Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Rabu, 29 Februari 2012

Gara-gara Lemot Koneksi Saya Komplain di Blog Ini


Bekerja di bidang usaha pelayanan jasa macam warnet. Tentunya saya harus bisa memberikan sebuah pelayanan yang terbaik bagi para pelanggan. Melayani mereka dengan sepenuh hati. Memberikan sebuah solusi manakala ada sebuah kendala yang mereka hadapi saat bermain internet. Jika  ada sebuah permintaan mereka yang dirasa enggan atau tak bisa saya  lakukan, saya pun harus bisa melakukan sebuah penolakan secara halus dan baik pula tentunya.

Di warnet saya harus bisa berperan bukan hanya sebatas sebagai seorang satpam dunia maya saja.  Dimana tugas utamanya  hanya mengawasi laju angka-angka billing yang tertera di layar monitor. Saya harus bisa berperan multifungsi. Menjadi tukang parkir, tukang jaga sendal, tukang cari artikel, tukang ketik, bahkan jika perlu saya harus menjadi seorang tukang pukul seperti yang pernah saya tuliskan disini. Semua itu harus secara suka rela saya lakukan. Tanpa mengharap sebuah imbalan berupa tips dari para pelanggan saya.

Seorang karyawan bagi saya adalah salah satu figur utama yang menentukan baik buruknya reputasi dari sebuah bidang usaha. Yah, saya harus mempunyai pikiran jika saya bukan hanya diupah sebagai seorang tukang jaga warnet saja. Meski ramai atau sepinya pelanggan tidak akan berefek pada upah bulanan saya, tapi saya harus bisa menjaga reputasi tempat saya bekerja. Yang tentu saja aplikasinya dengan memberikan sebuah pelayanan yang terbaik bagi para pelanggan.

Bicara tentang sebuah pelayanan, saat ini saya sedang merasakan sebuah kondisi dimana akibat ketidakbijakan dari sebuah pelayanan akan berakibat negatif pula bagi pelanggan. Ceritanya saat ini saya sedang mengalami sebuah kendala pada koneksi internet di rumah saya. Bagi saya kondisi ini cukup menyiksa batin. Saya penderita insomnia stadium tinggi, jadi butuh koneksi yang menemani saat malam hari. Internet adalah sarapan pagi saya. Namun semua itu sekarang tak bisa saya lakukan, gara-gara hanya dua buah lampu ijo yang menyala di modem saya. Yang artinya KONEKSI PUTUS..!

Beberapa hari yang lalu saya mencoba menghubungi petugas yang dulu memasang jaringan internet di rumah. Saya tahu bukanlah modem yang menjadi sumber masalah yang terjadi pada koneksi, tapi mungkin pada kabel-kabel di luar rumah lah penyebab masalah itu. Tapi si petugas menjawab jika modem yang menjadi sumbernya. Oke deh akhirnya saya pun mengganti modem dengan  modem baru yang dulu belum saya ambil sebagai jatah pasang baru. Koneksi mulai terlihat berjalan normal, meski saya merasakan ada sebuah penurunan drastis pada kecepatan.

Malamnya sepulang kerja saya mencoba akses internet dari rumah saya. Lalu apa yang terjadi?. Ah lagi-lagi hanya dua lampu ijo yang menyala, yang artinya malam itu saya lagi lagi tak bisa ditemani nona Speedy. Esok harinya saya kembali menghubungi petugas. Saya ceritakan tentang kondisi koneksi yang masih saja seperti  kemarin. Saya pun berargumen jika mungkin saja masalah terjadi pada jaringan di tiang kabel telepon yang ada di depan rumah saya. Si petugas pun akhirnya menjanjikan jika sore nanti akan mengecek jaringan tersebut. Sebuah janji yang hanya sebatas lips service, sebab sampai saat ini tak ada satu pun dari petug`s Telkom yang datang.

Saya tahu butuh sebuah pelumas agar permasalahan koneksi internet saya bisa cepat terselesaikan dengan tuntas. Namun saya berpikir bukankah selama ini mereka sudah mendapat gaji dari akumulasi uang rekening bulanan pelanggan?. Lalu kenapa harus ada iuran tambahan, padahal biaya  perawatan segala tetek bengek operasional Telkom bukanlah urusan pelanggan.

Saya jadi teringat saat dulu warnet saya mengalami gangguan yang serupa dengan koneksi internet saya. Berkali-kali kami melakukan pengaduan ketidaknyamanan, dan untuk kesekian kali pula petugas hanya memberikan sebuah jawaban Nanti. Saat saya mencoba mengadukan permasalahan tersebut ke call center pusat, ternyata kami malah di ping-pong untuk menghubungi kantor terdekat. Walaupun akhirnya seorang petugas datang beberapa hari kemudian, tapi saya masih tak habis pikir saat salah satu oknum petugas meminta sebuah uang saku dengan dalih biaya ganti kabel baru. Yah, hanya sebuah alasan untuk meminta imbalan, karena sudah jelas kabel di tepian jalan bukanlah urusan dari warnet saya.

Dulur blogger, mungkin cukup itu saja uneg-uneg saya membuang rasa sebel gara-gara lemotnya koneksi. Yah, ketimbang saya komplain ngamuk sambil membawa samurai ke kantor Telkom hahaha. Lebih baik saya komplain di blog ini saja. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran pada diri saya pribadi yang juga berprofesi serupa dengan para petugas itu. Yah, saya tidak boleh membiarkan pelanggan saya merasa terkatung-katung akibat kurang bijaknya pelayanan saya. Tentu saja sebuah pelayanan yang berprinsip pada keikhlasan, bukan karena sebuah imbalan.

Bagi saya Speedy sampai saat ini masih menjadi  koneksi tercepat di negeri ini.  Namun sungguh sayang jika kemudian menjadi lemot gara-gara sebuah pelayanan. Apa pun profesinya semoga saja dalam melakukan pekerjaan itu kita senantiasa ikhlas dan membingkainya sebagai bentuk ibadah. Bukan melakukan pekerjaan karena atas dasar iming-iming nominal uang yang nantinya akan digenggam. Sebab jika kita berprinsip seperti itu, lantas apa bedanya kita dengan sebuah mesin uang?.