Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 27 Oktober 2011

Nakal Enggak Harus Kurang Ajar

Menjadi seorang yang paling tua dalam sebuah organisasi secara tidak langsung menyadarkan saya betapa sulitnya menjadi orang tua. Selain berperan sebagai seorang kakak, saya pun harus berperan pula sebagai seorang bapak manakala dibutuhkan.

Pernah suatu hari saya disambati oleh salah satu orang tua dari adik-adik saya. Sebut saja nama adik saya tersebut Margono. Eh jangan ding.. Kurang keren, ganti Morgan aja ya hehe. Nah ceritanya si Morgan  mempunyai sebuah permasalahan dengan ibunya  hingga akhirnya dia nekat memutuskan untuk kabur dari rumah alias minggat.

Sebagai kakak di organisasi saya merasa terpanggil untuk mencoba mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi Morgan saat itu. Segera saya menuju rumah Morgan yang sudah dia tinggalkan selama seminggu lebih. Dengan menetes air mata ibu Morgan menjelaskan dengan detail pemicu awal permasalahan antara dia dan anaknya. Sebenarnya permasalahannya cuma sepele, tapi entah setan mana yang membisiki Morgan hingga akhirnya dia memilih minggat dari rumahnya.

Dari ibu Morgan saya mendapat info jika Morgan sekarang berada di sebuah rumah kosong milik embahnya di sebuah desa. Ibunya juga menjelaskan jika sekarang sudah tidak ada lagi sanak famili yang bisa membujuk Morgan pulang. Bahkan pakdhe Morgan yang dianggap paling tegas diantara keluarganya pun tak digubris lagi oleh Morgan.

Terus terang saya merasa malu mendengar curhat ibu Morgan tentang ulah anaknya. Saya merasa bersalah, karena si Morgan adik didik saya di pencinta alam. Saya pun merasa jengkel, karena meski saya selalu memberi kebebasan adik-adik saya, namun saya tidak pernah mengajarkan adik-adik saya untuk durhaka kepada orang tuanya.  One home one family, satu rumah adalah satu keluarga. Permasalahan Morgan adalah permasalahan saya juga. Jadi apa pun yang terjadi saya harus jemput Morgan malam itu juga.

Setelah melawati jalan makadam yang tak ramah. Setelah sempat pula mencicipi tersesat di areal persawahan yang panjang. Akhirnya saya pun menemukan tempat persembunyian dari Morgan. Dia pucat saat pertama kali bertemu saya. Mungkin tak pernah menyangka jika saya yang akan datang. Hal yang pertama saya lakukan adalah saya ajak dia ngopi. Setelah itu baru saya bertanya "Ono opo sih, kok kamu sampai begini?".

Saya cuma diam tak memenggal sedikitpun keluh kesah Morgan saat itu, karena saya tahu kondisi Morgan masih panas dan mungkin akan meledak jika saya malah memarahi dia. Akhirnya setelah si Morgan selesai menumpahkan semua unek-uneknya saya pun bertanya pada Morgan.

"Coba bayangkan jika saja saat ini kamu kabur dari rumah dengan kondisi hati yang marah dengan ibumu. kemudian tiba-tiba saja ibumu dipanggil Yang Maha Kuasa, tanpa ada kamu disampingnya. Apa yang kamu rasakan?"


"Apa kamu mau menanam sebuah bom waktu yang setiap saat akan meledak di sepanjang hidup kamu?".

Morgan tak menjawab. Dia hanya menunduk dan terlihat berkaca-kaca di matanya. Merasa mendapat angin saya pun melanjutkan khotbah saya.

"Terus terang saya kecewa sama kamu. Saya selalu memaklumi saat adik-adik saya nakal, tapi rasanya kurang ajar jika adik-adik saya sudah berani dengan orang tuanya apalagi kepada ibu yang melahirkannya"

"Kalau kamu mau menjadi lelaki, jangan ngambek seperti. Pergi sekalian yang jauh dan pulang membawa sebuah kesuksesan yang bisa kamu banggakan"

"Saya tahu kamu sungkan kepada saya, padahal saya tak pernah memberi kamu makan. Tapi kenapa kepada ibumu kamu juga tak mempunyai rasa sungkan?. Padahal sudah jelas dia yang melahirkanmu, merawatmu saat kamu sakit, menyekolahkanmu hingga kamu pintar. Namun sayang di saat kamu sudah besar, kamu malah kurang ajar"

Morgan akhirnya menangis. Alhamdulilah dia pun mau saya ajak pulang malam itu juga. Alhamdulillah pula setelah kejadian itu tak pernah lagi saya mendengar kabar si Morgan minggat lagi dari rumahnya.

Buat adik Fathan sayang, permasalahan antara ibu dan anak sudah biasa terjadi dalam kehidupan ini. Semoga kamu bisa memaknai semua perintah atau pun larangan dari ibumu bukan sebagai sebuah pengekangan bagi diri kamu, tapi semua itu adalah wujud sayang dia kepada dirimu. Jika ada sebuah permasalah bicarakan dengan penuh kasih sayang dengannya. Jangan pernah lari dari sebuah permasalahan, apalagi mencoba lari dengan cara minggat karena itu bukan cara laki-laki. Seorang lelaki jantan tentu saja akan menghadapi setiap permasalahan. Bukan malah menghindar menjauh dari realita kehidupan.

Nakal mungkin kelak akan kamu alami dalam kehidupanmu sebagai seorang lelaki. Ada yang bilang jika lelaki tak terlihat jantan sebelum ada goresan-goresan di badan, tapi jangan sampai kenakalan  itu membuat ibumu mengelus dada merasakan kepahitan. Jangan ada air mata kesedihan yang keluar dari seorang ibu, karena memikirkan semua ulahmu.

Mungkin di zaman modern ini tak akan pernah terulang lagi cerita kutukan Malin Kundang. Tapi ingat kesukaran hidup pasti akan kita temukan nantinya manakala kita sampai berani mendurhakai orang tua kita. Jadilah seorang lelaki jantan yang bisa memberikan ibu dan bapakmu sebuah senyum kebanggaan. Jadilah lelaki pemberani yang bisa melindungi adikmu Azizah dari lirik nakal laki-laki. Yah, tunjukkan pada dunia hai Fathan.. Tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang lelaki jantan.


Cerita ini diikutsertakan dalam Giveaway "Anakku Sayang" oleh Rumah Mauna