Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 04 November 2011

Pengalaman Pertama Bertemu Calon Mertua

Photobucket

Ada yang merasa tertipu dengan judul posting yang saya pajang di atas?. Hehehe enggak kok, satpam dunia maya masih stagnan seperti dulu. Masih menjadi milik publik dan tentunya masih beredar di bursa transfer cinta ala dunia maya. Cerita ini sebenarnya adalah sebuah pengalaman cinta dari seorang teman dan di sini saya hanya sebatas berperan sebagai seorang figuran.

Biar berasa layaknya kisah roman yang melegenda, biarlah untuk sementara waktu saya sebut saja nama teman tersebut dengan panggilan Romli. Yah, si Romli seorang Romeo ndeso yang terlibat asmara dengan kekasihnya yang bernama Juleha. Seorang dara dari kota mangga.

"We think tresno jalaran soko kulino", itu sih kata Tony Q. Tapi kata Romli "We think kasmaran jalaran soko SMSan". Ya, bermula dari sebuah progam SMS gratisan, si Romli melakukan aksi acak nomer untuk mencari mangsanya. Dan singkat cerita akhirnya si Romli pun menjadi pacar SMS dari Juleha.

Jika seseorang sedang di mabuk kasmaran apa pun akan dilakukan. Demikian halnya dengan Juleha, meski tak sekalipun pernah bertemu pandang, tapi segala cara dia lakukan agar selalu bisa berhubungan dengan kekasih tersayang. Termasuk dengan cara mencuri-curi pulsa telpon rumah hanya untuk mendengar langsung tutur kata sang Arjuna yang begitu indah.

Masalah terjadi karena Romli mendapat laporan dari Juleha jika sekarang bapaknya sedang marah besar terhadap dia. Bapak Juleha geram karena mendapati tagihan telpon rumah meningkat tajam. Juleha pun disidang dan mengancam akan mencari Romli karena dianggap telah mengganggu Juleha puteri semata wayangnya.

Juleha mengatakan jika bapaknya adalah seorang big bos di daerahnya. Seorang mantan preman yang tak segan bertindak kasar saat dia marah besar. Dari  Juleha pun Romli mendapat info jika bapak Juleha sebenarnya asli dari kecamatan yang tak jauh dari  tempat tinggal Romli. Yang itu berarti sesuatu yang mudah saja jika bapak Juleha ingin menemukan keberadaan dari si Romli.

Di suatu malam Romli datang ke rumah saya. Dia mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi rumah Juleha. Di satu sisi Romli tak ingin kisah cintanya kandas di tengah jalan, di sisi lain dia pun tak ingin babak belur dihajar mantan preman. Dia pun beritikad baik untuk meminta maaf langsung kepada bapak Juleha dan tampaknya saya yang ketiban rejeki untuk menjadi teman dia dalam menjalankan misinya. "Apes deh, enggak sekalipun mencicipi nangkanya, eh saya yang kena getahnya", begitu pikir saya. Tapi yo wis tah, demi seorang sahabat saya pun rela menemani dia, sekalian saya juga perlu belajar teknik menghadapi seorang calon mertua hehe.

Jarak Jember - Probolinggo lumayan  terasa lama ditempuh dengan sepeda motor. Setelah 3 jam lamanya di perjalanan, akhirnya sampai juga kami di kota tempat tinggal Juleha. Di sana saya tak memutuskan untuk menuju rumah Juleha langsung, tapi sejenak beristirahat di warung kopi sekitar alun-alun kota. Untuk sekedar mempersiapkan mental jika terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan.

"Piye siap Bro?", tanya saya kepada Romli.
"Waduh aku grogi bro", jawab Romli pucat.
"Gini aja wis, nanti kalau ketemu dengan bapak Leha. Jangan sekalipun kamu sanggah kata-kata dia. Kamu diam aja wis intinya", saran saya saat itu.

Kami pun segera berangkat menuju rumah Juleha, setelah sebelumnya Romli mendapat ancar-ancar rumah Juleha lewat SMS yang dikirimnya.

Nampak Juleha sedang menunggu di depan gerbang rumahnya. "Wuih menik-menik juga nih Juleha, enggak heran Romli sampai tergila-gila ya?, pikir saya dalam hati. Oleh dia kami pun dipersilakan duduk di ruang santai yang ada di pelataran depan rumahnya. Dan tak seberapa lama kemudian ibu Juleha pun muncul, yang membuat saya sadar jika kedatangan Romli saat itu memang sudah ditunggu-tunggu.

Tak banyak yang kami bicarakan saat itu. Semua hanya basa-basi. Yang saya ingat saat itu saya hanya bertanya seputar mangga dan musim hujan pada ibu Juleha. Hehehe sebuah trik tentunya agar suasana tak terkesan kaku saat itu. Selang beberapa lama kami terlibat pembicaraan ngalor ngidul tak jelas, Akhirnya muncullah pemeran antagonis yang ditunggu-tunggu. Sebuah mobil mewah terlihat berhenti di halaman rumah. Muncul seorang lelaki separuh baya tinggi besar dari mobil itu. "Puh, Brotoseno kalau ini. Siap-siap saja saya disambel bentar lagi", pikir saya kecut melihat bapak si Leha.

Bapak itu kemudian masuk ke dalam rumah, sekilas melirik kami berdua. Kami pun tersenyum menyambut. Sebuah senyum antara hormat dan takut.

"Kok sadis gitu  yo bro bapaknya Leha", tanya Romli nampak keder.
"Udah deh siap-siap aja kamu pulang ke Jember naik ambulan bro haha", pingkel saya ke Romli.

Lima menit kemudian bapak Juleha menghampiri tempat kami berdua.

"Dari Jember ya mas?", tanya pak Broto pertama kali.

"Inggih pak", jawab Romli menunduk.

"Kamu yang namanya Romli ya?. Enggak usah pake Jawa, bahasa Indonesia saja sama saya", sahut dia.
"Iya pak", jawab Romli lirih.

"Sebenarnya saya enggak larang Leha berteman dengan siapa saja, tapi bukan seperti itu caranya"
"Di sini pihak perempuan mas, jadi kalau ada apa-apa kita yang dirugikan".

Itulah beberapa perkataan dan pertanyaan yang saya ingat saat itu. Tentunya selain menginterogasi habis-habisan si Romli tentang keberadaan orang tua, kuliah dan segala tetek bengeknya. Yang paling saya ingat dan dengar saat itu adalah banyaknya kata "Iya" dan "Iya" yang keluar dari mulut Romli sesuai perintah saya.

"Kalau mas ini masih kuliah?", akhirnya saya pun kebagian pertanyaan dari bapak Juleha.

Deg.. sepintas saya dalam hati mengatakan harus berpikir cepat saat itu. Jika saya berbohong so pasti untuk selanjutnya saya pun akan berbohong untuk menutupi kebohongan yang pertama. Saya harus bisa mencairkan kekakuan suasana. Saya harus bisa menyenangkan bapak Leha yang terlihat begitu bangga dengan dunia kampus. Tapi saya tidak harus menjilat dia dengan berbohong, karena saya tahu bapak Leha adalah orang pintar yang bisa membedakan antara bohong dan benar.

"Saya lulusan SMA pak", jawab saya mencoba tenang.
"Terus kerja di mana?, desak bapak Leha.

Waduh kok tanya kerja nih?, batin saya. Saat itu memang status saya bisa dibilang pengangguran. Pekerjaan saya hanya sebatas membantu saudara yang kebetulan menjadi pengrajin manik-manik kayu. Ahai... ini dia amunisi saya untuk menghadapi bapak itu. Si Romli pernah bercerita jika bapak Juleha adalah big bos pengrajin manik-manik kayu yang diekspor ke luar negeri. Jadi mungkin sekarang saya terpaksa mengeluarkan jurus white lie untuk melakukan obrolan dengan bapak itu. Tidak ada salahnya untuk kali ini saya berbohong sedikit saja, karena setidaknya sedikit pengetahuan akan manik-manik akan membantu saya mencairkan suasana tegang kala itu.

"Saya pekerja di pengrajin manik-manik rumahan pak", jawab saya pede.

"Owh bagaimana prospek manik-manik disana mas?", itulah sambutan Bapak Juleha saat ngobrol dengan saya. Akhirnya kami pun terlibat pembicaraan intens seputar manik-manik dengannya. Seakan tak mempedulikan Romli yang saat itu kelihatan masih bergumul dengan ketakutannya. Hingga akhirnya pembicaraan antara saya dan bapak Juleha mencapai klimaksnya. Sebuah tertawa lepas muncul dari sang calon mertua. Yah, sebuah senyuman manis dari seorang mantan preman yang mungkin bagi Romli tak akan pernah dia lupakan.

Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Pengalaman Pertama yang diadakan oleh Mbak Sitti Rasuna Wibawa.