Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 10 November 2011

Kitalah Pahlawan Itu..

Photobucket
Menonton film di gedung bioskop merupakan sebuah hiburan yang mahal bagi saya saat lampau dulu. Saya teringat kala itu ada sebuah gedung bioskop bernama Aurora. Satu-satunya gedung bioskop di kecamatan saya, yang setiap tiga hari sekali memutar film-film India di jam pertunjukannya.

Saya teringat saat dulu begitu menggandrungi film-film action dengan bintang macam Samo Hung, Chow Yun Fat, Jackie Chan, Chuck Norris, Sylvester Stallone sampai bintang lokal macam Barry Prima. Namun kadangkala saya pun terpaksa menonton film India jika saja pas akhir pekan film tersebut yang kebetulan diputar. Sebuah genre film dengan durasi tayang yang lebih panjang dari biasanya, yang membuat seringkali pula saya mendapat marahan dari orang rumah karena pulang kemalaman.

Menonton sebuah film India tak ubahnya kita ikut urun skenario dalam film tersebut. Betapa tidak, alur ceritanya begitu mudah ditebak. Sebelum film habis pun kita pasti akan paham ending dari cerita film tersebut.
  1. Seorang bocah menjadi yatim piatu ditinggal mati orang tuanya
  2. Ortunya mati dibunuh penjahat
  3. Si bocah ingat wajah para pembunuh itu dan berniat balas dendam
  4. Penjahat itu berkuasa dan terus melakukan kesewenang-wenangan
  5. Si bocah besar dan menjadi seorang inspektur polisi
  6. Keadilan ditegakkan, karena si bocah berhasil membunuh penjahat itu.
Itulah alur cerita yang sering saya temui saat menonton film India dulu. Namun yang namanya hiburan mahal, mau tidak mau saya pun bisa menikmatinya kala itu. Makian dan hujatan seringkali saya dengar dari penonton sebelah saat dia melihat sebuah ketidak adilan dalam  film tersebut. Tuan Takur, yah dialah pemeran antagonis nomer satu yang menjadi serangan makian para penonton. Sorak sorai bahkan tepuk tangan pun kemudian muncul manakala Inspektur Vijay datang menjadi pahlawan untuk menegakkan keadilan. Sebuah pesan moral yang mudah kita tebak, jika ketidak adilan akan dikalahkan oleh aksi heroik dari seorang pahlawan.

Dulur blogger, hari ini kita tengah memperingati sebuah hari yang penuh dengan nuansa heroisme bagi bangsa kita. Seperti halnya para penonton film India yang tak sabar menanti datangnya inspektur Vijay muncul dalam cerita, kita pun pasti rindu dengan sosok-sosok pahlawan dalam kehidupan nyata sekarang. Di saat pemerintahan kita masih penuh dengan para Takur-takur politisi, kita rindu sosok pahlawan yang bisa mensterilkan pemerintahan kita dari kuman-kuman korupsi. Rindu dengan sosok pejabat yang senantiasa memegang amanat rakyat. Mendambakan sosok aparat yang selalu siap mengayomi. Merindukan sosok ratu adil yang bisa memberikan sebuah kesejahteraan bagi kita semua.

Tapi apakah hanya menunggu yang saat ini bisa kita lakukan?. Apakah kita terus berandai-andai dan berangan menanti datangnya pahlawan imajiner macam inspektur Vijay agar segera datang?. Hai dulur..! tak sadarkah dirimu jika sebenarnya engkaulah pahlawan itu?.

Mungkin saja saat ini anda hanya sebatas menjadi petugas penjaga pintu palang kereta api, tapi tak sadarkah anda jika sebenarnya anda adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan nyawa banyak orang?. Harusnya anda bangga meski hanya menjadi seorang penjaga pintu air, karena di tangan andalah ratusan bahkan ribuan nyawa akan terselamatkan dari banjir.

Menjadi petani, guru, sopir, mahasiswa, kuli bangunan, blogger atau apapun pekerjaan anda, saya kira anda bisa menjadi seorang pahlawan jika memang anda menginginkan. Berkaryalah sebisa kita meski tiada selembar SK pahlawan dari Presiden yang kita terima. Selalu berbuat kebaikan walau tak sekalipun gambar-gambar wajah kita pernah dipajang di dinding-dinding sekolahan. Jadi kenapa kita harus menanti dan saling sibuk menyalahkan lewat adu teori, padahal kita sendiri bisa menjadi seorang pahlawan sejati?.

note : Kontes Dear Pahlawan diperpanjang hingga tanggal 13 Nopember jam 23.59 WIB