Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 13 Oktober 2011

Gondrong Bukan Berarti Garong

Cerita  terjadi beberapa tahun yang lalu. Ketika saya mencoba mencari peruntungan sebagai perantau di kota. Masa dimana setiap pagi saya harus melintasi sebuah tembok pembatas saat menuju ke tempat kerja saban harinya.

Bekerja sebagai tenaga kasar di sebuah proyek ruko di sebuah perumahan elit, itulah pekerjaan saya ketika itu. Menjadi asisten seorang seniman patung yang kebetulan adalah om saya sendiri. Kalau bahasa keren orang-orang proyek sih menyebut pekerjaan saya adalah seorang kenek. Ya, seorang kenek bangunan yang tugasnya mengatur komposisi air, semen dan pasir menjadi adonan kenyal yang siap dikonsumsi om saya sebagai bahan pembuat patung. Hahaha.. ruwet juga bahasa saya ya?. Padahal saya cuma ingin bilang jika saya adalah tukang aduk pasir dan semen. Maklum lah namanya juga blogger..hehe

Banyak orang bilang seorang seniman itu sering nyleneh dalam hal penampilan. Begitu juga halnya yang terjadi pada om saya. Eksentrik..! mungkin itu kata yang tepat untuk sedikit mendeskripsikan penampilan om saya tersebut. Rambutnya gondrong sepunggung. Bertato, berkalung dan bergelang rantai yang menjadi aksesoris sehari-harinya. Pokoknya penampilannya lumayan lah untuk membuat keder ibu-ibu saat naik angkot bareng

Sekilas memang nampak sangar, tapi bagi saya om adalah orang yang penyabar. Kehebohan dalam penampilan pun dia imbangi dengan hasil karya yang tidak mengecewakan. Bahkan sampai sekarang seringkali saya melihat patung-patung karya beliau nongkrong sekilas di acara-acara televisi. Orangnya juga ramah. Dia juga disukai oleh anak-anak muda karena memiliki cita rasa humor yang begitu tinggi.

Ceritanya sore itu om ingin mencari seorang dokter untuk dirinya yang saat itu kurang enak badan. Dari pemilik warung sebelah kontrakan kami mendapat info jika ada seorang dokter praktek di sebuah perumahan yang letaknya tak jauh dari kontrakan kami. Akhirnya kami pun segera menuju tempat dokter praktek yang dimaksud. Turut pula seorang teman dalam perjalanan kami. Sebut saja namanya Andi. Lelaki seumuran saya dan berambut gondrong sebahu seperti halnya saya kala itu.

Sesampai di perumahan kami segera bertanya kepada satpam yang sedang berjaga di gerbang depan. Pak satpam kemudian menunjukkan arah jalan menuju rumah seorang dokter di perumahan tersebut. Dokter Handoko, itulah nama sang dokter yang diberikan pak satpam sebagai petunjuk jika kita tetap kebingungan nanti.

"Kurang bertanya, sesat di perumahan". itulah yang terjadi pada kami saat itu. meski perumahan tersebut tidak begitu besar, tapi cukup rasanya membuat kami kebingungan. Rasanya kami cukup lama berputar-putar tapi masih belum kunjung menemukan rumah dokter yang kami inginkan. Andi  kemudian berinisiatif bertanya kepada beberapa orang yang kami jumpai di perumahan tersebut.

Seorang bapak separuh baya nampak membaca surat kabar di depan rumah. Andi pun kemudian mencoba bertanya kepada bapak tersebut.  

"Permisi pak, rumah dokter Handoko sebelah mana ya?", tanya Andi.
"Maaf mas, saya bukan orang sini, saya hanya tamu", sahut si bapak sambil melanjutkan membaca surat kabarnya.

Tak lama kemudian giliran saya yang balik bertanya. Maklum yang nampak sekarang dua orang cewek yang sedang santai duduk-duduk di depan rumahnya hehe.

"Maaf, Permisi ya mbak. Tahu rumahnya dokter Handoko?", tanya saya kepada mereka.
"Maaf mas, saya bukan orang sini, saya hanya tamu", jawab mereka kompak.

Saya pun beranjak pergi dan sempat berpikir jika mereka mungkin adalah anak kost di perumahan tersebut.

Anehnya untuk ketiga kalinya kami mendapat jawaban "Maaf mas, saya bukan orang sini, saya hanya tamu", saat mencoba bertanya kepada seseorang . Kali ini justru dari seseorang yang kami rasa benar-benar empunya rumah. Seorang pria dan wanita yang tengah bersantai bersama momongannya di depan rumah. Sebuah pemandangan yang sedikitpun tak membuat kami yakin jika mereka hanyalah seorang tamu di rumah itu.

"Ayo balik wis", kata om saya nampak putus asa.
"Lah terus sampean gak jadi suntik?", tanya saya.
"Ora sido wis. Badanku sudah enakan sekarang karena keringatan", jawab om.
"hahaha warase ternyata karena keluar keringat karena jalan-jalan ya om. Mungkin kita disangka tukang garong oleh mereka karena rambut kita gondrong", kelakar Andi
"Emang kalau gondrong meski seorang garong?", sahut om tertawa kecut.

---------------

Dulur blogger  itulah cerita lucu namun memegelkan yang pernah saya alami. Saya rasa wajar jika kita harus waspada terhadap penampilan seseorang. Namun kurang bijak rasanya jika kecurigaan itu menjadi sebuah pobhia yang berlebihan. Gondrong belum tentu dia seorang garong. Berpenampilan preman bisa saja dia seorang roman dan hatinya budiman.

Don’t Judge the Book from it’s Cover, Ya, janganlah menilai sebuah lemper dari bungkusnya, tapi isi yang ada di dalam itulah yang utama. Semoga kita semua tidak terkecoh dengan penampilan seseorang. Apa yang nampak menurut pandangan kasat mata kita, bisa jadi tidak sesuai dengan realita sebenarnya. Bukanlah orang yang berpenampilan preman pasar yang harusnya kita waspadai berlebihan. Tapi orang yang berpenampilan necis dan terlihat berpikiran kritis dan manis di televisi itulah yang patut kita curigai. Sebab dibalik penampilan necis dan tingkah polah kristis mereka, bisa jadi ada sebuah ambisi untuk menggarong duit rakyat dengan begitu sadis. Wassalam.