Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 30 Oktober 2011

Tiada Lagi Permainan Yang Seperti Rambo

Saat masih kecil ibu tak selalu memanjakan saya dengan membelikan mainan yang dulu ngetrend di jamannya. Saya hanya bisa meminjam manakala ingin bermain gamewatch yang saat itu digemari anak-anak kebanyakan. Cuma bisa memandang saat anak tetangga sebelah bermain mobil-mobilan yang berbahan bakar baterai di dalamnya. Hanya terpana pula manakala melihat anak-anak lain saling pamer mainan pistol  yang mengeluarkan bunyi khas saat mereka menarik pelatuknya.

Butuh perjuangan ekstra jika saya ingin memiliki itu semua. Tak boleh ada angka merah di rapor sekolah menjadi sebuah syarat manakala saya ingin memiliki mainan-mainan yang saat itu dianggap canggih di jamannya. Meski begitu saya bersyukur tiada sedikit pun ibu mengekang saya untuk bermain di luar rumah dengan anak-anak kampung lainnya.

Salah satu permainan anak kampung yang saya sukai waktu itu adalah perang-perangan. Merakit aneka senjata yang kami buat dari pelepah daun pisang. Membuat granat tangan mainan yang kita kalungkan di badan. Tak ketinggalan pula kain diikat di kepala sebagai tanda musim perang telah tiba. Ingin menjadi Rambo yang sering dilihat di video. Mungkin itulah pikiran saya kala itu.

Anak-anak kampung sering menyebut permainan itu dengan nama Serangan. Ya, senjata pelepah daun pisang itu hanyalah semacam aksesoris agar kami nampak layaknya orang berperang. Inti dari permainan itu sendiri adalah saling serang dengan cara melempar granat tangan dari pelepah pisang yang kami buat.

Saling berkejaran, tiarap atau bahkan salto pun diperlukan agar kita tak terkena lemparan granat dari pemain lawan. Area pertempuran pun  akan semakin lebar manakala ada sekumpulan anak-anak dari kampung lain menantang serangan. Terdengar ekstrim dan liar memang, tapi ada peraturan  yang tidak boleh dilanggar yaitu tak sedikit pun diperbolehkan kepala pemain lawan terkena lemparan dari granat kita dengan sengaja. Seru, menegangkan tapi syarat pendidikan, karena di situ kami bisa belajar tentang arti dari sebuah kebersamaan, kekompakan, ketangkasan dan patuh dengan aturan main yang ditentukan.

Saat dirasa kami telah puas dengan permainan serangan itu. Tiba waktunya bagi kami untuk sedikit melepas lelah dengan mandi di sungai kampung. Bergotong royong mengangkat batang pohon pisang yang kami jadikan pelampung saat bermain di sungai. Saling serang sekarang berganti dengan sebuah keceriaan. Tiada dendam meski baru saja kami saling berhadap-hadapan menjadi lawan.

Namun sayang keceriaan masa kecil itu tak pernah saya lihat lagi di jaman sekarang. Tiada lagi Rambo-Rambo kecil yang saya lihat berlalu lalang, karena mungkin si Rambo sudah asyik dengan tokoh imajinasi di Playstationnya masing-masing. Tak ada lagi senjata pelepah daun pisang, karena kebun pisang sekarang telah menjadi ladang bangunan yang tegak menantang. Tiada lagi jernih sungai yang menggoda siapa saja untuk menceburkan diri ke dalamnya, karena sungai itu sekarang telah menjadi arena karnaval sampah.

Permainan serangan itu kini telah mengikuti mengikuti perkembangan jaman. Granat pelepah pisang itu sekarang berganti dengan batu-batuan. Bukan anak kecil lagi yang sekarang melakukan pertempuran itu, tapi sudah berganti dengan orang dewasa dan mahasiswa. Sebuah kondisi yang membuat saya bertanya dalam hati,  Apakah mereka tidak puas bermain serangan saat mereka kecil?. Atau jangan-jangan mereka memang tak pernah merasakan menjadi seorang Rambo seperti yang pernah saya lakukan dulu ya?.

Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak