tugas dari sahabat saya tersebut dengan baik. Bagi saya seorang pengantin ibarat seorang raja semalam yang segala keinginannya harus segara dilaksanakan.

Acara pernikahan tersebut berlangsung meriah. Tamu datang silih berganti. Rasanya saya pun akan kehilangan kesempatan untuk ikut mejeng bareng di hari bersejarahnya Iyek. Sekali dua kali masih saja banyak orang yang mengantri berfoto bareng penganten. Saya pun tak kehilangan. Di saat baru saja tukang foto pernikahan yang asli menyelesaikan jepretannya. Segera saya maju ke pelaminan sambil berteriak ke tukang foto. "sebentar pak.! tolong foto saya dulu". Sempat pula mendapat perhatian dari tamu-tamu yang lain, tapi masa bodoh deh pikir saya. Wajar kan jika seorang artis membuat sebuah kehebohan hehe. Dan hasilnya bisa anda lihat sendiri, sebuah foto dengan tema "raja ratu semalam dengan sang patih Logender".

Dulur Blogger, Iyek sudah saya anggap lebih dari seorang sahabat bagi saya. Banyak cerita yang sudah kami buat bersama. Makan minum bareng, tidur bareng sampai mandi pun tak pernah bareng. Kampung Iyek sudah seperti kampung saya sendiri. Orang tua Iyek pun sudah saya anggap orang tua buat saya. Meski sempat kita memutuskan untuk berpisah sementara waktu karena ego masing-masing. Tapi Alhamdulillah hubungan kami akhirnya cair kembali. Sebab bagi kami persahabatan tersebut adalah hubungan yang timbul dari hati, bukanlah sebuah persahabatan karena sebuah kepentingan.

Iyek bagi saya adalah seorang saudara. Secara tak langsung Iyek pulalah yang menjadikan saya sebagai seorang manusia nokturnal. Iyek pula yang dulu setia menjadh seorang teman bicara sembari menikmati kopi di warung pinggir jalan. Namun sayang kondisi itu sekarang telah berubah. Saya tak bisa lagi mondar-mandir di kamar Iyek dengan leluasa. Saya pun tak bisa bebas mengajak Iyek berlama-lama di warung kopi semalaman, karena Iyek sekarang telah menemukan seorang teman curhat abadinya. Seorang pendamping hidup atau kalau boleh saya pinjam dari istilah anak-anak Keluarga Tamasya disebut sebagai teman bicara sampai di hari tua.

Itulah realita dari sebuah kehidupan persahabatan, jika kelak semua pasti akan mengalami perubahan. Banyak halnya yang nantinya akan berubah, kecuali rasa kasih sayang dan persaudaraan yang tak lekang oleh jaman. Dan jika ada seseorang yang seperti itu, saya rasa merekalah sebenar-benarnya sahabat sejati bagi kita.

Mungkin sudah waktunya pula bagi saya untuk sesegera mencari seorang teman bicara layaknya Iyek. Tapi yo wis tah, semua tentunya butuh proses. Alon alon sing penting kelakon, ketimbang grusa grusu akhire bikin ati linu. Nah dulur blogger, seandainya nih saya kelak bisa seperti si Iyek. Kira-kira anda mau gak ya jadi tukang foto saya. Atau mungkin saya minta tolong teteh Orin dan mas Rahman saja ya buat jadi tukang fotonya? hehe.

Artikel ini diikutkan di acaranya Teh Orin...1st giveaway the sweetest memories.