Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Kirim Email

Kamis, 02 Februari 2012

Di Hutan pun Ada Etika

Di posting kemarin saya ceritakan tentang secuil pengalaman saya saat melakukan kegiatan di alam bebas. Sebuah kondisi yang tak bisa saya hindari, karena tiba-tiba saja ada sebuah "agresi militer" yang terjadi dalam organ tubuh saya hahaha. Memang terdengar agak saru, tapi saya berharap setidaknya anda bisa menangkap sebuah pesan yang coba saya sampaikan dalam posting kemarin. Jika sebuah etika juga diperlukan saat kita berada di hutan alam bebas.

Ada aturan main yang harus kita patuhi, meski tiada seorangpun di kanan kiri. Meski di hutan bukan berarti  bisa leluasa membuang sampah kita sembarangan. Walau tak ada satu pun polisi yang berdiri, bukan berarti pula kita bisa seenaknya merusak, mencoret,  mengambil atau bahkan membunuh segala sesuatu yang kita temui. Bahkan untuk urusan buang hajat sekalipun ada sebuah aturan tak tertulis yang harus kita patuhi.

Itulah salah satu sisi moral dari seorang pencinta alam. Selain sebagai tempat bermain, alam tanpa disadari telah menjadi sebuah tempat belajar sekaligus guru bagi kehidupan mereka. Belajar patuh tanpa harus disuruh. Belajar mentaati sekalipun tiada yang mengawasi. Alam secara tidak langsung menyadarkan mereka, jika  mereka harus bisa memfilter diri sendiri dan berupaya mengkondisikan bumi ini senantiasa lestari.

Nah kali ini saya akan sedikit berbagi tentang beberapa etika seorang pencinta alam saat berada di alam bebas. Semoga bisa bermanfaat buat dulur-dulur saya di pencinta alam atau mungkin juga buat anda yang mempunyai hoby berwisata. Sebab seperti yang pernah saya tulis di postingan lawas;  jika siapapun, dimanapun dan apapun baju kita, sejatinya kita semua bisa menjadi seorang pencinta alam.
  • Hormati adat istiadat sekitar
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Masing-masing daerah tentu punya adat istiadat tersendiri. Demikian halnya dengan penduduk sekitar daerah yang kita kunjungi, seringkali kita temukan sebuah mitos ataupun pantangan yang sangat mereka pegang teguh.

Cobalah untuk mencari info dari penduduk sekitar atau tokoh yang paling disegani tentang seputar pantangan-pantangan yang harus kita perhatikan di daerah tersebut. Sepanjang tidak melanggar akidah saya rasa tiada salahnya bagi kita untuk menghormati dan mematuhi aturan mereka. Sebab percaya atau tidak percaya, banyak kejadian orang hilang ataupun kesurupan yang terjadi disebabkan karena mereka telah melanggar rambu-rambu yang telah digariskan oleh penduduk sekitar.
  • Jangan latah membuat api unggun
Ada yang bilang jika berkemah tanpa api unggun, serasa sayur tanpa garam. Berpikirlah dua kali saat kita mau membuat api unggun. Buatlah api unggun karena benar-benar untuk kebutuhan, bukan karena semata unsur kesenangan. Jika hawa dirasa tidak terlalu dingin, lebih baik baik kita manfaatkan jaket atau tenda sebagai penghangat badan.

Sebisa mungkin kita cari ranting-ranting kering atau kayu patah sebagi unsur bahan bakar api unggun kita, ketimbang menebang pohon hidup yang jelas sedikit banyak akan merusak kondisi alam sekitar. Pastikan kondisi api benar-benar padam saat selesai membuat api unggun. Dan khusus untuk para perokok dilarang keras untuk membuang puntung rokok sembarangan, sebab banyak kejadian kebakaran hutan terjadi akibat puntung rokok yang dibuang secara sembrono.
  • Jangan cemari mata air
Air adalah salah satu komponen utama yang dibutuhkan dalam kehidupan. Hindari pemakaian bahan detergen macam pasta gigi atau sabun yang bisa mencemari mata air. Dilarang keras melakukana acara "larung saji" di mata air manakala isi perut sudah tak bisa ditahan lagi. Buatlah galian di tanah yang jauh dari mata air, lalu tutup rapat-rapat saat kita usai membuang hajat.
  • Jangan membabi buta dalam membuat tenda 
Usahakan untuk tidak membuat lahan baru untuk tempat tenda kita. Buatlah tenda  di lahan yang telah ditentukan macam camping ground  atau kita bisa gunakan lahan bekas tenda yang telah ditinggalkan orang lain. Saat kita usai melakukan kegiatan, usahakan untuk mensterilkan area seperti kondisi semula. Tutuplah jika mungkin ada galian-galian di tanah yang telah kita buat. Ambil kembali tali-tali rafia yang mungkin masih terikat di pohon setelah kita selesai membuat tenda.
  • Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak sepatu
Sampah sepertinya bukan hanya menjadi sebuah masalah di kawasan peradaban. Di hutan pun sampah sekarang sudah menjadi sebuah permasalahan yang patut kita perhatikan. Hindari membawa bekal logistik berupa makanan kaleng/botol kaca yang nantinya akan membuat kita enggan membawa sampahnya saat pulang. Sekecil apapun bawalah kembali sampah kita. Jika mau cobalah menjadi relawan kebersihan dadakan dengan memungut sampah yang kita temukan selama perjalanan pulang.
  • Jangan ambil sesuatu kecuali gambarmu 
Berpetualang di alam bebas atau berwisata, tentu saja kita berharap ada sebuah kenangan yang bisa kita ambil saat kita pulang. Namun apakah karena "untuk sebuah kenangan", semua itu kita jadikan alasan untuk mencomot sesuatu dari tempat kita berpetualang?.

Edelwies, adalah salah satu contoh obyek yang seringkali dijadikan pelampiasan oknum-oknum yang mengatasnamakan untuk sebuah kenangan. Padahal menurut saya Edelwies tak akan nampak indah lagi jika sudah dicomot dari tempat aslinya di dataran tinggi. Apakah tidak cukup lewat sebuah gambar yang kita ambil untuk mengabadikan "bunga abadi" itu?.
  •  Jangan membuat gurat dan coretan kecuali sebuah ingatan
Pernahkah anda mengunjungi obyek wisata yang tempatnya penuh dengan coretan-coretan tak bermakna?. Untuk apa coretan itu dibuat?. Apakah untuk menunjukkan eksistensi jika si pemilik coretan pernah mengunjungi tempat itu?. Saya rasa sebuah catatan perjalanan yang dibuat lewat media bernama blog akan jauh lebih keren dibanding melakukan aksi mencoret atau menggurat batu-batu dan pohon-pohon tempat mereka bermain.

Dulur blogger, mungkin itu beberapa etika bermain di alam bebas yang saya ketahui selama menjadi seorang pencinta alam. Semoga bisa menjadi perenungan bagi kita semua khususnya dulur-dulur saya di pencinta alam, jika pada dasarnya segala sesuatu yang terjadi pada alam semua tergantung dari sikap kita sendiri sebagai khalifahnya. Jika kita enggan berbuat sadis, alam tentu akan memberi kita sebuah senyum manis. Sebaliknya jika kita masih saja memperlakukan mereka dengan jahat, yo wis jangan pernah mengeluh jika di suatu hari nanti alam membalasnya dengan sebuah malapetaka yang begitu hebat.






Sekilas Pariwara...

56 komentar:

  1. Sebel juga sih kalo liat bnyak coretan tulisan yang gak ada guna nya di tempat2 wisata.
    Malah ada yg nulis no HP untuk booking Sex.

    BalasHapus
  2. essip lah pokoknya.. kapan-kapan ajak dhe dong ngeliat edelwies dari puncak daratan tinggi, tempat aslinya.. :D

    BalasHapus
  3. duh jadi pengen nanjak gunung lagi nih, setelah baca tulisan ente sob :D
    keren sob, memang betul klo dimana saja itu ada etikanya. nggak boleh asal aja semua ada aturannya :)

    BalasHapus
  4. wahh ternyata di alam bebas ada etikanya juga yachh...mudah2an mrk yg sering mendaki gunung bener2 memperhatikan etika ini yach uncle....biar alam kita tetap lestari.....

    BalasHapus
  5. Suratman Adi@
    jiyahahaha.. banyak jalan menuju Roma kali ya mas hehehehe

    Dhenok Habibie@
    uhui.. kapan nih? :)

    Herry@
    eh mas Herry doyan naik gunung juga ya

    Nia@
    kalau alamnya rusak kan kasihan Ina sama Walu mbak, cuma diwarisi sampah dan batu-batu penuh coretan

    BalasHapus
  6. Setuju semua sama Uncle Essip, beneran. Bahasanya itu lho: Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak sepatu. Jangan ambil sesuatu kecuali gambarmu... uuuh mantap dech pokoknya, pecinta alam sejati yang cool dan smart ;)

    BalasHapus
  7. Istilah "larung saji" itu keren banget uncle..hahaha.. Aya-aya wae..

    Kayaknya kita perlu meniru kucing ya? Kucing kan selalu menimbun setelah buang hajat.

    Kapan yah, aku bisa jalan-jalan ke alam bebas... *menghayal*

    BalasHapus
  8. wah wah..... Jaga Alam dan Alam akan menjaga mu .. iyaa kan om? ^^

    BalasHapus
  9. setuju.. jgn ngaku2 pecinta alam kl kita gak bisa mencintai alamnya itu sendiri secara alami ya :)

    BalasHapus
  10. Salam lestari, Lozz...
    Baca posting ini, ingatan saya seperti kembali ke masa berpuluh tahun lalu.
    Kala harum pinus menjadi bagian dari indahnya ketinggian
    Kala dinginnya malam menjadi sahabat sejati yang membuat saya tak ingin pergi
    Alam,
    Adalah untuk kita pelihara dengan penuh cinta
    Agar kelestarianya selalu terjaga...

    BalasHapus
  11. Banyak yang ngawur dan tak memperhatikan etika, Kang..

    Kalau "buang pupuk" seperti rahasia sampeyan kemarin sepertinya malah menyuburkan tanah ya Kang? hehehe

    BalasHapus
  12. Jangan kencing sembarangan..., kedengarannya sederhana, bayang ketika anda kencing tiba-tiba didepannya ada yang "teman" yang kangen tapi jahil...(khusus anda yang memiliki kelamin menonjol keluar)

    BalasHapus
  13. saya setuju dengan hormati adat istiadat...
    pernah suatu ketika saya camp di cuban talun dan salah satu teman membuat kegaduhan yang mengganggu... alhasil satu rombongan digoda jin penghuni tempat itu... :D

    BalasHapus
  14. Yunda Hamasah@
    loh cool 'n smart kan nama blognya Kakaakin Yunda :)

    Dewi Fatma@
    wkwkwk blogger kan harus bisa mencari istilah baru untuk sesuatu yang agak saru mbak

    Niar Ci Luk Baa@
    Jaga Niar dan Niar akan menjagamu.. hehehe

    ke2nai@
    yupz.. siapapun juga bisa menjadi pencinta alam meski tanpa organisasi pencinta alam

    BalasHapus
  15. Bintang@
    salam lestari mbak Irma.. wah ada senior nih..
    Kata Keluarga Tamasya "bumi juga butuh cinta"

    Sukadi@
    :-)) pupuk organik nomer wahid yo kang

    Die@
    yo apik deh ceritane kalau gitu Om =))

    Widhi Online@
    mungkin jin nya merasa terganggu ya

    BalasHapus
  16. Hmmm.. jadi inget waktu ke Baduy, kita gak boleh mandi pake sabun, nggak boleh pake pasta gigi, nggak boleh bawa sabun cuci, pokoke sabunlah (untuk Baduy dalam tentu saja)

    Awalnya, kami berontak (maklumlah, masih remaja) Tapi sebagian dari kami nurut2 aja n enjoy tanpa gosok gigi selama dua hari juga mandi gak pake sabun (kalau saya rela gak mandi, soale tempate terbuka wekekeke)

    Keterangan Pak Guru, yo kuwi, mereka kan menggunakan sungai untuk semua, yah, mandi, cuci piring dll. Eh, iki nek komen diteruske iso panjang lebar, soale pas ke Baduy ada yang "hilang" n setelah ditelusuri, temen2 yang "hilang" itu yah, ada yang melanggar aturan. pagi2 mandi, siyap pake sabun lagi. Untungnya ilangnya itu yah ketemu, eh, alhamdulilah ndink

    BalasHapus
  17. justru di hutan itu gan. etika mesti ditegakkan.

    dan ini mesti harus diperhatikan secara personal. karena hutan itu sepi, diri sendirilah yang menjadi satpamnya :D

    BalasHapus
  18. asli, aku sungguh kesal dg orang yang suka corat-coret tempat seperti hutan mangrove di denpasar. banyak banget coretannya, padahal ada petugasnya. kok ya mereka gak takut

    BalasHapus
  19. Selain memetik edelweiss, kata kata "jangan" di atas pernah tak lakoni kabeh, dulu waktu kecil, haha..

    Apik Kang tulisane, salam Lestari..!!

    BalasHapus
  20. Benar Kang, akan menajdi indah hidup ini bila kita dapat beretika dengan permainan hukum alam. Sebabhl itu merupakan butiran rahmat yang bertaburan dalam alam ini.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
  21. dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung,,,, mari tetap berkarya... ^^

    BalasHapus
  22. jangan tinggalkan sesuatu, kecuali jejak kaki .
    suka sekali dengan ungkapan ini.....

    semoga saja para pencinta alam yg bertualang ke hutan, sudah melakukan hal ini , Uncle...

    salam

    BalasHapus
  23. Saleum,
    Tips yang sangat bagus bagi para pecinta alam muda kita kang. Salam lestari.....

    BalasHapus
  24. Hmm...andai bisa berwisata ke alam bebas, naek gunung dan berkemah pasti menyenangkan..

    BalasHapus
  25. Yo mantap mas :)
    semua itu memang harus punya etika.
    ngeblog jg gitu

    BalasHapus
  26. I like it..! Meskipun aku tak pernah naik gunung dan bertualang di alam bebas, tapi aku sepenuhnya setuju bahwa etika di atas harus dipatuhi.

    Halo Kang, apa kabar? Maaf ya lama absen ngeblog, jadi lama tak mampir kesini. :)

    BalasHapus
  27. duh kapan camping lagi bareng kawan2. terakhir camping waktu smp

    BalasHapus
  28. Hiyyah.. jadi ketawa pas baca larung saji, pengalaman pernah melihat 'tembelek kingkong' di tengah jalan..
    Kok bisa ya mereka itu buang hajat ditengah jalan..

    BalasHapus
  29. saya pas ke pantai tuh banyak banget coretan love love gitu... anak muda emang aneh

    BalasHapus
  30. Anazkia@
    dishare lewat postingan dong pengalamane di suku Badui

    Iklan Baris Bagus@
    he-eh mas sangat efektif ya belajar patuh tanpa harus ada yang menyuruh

    Tunsa@
    perlu ketegasan dari petugas Kang, kalau perlu ada aturan main semacam denda buat yang suka corat coret

    Masbro@
    salam lestari kang.. :)>-
    semoga adik-adik kita selalu mematuhi etika kita sebagai seorang pencinta alam yo

    Indra Kusuma@
    kalau bukan kita yang menjaga, sapa lagi yo kang

    BalasHapus
  31. Matdaus@
    matur nuwun dah berkunjung mas ;)

    Serambi Puisi@
    aamiin Bunda.. sangat diharapkan Bunda, para pencinta alam bisa menjadi contoh apa yang harus dilakukan saat melakukan sebuah petualangan

    Dmilano@
    eh ada yang baru Ultah nih.. met ultah yo bang. semoga sejahtera selalu

    Naya Elbetawi@
    dolan ke Jember aja deh Nay.. nanti saya ajakin berkemah

    Melly@
    bener mas.. harus ada rambu-rambu yang kita patuhi kan

    BalasHapus
  32. Catatan kecilku@
    eh mbak Reni baru muncul nih.. dah selesai nih mbak hiatusnya? salam buat Shasa ya

    Intenet Marketing@
    wah.. lama banget ya.. kemping di depan rumah aja mas.. gelar tenda asyik loh hehehe

    Jiah Al Jafara@
    makasih lagunya kemarin ya Jiah :)

    Yuniari Nukti@
    wkwkwk sampean pasti deh golek sesuatu yang unik

    Choirul Huda@
    padahal sudah ada media bernama blog yo kang untuk mengungkapkan sesuatu

    BalasHapus
  33. Uncle..maap baru mampir,akhirnya bisa komen disini ..
    hmm rumah baru catnya..
    Baiklah aku akan mencatat etika itu..
    kapan ya aku berpetualang ke hutan,hhi..
    seneng kayanya..*ajak Papa olive ahh*
    kalo di Bandung paling ke Taman Hutan Raya Dago pakar,udah sering..enak adem..

    BalasHapus
  34. Betul Mas...Sepanjang keadaan alam dijaga penuh sikap etis bersahabat, tentunya kelestarian alam akan memberikan berkah berlimpah bagi semuanya.

    SALAM asri lestari juga dari Kendari.

    BTW..apa kabar Mas..maafkan baru sempat berkunjung kembali kemari. 8)

    BalasHapus
  35. Salam lestari Indonesia juga Akbar,,
    akan di praktekkan kalau berpetualang di alam lagi,

    BalasHapus
  36. Salam Lestari juga Bang Lozz...

    ehm...belum pernah naik gunung sih bang...
    dan sepertinya belum kuat mental ah bang...
    masih manja soalnya...

    ntar kalo disono mendadak kangen sama Lee Min Ho dan pengen nonton drama korea City Hunter gimana hayoh bang...berani tanggung jawab gak nih...hihihi...

    BalasHapus
  37. Membaca artikel ini jadi ingat kisah santri dengan seekor burung dan perintah kyai untuk menyembelih burung itu tanpa satupun yang mengetahui

    hanya satu santri yang lulus dan tidak menyembelih si burung karena merasa ada satu yang selalu mengawasi apa yang dilakukan dimanapun dia bersembunyi

    salam dari pamekasan madureh

    BalasHapus
  38. BTW bengkelnya belum buka ya, cuma ada brankas hitam berisi simpanan blog ini

    BalasHapus
  39. Mama Olive@
    ya Hutan Dago itu aja teh yang harus kita lestarikan.. agar tak punah dimakan perkembangan jaman ;)

    Tusuda@
    eh ada BliTu.. kabar baik nih Bli.. bentar lagi saya mampir sana deh

    Ysalma@
    kasihan Yunior kang mbak, kalau cuma disisain alam penuh coretan dan sampah

    Bibi Titi Teliti@
    nanti saya usulkan syuting City Hunter di pegunungan Indonesia.. piye?

    Citro Maduro@
    nanti kang... nunggu pas harinya :-w

    BalasHapus
  40. 'jangan ambil sesuatu kecuali gambarmu'
    Kalau untuk tujuan mempertahankan diri, gakpapa kan ya, Mas?

    BalasHapus
  41. Larung saji, LOL.
    Eh itu paling atas fotomu?
    Gantengnyaaaa...
    Ahahaha, soale seko mburi~

    BalasHapus
  42. Setuju Om. Kasian banget kalo setiap orang ngambil edelwies, trus kalo ada seribu orang yang naek gunung maka gundullah bunga ituh :-(

    Btw Uncle, ekye juga sering tuh menabur pupuk alam semasa gawe di belantara KalTim dan Riau. Hihihi, lagi ngecek taneman, hasrat tak dapat ditahan lagi, langsung buru2 cari tempat yang pas buat ngebom hahaha

    BalasHapus
  43. iya nihh Mas...kabarnya baik-baik juga, dan balik lagi bisa bertutur sapa via dunia ngeblog.
    Makasi ya Mas, atas supportnya... ;)

    BalasHapus
  44. Hwii.. Baru tau kalo Uncle Lozz seorang pecinta alam. Salam Rimba Lestariii... !!! :D

    Aku juga jarang loo bikin api unggun. Juwwwaraang banget. Mungkin saking jarangnya, kalo disuruh bikin juga gak bisa. Hahaha.. Soalnya selama ini tenda, jaket, sarung tangan, kaos kaki, dan sleeping bag rasanya sudah cukup :D

    Paling sedih kalo lihat vandalisme macam coret-coretan gitu, terutama yg pernah aku lihat di gunung Agung. Miriiiss banget. Tebing segitu gede nan indah jadi jelek, kotor, dan sisi 'alami'nya udah ilang. :'(

    BalasHapus
  45. Mas Lozz, salam kenal.

    Saya setuju sekali dengan uraian mas tentang pelestarian alam. Ternyata etika tidak saja harus diperhatikan antar sesama manusia, tapi etika kita terhadap alam nggak kalah penting, bahkan sangat penting.

    "Jangan ambil sesuatu kecuali Gambarmu". Bagaimana kalau di gambar itu ada sesuatu yg tanpa sengaja ikut terambil, penampakan tertentu misalnya :D

    BalasHapus
  46. Kakaakin@
    dalam pencinta alam itu ada sebuah ilmu bernama Survival Kak. Dimana kita diperbolehkan mengambil sesuatu di alam dangan catatan saat kita mendapati sebuah kondisi darurat, macam tersesat atau kehabisan bekal makanan

    Una@
    :(( awas dikau Unaaaaa...

    Zulfadhli's Family@
    loh..loh.. ternyata?? ;))

    Tusuda@
    oke deh Bli.. matur nuwun dah mampir lagi ya

    Armae@
    bagus.. teruskan apa yang kamu lakukan nak hehe

    BUdiastawa@
    salam kenal balik Bli Budi.. kalau itu mah masuk gambar Bli hahaha

    BalasHapus
  47. betul, uncle ini aturan buat para pecinta alam sejati ya, jangan naik gunung hanya keren2an doang, tapi malah merusak alam

    BalasHapus
  48. hee hehe istilah Larung Saji nya itu ternyata BAB toh. bisa aja..yup, jgn suka ambil si Edel tuh. Bikin rusak aja.

    BalasHapus
  49. dulu sewaktu jd anggota PPA di sekolah, prnh jg naik gunung kerinci, (mas lozz prnh kesana ??/). dan disana bk sekali hal yg bikin kita miris, sepanjang jalan, pohon2 ditulisi yg tdk senonoh, tanah2 byk yg dicangkul asal,bekas api unggun ga dibersihin,,,jadi setuju dg postingan ini,,,,jgn semena2 thdp alam, krn alam klo sudah marah....manusia tak akan bisa menghindari

    SALAM LESTARI

    BalasHapus
  50. simple sebenarnya mas,ketika kita menghargai lingkungan sekitar kita maka kita akan dihargai pula itulah yg dinamakan hukum keseimbangan

    BalasHapus
  51. yang paling menyedihkan saat ke gunung adalah soal sampah
    selalu saja ada yang ga mau bawa turun lagi sampah plastik

    BalasHapus
  52. Monda@
    iya nih tante.. banyak sih oknum-oknum penikmat alam yang mengatasnamakan pencinta alam, tapi kenyataan di lapangan justru merekalah para perusak alam itu sendiri :(

    Sang Cerpenis Bercerita@
    hehehe mbak Fanny kok fokus ma bagian itu sih

    Mimi Radial@
    wow.. hebat donk sampean mbak.. udah bisa nyampai Kerinci

    Andy@
    betul mas Andy.. jika kita menyayangi bumi, insya Allah bumipun akan menyayangi kita

    Rawins Mumet@
    nahh itu lah kang.. apa perlu ada petugas kebersihan gunung ya

    BalasHapus
  53. Uncle Lozz...maaf baru mampir nih.. :-)
    Mnrt aku justru di hutan itu ya kita hrs sangat menjaga etika.. Terlalu banyak cerita2 nyeleneh oleh2 temen2 yg pulang hiking.. Dan lagipula karena hutan juga lah kita yg tinggal di kota msh bs bernafas.. Semoga hutan Indonesia tetap lestari ya.. Amin.. :-)

    BalasHapus
  54. hutan adalah ladang oksigen kita, kita harus jaga dan lestarikan terus agar kita tetap bisa menikmati oksigen hingga nanti....
    salam lestari....

    BalasHapus
  55. 2012 aku jek durung naik gunung, pas 2015 mulai naik, ealahhh sampah di atas uakeeeh tenan, padahal sewaktu naik diwanti-wanti harus bawa trash bag, ternyata di atas sana masih banyak sampah, vandalisme juga ada haduhhh papan yg susah dibuat oleh petugas mendadak rusak karena coretan, sudah seharusnya kita semua sadar, jangan lagi merusak alam dan fasilitas yang ada di dalamnya *uakeeeh tenan ikih komen'e*

    BalasHapus