Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 29 Maret 2012

Jika Saya Bisa, Anda Pasti Lebih Bisa

"TIDAK TAHU", itulah jawaban yang  selalu saya berikan manakala dulu diberi pertanyaan guru SD tentang apa cita-cita yang saya impikan. Saya bukanlah seorang yang sempit harapan dan miskin cita-cita. Namun rasanya saya tidak bisa memberikan sebuah jawaban spesifik layaknya anak kecil yang  memilih dokter, guru, pilot, tentara bahkan presiden yang menjadi pekerjaan idamannya.

Dulu saya adalah pribadi yang labil dalam hal memilih sebuah pekerjaan. Bahkan selepas SMA nyaris tak ada sebuah impian tentang pekerjaan apa yang nantinya akan saya lakukan usai lulus pendidikan. Saya putuskan sejenak untuk beristirahat dengan menjadi seorang pengangguran, yang ujung-ujungnya justru malah kebablasan. Entah berapa tahun lamanya saya menjadi seorang pemuda tak produktif. Hanya bisa menjadi seorang  "provokator" bagi teman-teman kampung yang sama-sama berbaju penganggur . Namun saya sangat berterima kasih  dengan pengalaman masa lalu itu, karena dari jalanan banyak pelajaran tentang kehidupan yang saya dapatkan.

Beberapa tahun kemudian saya sadar jika diri ini sudah lama terlena menjadi "anak muda". Semua bermula ketika saya mengenal sebuah dunia baru bernama pencinta alam. Sebuah dunia yang mampu membangunkan saya dari tidur yang panjang. Meski tiada tekanan dari orang tua agar saya segera bekerja,  saya  sadar  jika mau tidak mau sebuah pernak pernik duniawi bernama materi harus segera saya cari. Meski saya rasa kesadaran itu baru sebatas kulit ari. Yah, saya mau bekerja hanya karena sebuah angan-angan, bukan karena masa depan. Mencari materi hanya untuk sebuah obsesi menjadi seorang petualang yang mampu menaklukkan semua puncak tinggi yang ada di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Maklum saat itu makna pencinta alam bagi saya adalah berpetualang dan terus berpetualang.

Banyak pekerjaan yang coba saya lakukan. Saya hindari jenis pekerjaan yang berbau kantoran, sebab saat itu saya begitu alergi dengan semua yang berbau birokrasi. Saya masih sangat idealis dan salah kaprah dalam menerjemahkan kata "merdeka" saat itu. Saya hanya mau dengan pekerjaan yang tidak membatasi petualangan-petualangan saya. Saya pilih pekerjaan yang hanya mengandalkan otot dan saya tak terikat di dalamnya. Menjadi tenaga bantu di usaha PKL  VCD seorang teman,  tukang jemur usaha penggilingan padi, pekerja harian di DKP yang akrab dengan lumpur selokan, sampai menjadi  kuli bangunan di ibukota. Tapi semua itu tak bertahan lama, karena saya masih eman dengan petualangan saya.

Pada suatu ketika saya dihadapkan pada sebuah kondisi dimana saya harus menjadi seorang lelaki yang patah hati. Sebuah kisah yang mempertemukan saya dengan sebuah "Luka Yang Indah". Bagi saya semua itu sungguh menyakitkan. Saya dendam, tapi saya harus membalasnya dengan sebuah bukti jika saya tak akan pernah mati gara-gara patah hati. Saya harus segera bangkit dan membalas semua rasa sakit dengan sesuatu yang legit. Sudah waktunya bagi saya untuk menanggalkan semua idealisme saya. Melupakan semua obsesi petualangan saya. Merelakan sebutan "anak muda" pergi perlahan dari kehidupan saya.

Alhamdulillah, ternyata Sang Khalik mendengar semua doa saya, karena tak seberapa lama kemudian saya pun mendapat pekerjaan yang telah lama saya idamkan. Meski ini hanyalah pekerjaan masyarakat bawahan, tapi saya sangat cintai dan banggakan pekerjaan ini. Saya serasa menemukan sebuah kehidupan baru selain menjadi seorang pencinta alam. Dunia maya, yah.. itulah kehidupan baru saya. Disinilah medan pertempuran saya untuk berkarya. Inilah ladang saya dalam mencari rejeki. Mengumpulkan sen demi sen yang nantinya mungkin akan saya butuhkan saat Marpuah telah saya temukan.

Saya bangga menjadi seorang satpam dunia maya. Saya cukup bahagia kendati pekerjaan saya hanya sebatas seorang penjaga di sebuah warnet desa. Apalagi saat mengenal dunia bernama blogsphere membuat saya merasa mantap dan sreg jika dunia internet lah yang memang benar-benar cocok dengan pekerjaan saya.

Menjadi seorang blogger sungguh tidak pernah ada dalam impian saya. Saya bukanlah penikmat buku tebal, bukan mania sastra ataupun  novela. Bukan pula ilmu komputer yang menjadi latar belakang akademik saya. Saya baru tahu jika ada sebuah potensi diri  yang selama ini tidak saya sadari. Sungguh di luar dugaan manakala ternyata tulisan saya bisa menyentil kuping seorang petinggi di dewan. Yah, saya baru sadar jika selama ini saya cuma terbebani sebuah paradigma "saya tidak bisa" dan "saya tidak mampu". Padahal jika saya mau belajar dan berusaha semua pekerjaan itu tidaklah sesulit yang saya kira.

Rasanya saya sangat berbahagia dengan dua dunia yang saat ini saya lakoni. Di dunia nyata sangat bangga menjadi seorang pencinta alam. Saya bahagia menjadi bagian dari proses kehidupan adik-adik saya. Menemani mereka berkarya dengan apa yang kami bisa. Jika dulu untuk sesaat saya menjadi seorang "provokator" untuk hal-hal yang tidak baik. Mungkin sekarang waktunya bagi saya untuk menjadi seorang "provokator" yang mencoba mengarahkan hal-hal kebaikan untuk selamanya.

Demikian halnya di dunia maya, saya tidak boleh hanya sebatas menjadikan dunia itu hanya untuk memulung rejeki demi perut saya, tapi saya harus mau pula berkarya di dalamnya. Saya tak terlalu bermimpi ada sebuah buku dengan nama saya tertera di sampulnya. Impian saya cukuplah sederhana. Saya ingin menjadikan blog ini sebagai corongan kampanye lingkungan saya ke segala penjuru dunia. Hanya ingin berbagi pengalaman hidup lewat sebuah tulisan yang bisa diambil jika ada sesuatu yang baik, dan abaikan atau muntahkan jika ada sebuah pengalaman tidak baik yang terjadi pada diri saya. Setidaknya ada sebuah sinyum simpul yang keluar saat tulisan itu terbaca, bagi saya itulah sebuah prestasi untuk karya-karya saya.

Dulur blogger, seringkali masa lalu kita dibumbui dengan segala sesuatu yang berwarna abu-abu bahkan hitam. Tapi selama detik waktu masih berjalan disitu masih ada jalan untuk melakukan perbaikan. Kenapa harus ada kata malas jika pulsa usia kita belum tuntas?. Yang harus kita lakukan adalah terus dan terus mengisi ulang sisa pulsa kehidupan dengan segala kebaikan. Tidak ada kata terlambat jika kita benar-benar punya niat. Baik tidaknya hari ini tentu semua tergantung pada diri kita sendiri.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi siapa saja. Bisa memotivasi para lelaki patah hati. Bisa pula memberi inspirasi adik-adik dan teman-teman saya yang masih saja nyaman dengan sebuah zona bernama "enggan". Sebab jika seorang tukang sapu seperti saya bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, kenapa anda tidak?. Saya rasa jika ada sebuah niat dan usaha, anda pun pasti bisa dan jauh akan lebih hebat dari saya.