Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 31 Desember 2011

Gara-gara Cukai Linting Sugesti Naik, Saya Jadi Omong Politik

Andai saya menjadi seorang anggota DPD. Hal pertama yang saya lakukan pertama kali adalah memantapkan niat saya saat mengemban amanat itu. Sebab segala hal bisa terjadi di dalam dunia politik. Bisa saja di awal saya akan berkoar menjadikan DPD sebagai sebuah profesi untuk mengabdi, tapi di tengah perjalanan malah saya akan menjadikan jabatan tersebut sebagai jalan pintas bagi saya untuk memperkaya diri. Yah, niat untuk mengabdi itulah yang akan saya pegang erat-erat, jika jabatan itu adalah sebuah amanat dari rakyat yang harus saya jaga dari sebuah virus influensa politik bernama korupsi.

Saya tidak akan ikut-ikutan latah membuat sebuah "Kontrak Politik"  yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai keharusan dalam demokrasi. Namun jika semua itu memang dibutuhkan mungkin saya akan menandatangani sebuah kontrak politik yang isinya saya siap dihukum mati jika terbukti melakukan sebuah korupsi. Bagi saya DPD adalah sebuah jabatan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Jika saja saya menyalahgunakan jabatan tersebut, sama artinya menjadikan diri saya sebagai seorang pembunuh massal.

Andai saya anggota DPD saya tidak akan mendukung kebijakan-kebijakan yang saya anggap tak berpihak terhadap rakyat kecil. Saya tak akan mau melakukan agenda rekreasi yang mengatasnamakan studi banding ke luar negeri. Selain boros anggaran, studi banding itu menurut saya akan membuat anggota dewan kita terlampau mendongak ke atas. Harusnya mereka lebih banyak mengarahkan pandangannya ke bawah. Melakukan sebuah studi banding dengan terjun langsung ke masyarakat. Belajar memahami realita kehidupan rakyat kecil, jika masih ada sebuah gap sosial yang begitu tinggi di negeri ini. Yah ketimbang milyaran anggaran hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang mangatasnamakan studi, alangkah bijaknya jika anggaran itu dikucurkan untuk rakyat banyak yang sangat membutuhkannya.

Saya juga tidak akan bermufakat dengan orang-orang yang mengusulkan renovasi gedung dewan secara berlebihan. Bagi saya bukanlah gedungnya yang harus direnovasi, tapi mental dan intregitas orang-orang yang ada di dalamnya yang perlu diperbaiki. Percuma kita memiliki gedung dewan yang begitu megah, jika hanya untuk menampung sekawanan orang yang asyik bermain Ipod di saat bangsanya sedang repot. Buat apa membangun gedung dewan laksana istana yang begitu mahsyur, jika isinya hanya orang-orang yang menghabiskan agenda rapatnya dengan tidur. Jangan lebai dong ah.! renovasi saja gedung itu seperlunya. Kenapa anda mesti takut mati keambrukan gedung?. Padahal di negeri ini banyak sekali SD-SD tua yang atapnya siap menyambar kepala anak-anak kecil yang sedang belajar.

Andai saya menjadi anggota DPD, hal yang saya lakukan adalah bekerja dan berbicara sesuai dengan skill kemampuan saya. Saya rasa negeri ini akan semakin ruwet, jika semua orang ikut berbicara yang tak sesuai dengan kapasitasnya. Negeri ini akan semakin kacau jika semua ingin menjadi penguasa tanpa pernah sadar dengan kemampuannya. Lihat saja kisruh PSSI, seakan semua ingin menguasai. Padahal bisa jadi diantara mereka mungkin masih belum hafal berapa ukuran lapangan bola. Lingkungan, pemuda dan internet, mungkin itu yang akan menjadi fokus pekerjaan saya. Namun sayang semua tidak bisa saya jabarkan karena sebuah aturan main dari panitia penyelenggara.

Mohon maaf untuk juri ataupun menyelenggara jika saya melanggar aturan main dengan melakukan korupsi kata. Saya juga tidak peduli artikel ini didiskualifikasi  karena lepas dari jalur dan  telah melewati ambang batas kata sesuai persyaratan peserta. Saya berikan sebuah apresiasi yang tinggi untuk acara ini, tapi saya juga menyayangkan kenapa harus ada sistem Semi SEO dalam acara ini?. Kenapa untuk menyalurkan sebuah aspirasi perlu dibatasi?. Apakah untuk solusi mengatasi  permasalahan negeri ini hanya cukup dengan 500 kata?.

Semoga saja semua prasangka saya ini salah adanya. Semoga saja lomba ini bisa dijadikan momentum oleh para anggota DPD untuk belajar membiasakan  mendengar aspirasi dari bawah. Sebab saya yakin banyak sekali artikel-artikel dengan pemikiran cerdas dan enggak ngawur seperti artikel ini yang layak untuk anda jadikan sebagai  acuan saat bekerja ke depan.

Ya sudahlah, mungkin saya harus akhiri posting terakhir saya di tahun ini. Jika saja ada diantara anda bertanya kenapa saya membuat artikel ngawur ini?. Mungkin akan saya jawab karena saya perokok. Yah, karena saya paham dalam setiap linting sugesti yang saya hisap tiap hari, disitu ada sekian sen pula yang saya sisihkan untuk negeri ini. Apalagi saya tahu jika tahun depan cukai rokok akan kembali dinaikkan. Jadi wajar dong jika saya juga ingin sedikit urun uneg-uneg kepada para penyelenggara negeri ini? hehehe.

Bukan berarti pula saya menganggap mereka semua gagal, tapi saya rasa mereka masih belumlah maksimal. Semoga saja di tahun baru nanti ada sebuah solusi terbaik yang kita dapatkan untuk semua permasalahan yang mendera negeri ini. Yah, sebuah solusi yang bukan hanya sekedar konsep berandai-andai, tapi sebuah tekad dan kemauan dari kita semua untuk saling bekerja semampu kita, agar negeri ini segera bangun dari lena.