Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 04 Oktober 2011

Story Pudding : Ingin Seperti Itu


Nama lengkapnya Januar Pribadi, tapi orang-orang biasa memanggilnya Jepri. Umurnya lebih muda dari saya. Namun masalah pengalaman hidup saya rasa si Jepri lebih matang dibanding saya.

Bulan April 1995 si Jepri  dengan terpaksa harus menerima sebuah kenyataan hidup. Sang bapak yang selama ini menjadi tulang punggung bagi keluarganya  pergi terlebih dahulu menghadap Pemilik-nya. Meninggalkan Jepri dan Emaknya, seorang wanita tangguh yang kini harus berjuang sendiri untuk membesarkan anak semata wayangnya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.

Selama masih ada tarikan nafas yang mengisi rongga dada, selama itu pula roda kehidupan harus terus digulirkan. Kekurangan bukanlah sebuah alasan untuk mengisi kehidupan dengan segala macam keluhan. Namun justru sebuah kekurangan harus bisa dijadikan tantangan untuk menaklukkan semua pahit getirnya kehidupan. Mungkin itulah prinsip yang selalu dipegang oleh emak Jepri. Menyambung hidup dengan bekerja sebagai buruh dengan upah mingguan di sebuah gudang tembakau. Berjuang sekuat tenaga agar anaknya bisa menamatkan pendidikan seperti halnya anak-anak lainnya.

Beruntung si Emak memiliki seorang putra yang mau berbakti seperti Jepri. Di saat rata-rata pemuda seumuran Jepri masih asyik dengan dunia muda-mudi, justru Jepri menghabiskan masa indah itu dengan membantu emaknya dengan segala yang dia mampu. Penjaga warnet, cleaning service sampai berjualan mainan dari SD ke SD pun Jepri lakukan. Tujuannya hanya satu agar bisa meringankan sedikit beban yang ditanggung emaknya sendirian.

Lagi-lagi Jepri harus berbesar hati menerima ketetapan Illahi. Kali ini giliran Emak yang harus pergi meninggalkan Jepri selamanya. Maret 2008 Emak menyusul Bapak menuju ke tempat yang semestinya. Selesai sudah tugas dari wanita yang puluhan tahun menjadi teman berkeluh kesah bagi Jepri. Mewariskan sebuah rumah mungil dengan segala kenangan yang ada di dalamnya.

Kini tinggallah Jepri seorang di rumah kenangan itu. Berjuang menaklukkan kerasnya kehidupan seperti halnya emak dan bapaknya dulu telah lakukan. Beruntung Jepri adalah pribadi yang tabah dan tangguh dalam mengarungi pahit getirnya hidup. Mujur pula saat itu Jepri telah menemukan sebuah semangat hidupnya. Seorang kekasih sebagai ganti emaknya saat dia berkeluh kesah. Meski Jepri tahu kisah cintanya tak berjalan mulus seperti telenovela.

Banyak tantangan yang harus dia hadapi. Ada sebuah penolakan yang harus dia terima sebagai konsekuensi atas segala kekurangannya. Yah, mungkin saja dari pihak sang gadis masih belum percaya dengan status kemapanan yang dimiliki Jepri. Namun Jepri tetap kekeh bertahan dengan cintanya. Bagi dia ini adalah perjuangan antara dia dan kekasihnya. Ya, hanya dia dan gadisnya pemeran utama dalam roman kehidupan itu. Orang lain hanyalah penonton yang hanya bisa memberikan sebuah tepuk tangan, namun terkadang pula sebuah cemoohan. Jadi apapun yang terjadi cinta itu harus diperjuangkan.!, itulah tekad Jepri.

Suatu malam di bulan  Agustus 2008, lewat sebuah pesan singkat Jepri menghubungi saya. "Mas bisa ke rumah sekarang, saya besok mau nikah". Jujur saya kaget waktu itu. Namun saya salut bahkan mengacungi  jempol untuk sahabat saya tersebut, karena dia telah mewujudkan apa yang telah menjadi tekadnya. Sebagai sahabat saya pun harus memberikan sebuah moral meskipun hanya sebatas mbarengi dia di hari yang begitu penting dalam sejarah hidupnya.

Sampai di rumah Jepri rasanya saya tak percaya dengan apa yang saya lihat malam itu. Nyaris tiada tanda jika besok di tempat itu ada sebuah peristiwa bersejarah buat empunya. Tiada sekumpulan ibu-ibu yang sibuk membungkus makanan. Tiada bunyi-bunyian yang biasa terdengar seperti halnya malam pernikahan kebanyakan. Tiada pula sekumpulan bapak-bapak yang asyik begadang sembari menikmati obrolan. Hanya ada saya, Jepri, seorang teman, mempelai puteri dan sepasang suami istri sebagai wali dari mempelai ipihak perempuan.

Sungguh saya mengelus dada manakala ikut dalam rombongan yang mengantar Jepri menuju kantor KUA. Tiada arak-arakan rombongan yang lengkap dengan kendaraan pengiringnya. Cuma berjalan kaki dan saat orang-orang bertanya kepada kami, si Jepri cuma tersenyum kecil sambil menjawab "saya mau karnaval". Lebih nelongso lagi rasanya manakala saat tiba Jepri melangsungkan akad nikahnya saya hanya bisa mengabadikan momentum bersejarah itu dengan sebuah kamera ponsel VGA.

Acara walimahannya pun berjalan dengan begitu sederhana. Tiada puluhan bahkan ratusan undangan yang dihadirkan. Hanya segelintir orang yang bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Namun sungguh indah, karena di situ saya begitu merasakan sebuah keberkahan. Saya pun yakin jika Emak dan Bapak Jepri pun di atas sana tersenyum melihat keberhasilan perjuangan yang dilakukan putera kesayangannya.

Itulah sebuah kisah pernikahan sederhana dari seorang sahabat saya. Seorang sahabat yang jujur saja saya begitu salut dan bangga dengan perjuangannya. Seorang yang sudah saya anggap dulur itu sekarang telah menikmati buah dari ketabahan dan kegigihannya selama ini. Yah, Jepri sekarang telah mulai menapak mapan, karena dia telah menjadi seorang karyawan di sebuah bank. Jepri juga telah selangkah lebih maju dari saya, karena kini dia telah menjadi lelaki sejati dengan hadirnya seorang buah hati. Seorang putera mungil yang diberi nama Jibril Ar Rahman.

Dulur blogger, jika saja saya ditanya pernikahan model apa yang saya inginkan. Mungkin saya menginginkan pernikahan seperti halnya Jepri. Meski mungkin tak senelongso pernikahan Jepri, tapi kesederhanaan itulah yang sangat saya dambakan saat nikah nanti. Tiada pelaminan dan pakaian pengantin ala keraton, sebab jujur saya tak seberapa tampan dan memiliki bodi atletis layaknya pria-pria kerajaan haha. (ups.. maaf saya ngakak dulu ya mbayangin kalau hal itu dilaksanakan). Tak ada bunyi-bunyian dangdut koplo yang biasanya terdengar di pernikahan orang-orang kampung. Tanpa ada pula orang-orang begadang sembari bermain kartu, yang ujung-ujungnya sering dibuat acara mabuk-mabukan. Cuma ada teman dan sahabat yang nantinya berkumpul di hari itu dengan suasana penuh kesederhanaan.

Tapi kapan Lozz kamu akan nikah? hehe. Itulah pertanyaan yang sering saya dapatkan. Jujur secara mental saya sudah siap berbagi ranjang dengan seseorang. Kalau mungkin ada sekarang, yo wis ayo laksanakan. Apa perlu saya beli songkok dan jas sekarang? hehe. Masih ada titik koma yang sepertinya harus saya lakukan. Sekali lagi secara  mental saya siap disebut papa Lozz. Namun yang jadi pertanyaan sekarang "Apa ada yang mau ya dengan seorang satpam dunia maya berupah kurang dari 600 ribu rupiah?".


Kisah ini diikutsertakan pada "A Story Pudding For Wedding" 
yang diselenggarakan oleh Puteri Amirillis dan Nia Angga