Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Rabu, 14 Maret 2012

Hanya Foto Buram Itu


Sebelumnya mohon maaf untuk mbak Susi jika saya terkesan mekso untuk memajang foto buram di artikel ini. Tapi biarlah, yang jelas saya begitu antusias sekali berpartisipasi di Giveaway mbak Susi ini. Apalagi temanya tentang "Saudara". Satu kata tapi memiliki banyak cerita dalam kehidupan saya.

Jika saya ditanya tentang perihal saudara dalam arti genetika. Itu sama artinya saya harus menceritakan sesuatu yang buram, seburam foto yang ada di atas. Yah, disaat banyak orang yang begitu hafal dengan silsilah atau garis keturunan keluarga sampai kakek moyangnya. Justru saya merasa kebingungan menyebut satu persatu siapa orang yang mempunyai pertalian darah dengan saya. Orang-orang yang secara genetika harusnya bisa disebut sebagai saudara bagi saya, ternyata kini telah menjadi orang-orang yang melupakan saya. Sebaliknya orang-orang yang jelas tiada ikatan garis keturunan dengan diri saya, merekalah yang sekarang telah menjadi saudara dan sangat spesial dalam kehidupan saya.

Di dunia pencinta alam akhirnya saya sedikit demi sedikit bisa mengerti, jika saudara bukan hanya sebatas sebuah ikatan melalui garis keturunan. Tak harus ada kesamaan DNA untuk menjadi seorang saudara. Enggak harus ada kemiripan nama marga, jika kita ingin menjadi saudara bagi siapa saja. Saat kita merasa lelah dengan warna-warni kehidupan, lalu ada seseorang yang rela menjadikan bahunya sebagai sandaran. Saya rasa dia layak untuk disebut saudara. Yah, siapa saja bisa menjadi saudara kita. Tanpa harus mempedulikan apa golongan darah yang mengalir di tubuh kita, berapa nominal yang ada di kantong kita dan apa status sosial yang ada di KTP kita.

Foto diatas saya temukan beberapa hari kemarin. Mungkin itulah salah satu dokumentasi kenangan masa kecil yang bisa saya selamatkan. Saya tak ingat umur berapa tepatnya saya saat dilakukan pemotretan foto itu. Yang samar-samar saya ingat kala itu saya berada di sebuah studio foto tua bersama Ibu dan seorang perempuan yang dibarengi anak kecil. Seorang perempuan yang beberapa tahun kemudian saya tahu beliaulah ibu kandung saya, tapi sampai akhir hayatnya saya terlanjur akrab memanggil beliau Blik.

Anak kecil yang duduk di sadel vespa mainan itulah saya. Sedang anak kecil satunya adalah Upri, salah satu adik kandung saya yang umurnya selisih 2 tahun dari saya. Meski kita pernah merasakan lezatnya ASI yang sama, tapi tak sedemikian halnya dengan alur cerita kita. Sama-sama lahir dari ranah Batavia, tapi Upri tak pernah sekalipun  menangis gara-gara si Abang memungut kelerengnya dengan paksa. Si Abang pun tak pernah menjadi seorang pahlawan saat Upri mendapat gangguan dari teman-teman sepermainan. Yah, kita hidup dengan ceritanya masing-masing. Si Upri sejak lahir hingga sekarang hidup di tengah sesaknya metropolitan. Sedangkan saya selepas umur 2 tahun kota kecil bernama Jember yang selanjutnya yang saya jadikan sebagai medan bertempur dalam kehidupan.

Lain kota lain pula cerita. Banyak perbedaan meski kita saudara sesusuan. Mungkin hanya di dunia maya saja kita mempunyai kesamaan. Yah, kita sama-sama seorang pencari recehan dunia maya. Pernah dulu selama 2 tahun saya mencoba mengadu nasib di Jakarta. Seringkali saya menyambangi Bulik (ibu kandung) saat akhir pekan tiba. Disanalah akhirnya saya paham jika faktor lingkungan ikut menentukan psikologis seseorang. Banyak ketidakcocokan yang saya rasakan dengan Upri. Ingin rasanya saya teriak atau setidaknya memberikan sebuah wejangan layaknya seorang abang kepada adikknya. Tapi saya merasa mungkin lebih baik saya bungkam, karena saya merasa sebagai abang sudah cukup lama menghilang bagi dia. Mungkin karena faktor tak terbiasa bersama itulah yang membuat hubungan kami tak ubahnya seperti sahabat biasa.

Alhamdulilah, si Upri sekarang ssudah mengalami perubahan yang drastis setelah Mamak kami berpulang ke Rahmatullah. Kabar yang saya dengar Upri sudah tak lagi terlena dengan glamornya muda-mudi ibukota. Dia pun sekarang telah berkeluarga dan dikaruniai seorang putera. Seorang bocah bernama Rico yang hanya bisa saya pandangi lewat fotonya di dunia maya. Entah jika saya dipertemukan dengannya saya tak tahu apakah Rico masih mengenali saya sebagai Unclenya.

Dulur blogger, itu mungkin secuil kisah saya bersama adik saya bernama Upri. Jika ditanya apakah saya tidak sayang Upri. Hmmm. Jika saja dengan adik saya Riska  dan adik-adik saya di pencinta alam yang tiada pertalian darah, saya merasa sayang. Bagaimana halnya dengan Upri yang jelas sama-sama pernah lahir dari rahim yang sama?. Tapi biarlah, tak selamanya sayang harus diungkapkan dengan berjalan bergandengan. Hanya sebuah doa dari seorang abang yang mungkin bisa saya berikan agar Upri senantiasa diberi keberkahan.

Matur nuwun mbak Susi, karena anda telah sukses menyadarkan saya akan saudara-saudara saya yang telah hilang. Jujur, beberapa hari yang lalu saya tersentuh membaca artikel yang penuh emosional dari blog anda. Saya rasa ada beberapa kesamaan yang terjadi dalam kehidupan antara saya dengan anda. Mungkin kita sama-sama pernah merasakan perasaan dibuang atau disingkirkan. Tapi biarlah, bukankah sekarang kita sudah merasakan legit dari sebuah perasaan pahit?.

Susindra bagi saya adalah seorang wanita tegar. Seorang Kartini modern yang selalu tegak berdiri laksana karang. Jangan biarkan masa lalu membunuh semua impian anda. Usah bersedih meski kanan kiri meneriakkan sesuatu yang tak ada pada diri anda. Adakalanya karena sebuah ego manusia bernama dunia, seorang saudara akan tega meninggalkan kita. Tapi semoga saja kita sadar jika siapapun bisa menjadi saudara dan selalu ada di samping kita, seperti halnya yang terjadi dalam kehidupan saya. Dan jika boleh, meski tiada jabat tangan erat diantara kita, jadikan saya sebagai saudara bagi keluarga anda. Sebab sebuah kebahagiaan spesial tentunya jika Destin dan Binbin mau memanggil Lozz Akbar dengan panggilan Uncle bagi mereka.

 Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY :  
Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra