Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Rabu, 25 Januari 2012

Ada Rahasia di Tapal Batas Itu

Pagi itu kami bersiap packing untuk melakukan perjalanan pulang dari pendakian. Ceritanya saat itu saya menjadi pemandu jalan sekumpulan anak SMA yang melakukan pendakian di gunung Semeru.

Sayang suasana eksotis Ranu Kumbolo rasanya sudah tidak bisa lagi mengobati rasa kecewa mereka. Maklum kemarin mereka telah gagal mewujudkan obsesinya untuk merayakan kelulusan sekolah di atas titik tertinggi pulau Jawa tersebut. Badai yang begitu dahsyat dan datang tiba-tiba telah memporak-porandakan semua rombongan pendaki yang ingin menjejakkan kakinya di Atap Jawa. Namun setidaknya kami masih bersyukur, sebab nasib kami lebih baik ketimbang dua pendaki asal Bekasi yang saat itu diketahui telah hilang keberadaanya dalam summit attack dini hari kala itu.

Untuk mengobati rasa kekecewaan mereka, saya pun berinisiatif mengambil jalur pulang yang berbeda dari jalur saat kami berangkat kemarin. Jalur Ayek-ayek, sebuah jalur pendakian yang menurut saya lebih menantang dan berat, tapi memiliki pemandangan lebih eksotis dibanding jalur normal yang kami lalui kemarin. Sedikit saya deskripsikan, Ayek-ayek adalah nama sebuah gunung kecil/bukit di jalur pendakian Semeru. Dimana pas di tengah bukit tersebut berdiri sebuah tugu tapal batas sebagai pemisah yang membelah wilayah kabupaten Malang dan Lumajang.

Di awal perjalanan tiada kendala berarti yang kami rasakan. Hanya lintasan datar berupa savana luas terbentang yang kami temukan. Sambil sesekali mata kami dimanjakan oleh panorama Illahi yang nampak sejauh mata memandang. Sebuah pengalaman perjalanan yang bisa jadi tak semua orang bisa beruntung mengalami seperti kami. Ah rasanya sudah cukup membuat kami lupa dengan peristiwa dini hari kemarin, saat ganasnya badai Mahameru telah mengusir kami secara paksa dari lautan pasirnya.

Perjalanan mulai terasa berat saat kami mulai memasuki kawasan kaki bukit Ayek-ayek. Jalur yang menanjak mulai membikin nafas kami terasa sesak. Tiada lagi senyum canda yang keluar, karena masing-masing mulai merasakan jika rongga dadanya mulai terbakar. Namun tak sekalipun kondisi tersebut menghentikan saya untuk rehat sejenak. Bahkan  langkah kaki semakin saya percepat, jauh dan semakin jauh meninggalkan rombongan anak SMA itu dengan semua keluh kesahnya,

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa saya mau lari dari rombongan yang keselamatannya harusnya menjadi tanggungjawab saya?. Apa saya sudah menjadi orang yang egois, padahal diantara mereka ada dua orang cewek yang begitu manis?. Sebentar saudara-saudara, Ijinkan saya untuk menyruput kopi dulu ya. Ijinkan saya mempersiapkan mental dulu untuk menjelaskannya. Because this is the one and only. Yah, ini adalah pertama kali dan hanya untuk anda saya mau membuka salah satu rahasia terbesar hidup saya.

Jujur, Lozz Akbar bukanlah tipe orang yang suka lari dari tanggung jawab. Tapi saat itu ada sesuatu yang membuat saya harus segera lari menjauh dari rombongan yang menjadi tanggungjawab saya. Ada sebuah faktor dari dalam tubuh ini yang tak bisa dibendung lagi. Revolusi dalam isi perut yang begitu dahsyat melebihi revolusi ala Khadafi. Saya harus segera sembunyi dari mereka untuk melepaskan sebuah hasrat alami. Jelas saya tak mau mempertaruhkan bandrol senior saya dihadapan anak SMA. Apa kata Blogspher dunia maya saudara-saudara?.

Namun apa yang terjadi?. Sepertinya keinginan saya tak sesuai dengan kenyataan, gara-gara ada salah satu dari rombongan selalu menguntit langkah saya. Semakin cepat kaki saya malangkah, dia pun mengikuti dengan cepat. Saya harus menerima realita, jika obsesi untuk membuang partikel-partikel usang dalam perut saya ternyata harus tertunda.

Sungguh pemandangan kami berdua saat itu jauh berbeda dengan kondisi rombongan di belakang yang sudah kedodoran. Di saat mereka di belakang berjalan bak kumpulan mobil yang berjalan di tol dengan situasi yang tengah padat merayap. Justru kami di sini menjadikan jalur lintasan Ayek-ayek bagaikan acara grandprix di televisi. Saling adu kebut layaknya Dani Pedrosa dan Valentino Rosi untuk meraih posisi.

Hingga akhirnya sampailah kami di bukit Ayek-ayek tepat di pal pembatas yang telah saya sebutkan di atas.

"Mas berhenti dulu ya, kayaknya saya kebelet nih", kata Hori, anak SMA yang telah menguntit saya tadi.

"Asem nih anak, wong saya ini berjalan seperti kesetanan agar bisa menjauh dari dia. Eh ternyata dia lagi kebelet juga", pikir saya mangkel.

"Yo wis kita istirahat dulu, saya mau be-ol juga kalau gitu, sambil nunggu anak-anak di belakang", sahut saya mencoba mengkamuflasekan niatan sebenarnya.

Saya pun segera menuju suatu tempat di semak-semak yang secara geografis masuk kabupaten Malang. Sambil membawa sebilah pisau komando dan sejerigen air sebagai perlengkapan toilet darurat saya. Saat sedang menggali tanah yang saya siapkan untuk jadi "toilet", tiba-tiba Hori menghampiri saya.

"Hoi, mau apa kamu kesini?. Emang kamu mau be-ol berjamaah?", teriak saya ketus.

"Cuma mau nanya mas, carane piye?", jawab Hori seakan tak bersalah.

"Carane piye opo?. Emang kamu gak pernah dikasih materi "beol di alam bebas" tah sama senior kamu?", Sahut saya semakin mangkel.

"Lah terus tempatnya di mana?", tanya lagi.

"Loh iki piye sih?. Sudah jelas kan saya di sini kamu di sana. Saya di Malang, nongkrong tuh kamu di sana di Lumajang", jawab saya

"Jangan ganggu wilayah orang dong"

"Jangan lupa tutup tuh harta karun kamu, biar gak jadi parfum alam nantinya", imbuh saya tertawa.

Hori pun mengangguk dan menuju ke tempat yang tadi telah saya tunjuk. Dan eng..ing..eng, untuk selanjutnya bisa ditebak kan apa yang kami lakukan?. Enggak mungkin lah kiranya saya tulis detail adegan yang jelas tak lulus verifikasi Badan Sensor Blogger tersebut hehe.

Alhamdulillah, akhirnya hasrat alami kami bisa kesampaian saat itu. Hingga tak seberapa lama tibalah rombongan yang tadi telah kami tinggal jauh di belakang. Dan tentu saja kami sambut dengan sebuah senyum seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami berdua.

Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan pulang menuju desa Ranu Pane. Tak ada lagi ajang adu kebut-kebutan. Tiada lagi anggota rombongan yang tercecer di belakang dengan langkah yang semakin enteng tentunya hehe.

Dalam hati saya berujar sambil melirik si Nona Manis yang tepat di belakang saya, "Untung kamu datang terlambat adinda, jadi rahasia di tapal batas itu selamanya akan tetap terjaga"

Dulur blogger, itulah sebuah pengalaman memangkelkan namun lucu yang pernah saya alami saat melakukan pendakian. Oh ya tolong jangan copas artikel ini sembarangan ya. Sebab ini adalah rahasia antara saya, Hori dan anda.

Biarkan tapal batas itu menjadi saksi bisu, jika saya dan Hori pernah memendam sebuah "harta karun" di kanan kirinya. Saya yakin satelit secanggih apapun tak kan bisa menguak misteri di sekitar tapal batas itu jika tidak ada seorangpun yang membocorkannya. Jadi maukah anda menyimpan rahasia itu rapat-rapat dan selamanya untuk saya? hahahaha

Lozz Akbar mepet ikutan  acara ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. 

Disponsori oleh : “Jeng Anggie,Desa BonekaKios108