Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 09 Desember 2011

Gara-gara Kurang Kopi Saya Ngomong Lebih Tentang Korupsi


Banyak cara yang dilakukan oleh orang-orang dalam memperingati Hari Anti Korupsi yang jatuh pada hari ini. Intinya cuma satu, saling menyatukan tekat untuk berjuang bersama-sama memberantas sebuah budaya negatif yang telah mendarah daging di negeri ini.

Sebagai warga yang juga cinta dengan negeri ini, sayapun tak mau ketinggalan untuk menyuarakan aspirasi saya tentang korupsi. Tentu saja saya tidak akan berbicara layaknya pengacara yang paham tentang apa itu hukum pidana, perdata, azas praduga tak bersalah dan segala macam tetek bengek yang berkaitan dengan hukum.

Ini hanya sebuah uneg-uneg dari seseorang yang kehabisan kopi. Opini seorang tukang sapu yang ngawur, tapi tidak membabi buta. Sebab bersuara juga memerlukan sebuah etika. Menyuarakan ketidaksetujuan haruslah  disikapi dengan cara-cara yang elegan. Kebebasan berekespresi perlu pula diimbangi dengan sikap dewasa dan bijaksana. Bukan malah menghakimi, apalagi mencederai.

Untuk Gubernur Bank Indonesia.

Saya mengusulkan kepada beliau agar tidak memberlakukan lagi mata uang rupiah. Kembali ke sistem barter seperti jaman silam. Uenak kan?. Pingin motor tukar dengan duren. Ganti domain bayar dengan ikan asin. Bayar tagihan internet pun cuma dengan menyapu halaman kantor Telkom hahaha.

Memang terdengar konyol, tapi akan memberikan efek males dan mules buat para koruptor. Korupsi menurut saya adalah suatu kepandaian seseorang dalam mengotak-atik angka-angka di atas meja. Enggak harus kepanasan dan berlumpur ria di tengah sawah jika ingin hidup mewah. Enggak perlu memeras keringat menjadi kuli angkut pelabuhan, jika ingin bergelimang kekayaan. Hanya butuh menghapus satu angka nol dan simsalabim dalam hitungan detik rekening koruptor akan bertambah bendol.

Nah jika rupiah sudah gak berlaku lagi tentu saja akan membuat koruptor menjadi mati kutu. Biaya operasional korupsi akan membengkak tinggi. Koruptor butuh  kuli angkut, kontainer dan membangun gudang untuk menyimpan hasil jarahannya. Belum lagi resiko mudah terdeteksi saat mereka menjalankan aksinya mengembat harta rakyat. Sebuah kondisi yang akan membuat seseorang akan malas berbuat korupsi.

Untuk KPK dan para penegak hukum

Saya mengusulkan agar vonis hukuman penjara buat terpidana korupsi ditiadakan. Menurut saya itu sudah jadul. Istilah blogger sih udah gak update alias ketinggalan jaman. Hukuman penjara menurut saya akan membuat sebuah celah munculnya jaringan Takur-takur baru di Indonesia. Bukankah kita masih ingat kisah sinetron "Penjaraku Sorgaku" dengan bintang Artalyta?.

Lah trus apa para koruptor itu mau dibebaskan?. Mau dikasih remisi massal spesial?. Kok enak tenan?. Apa dihukum mati saja?. Hahaha bisa mencak-mencak tuh para aktivis HAM jika usulan itu dilakukan. Diasingkan di hutan rimba atau pulau tak berpenghuni, itulah hukuman yang pas buat koruptor..!.

Sebagai pencinta alam  saya paham jika berapapun uang yang ada di tangan tentunya tak akan bernilai saat kita di pedalaman hutan. Begitu halnya dengan para koruptor, sekalipun bertilyun-tilyun harta yang mereka bawa saat menjalani hukuman pengasingan. Sesen pun hartanya tak `kan bernilai sama sekali. Sebuah hukuman sekaligus media perenungan buat para koruptor, jika pada dasarnya harta yang saat ini mereka timbun adalah sesuatu yang fana.

Untuk Majelis Ulama Indonesia

Saya mengusulkan agar MUI mengeluarkan fatwa tentang sertifikasi pelabelan halal dan haram buat para pejabat kita. Sebab bagaimana negara kita akan bertambah maju, jika para pejabatnya bermental maling?. Bagaimana negeri ini akan mahsyur, jika dikelola oleh orang-orang yang tak jujur?.

Mungkin ada baiknya MUI membuat list tentang orang-orang yang telah terkontaminasi dengan korupsi agar diblokir untuk menduduki jabatan di negeri ini. Atau pakai cara yang lebih ekstrim, dengan membuat sebuah stempel khusus yang bertuliskan HARAM yang nantinya akan distempelkan ke jidat para tikus-tikus kantor.

Dulur blogger, berhubung warung kopi depan warnet sudah buka, jadi saya mesti akhiri opini ngawur hari ini hehe. Semoga kita semua bisa terjaga dari hal-hal yang berbau korupsi. Sebab korupsi hanyalah masalah mental dan kesadaran. Sebuah kesadaran jika pada dasarnya Sang Maha Kreatif telah merancang lambung kita sesuai dengan batasnya masing-masing. Jadi tak mungkin kiranya kita jejali lagi dengan semen, pasir, aspal dan lain sebagainya yang akan membuat perut kita akan meledak.

Semoga pula kita sadar jika saat nanti permainan kita di dunia  mencapai level Game Over, bukanlah rumah megah lagi yang akan kita tempati, tapi hanya semetaran lahan yang di dalamnya kita pun harus rela berbagi dengan cacing-cacing kelaparan. Bukan pula harta yang nantinya akan kita bawa saat resmi menjadi warga liang lahat. Yah, Hanya tiga lembar kain mori yang kita semat tatkala nanti menghadapi intelejen akhirat.


sunber gambar : http://merdekacreatipe.blogspot.com/