Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 24 Maret 2012

Kalau Tomcat Bisa Ngomong

Akhir-akhir ini di berbagai media sedang hangat-hangatnya memberitakan sebuah kejadian alam yang terjadi di masyarakat kita. Sebuah fenomena tentang  satwa mungil bernama keren Tomcat yang melakukan agresi ke pemukiman warga. Satwa yang seharusnya menjadi "sahabat" bagi pak tani ini, sekarang telah berubah menjadi sebuah momok yang tidak diharap kehadirannya.

Yah, Tomcat pada dasarnya merupakan satwa yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan alam, khususnya di sektor pertanian. Serangga mungil ini merupakan predator bagi wereng, hama yang sangat menakutkan bagi para petani manapun. Namun entah mengapa Tomcat sekarang malah terkesan merubah zona perburuannya. Dari yang awalnya duduk manis di areal persawahan, sekarang Tomcat diberitakan sudah mulai berani dolan ke pemukiman.

Bicara tentang Tomcat, saya jadi teringat tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat warga di daerah saya menjadi geger gara-gara ulah seekor Bos Javanicus alias Banteng Jawa yang nyasar masuk perkampungan. Ada yang mengatakan  saat itu banteng tersebut sedang kalap karena diburu oleh para pemburu liar. Tapi naluri pencinta alam saya mengatakan jika mungkin saja ada sesuatu yang tak beres dengan habitat asal banteng tersebut.

Beberapa hari kemudian saya pun mencoba dolan di sebuah daerah perbukitan yang ditengarai sebagai habitat asal banteng tersebut. Ternyata benar dugaan saya, hutan yang harusnya bisa menjadi tempat bermain yang nyaman bagi sekumpulan banteng, sekarang tak ubahnya ibarat neraka bagi mereka. Banyak sisi hutan yang digunduli dengan dalih alih fungsi ladang pertanian. Nyaris tak terdengar lagi kicau burung di sana, padahal hutan tersebut adalah hutan heterogen yang harusnya memiliki keanekaragaman satwa termasuk burung di dalamnya. Lantas apa hubungannya Tomcat dengan Bos Javanicus?. Bentar dulur-dulur, saya cek kanan kiri dulu ya, siapa tahu ada Tomcat yang mengintai karena saya rasani hehehe.

Di dunia pencinta alam saya tahu jika seekor satwa  nyaris tidak akan pernah menyerang duluan jika tidak merasa terancam. Seekor banteng yang  asalnya berjarak puluhan kilo dari tempat saya, mungkin tak akan pernah turun ke pemukiman manakala insting mereka mengatakan habitatnya masih dirasa nyaman. Begitu halnya dengan fenomena Tomcat, satwa yang habitat asalnya berada di persawahan ini, mungkin merasa terganggu karena rumah mereka sekarang sudah banyak yang disulap menjadi rumah warga.

Saat di sekolah dasar tentunya kita masih ingat pelajaran IPA tentang rantai makanan. Dimana disitu ada aksi caplok mencaplok yang tidak boleh putus agar keseimbangan alam tetap berlangsung. Kita tahu jika Tomcat adalah predator bagi hama wereng. Kita pun harus sadar jika Tomcat adalah hewan buruan pula bagi satwa di atasnya. Jika Tomcat sekarang terlihat merajalela? Hmmm. saya pikir ada sebuah rantai makanan yang terganggu atau mungkin putus dalam siklus kehidupan Tomcat dan satwa-satwa yang berkaitan dengannya.

Cobalah anda tengok betapa sekarang banyak sekali sniper-sniper tak bertanggung jawab yang tak henti memburu tokek, cecak, burung dan unggas liar di persawahan. Saya rasa satwa-satwa inilah yang harusnya menjadi predator bagi Tomcat secara alami. Tapi sayang akibat ulah tangan-tangan yang mengusik rantai makanan, Tomcat yang harusnya bisa menjadi kawan sekarang berbalik menjadi lawan.

Dulur blogger, segala sesuatu di dunia ini sudah di desain begitu indah dan sempurna oleh Yang Maha Kuasa.  Ada yang jadi dokter, guru, petani, tentara, penjaga warnet, tukang ojeg, dan lain sebagainya. Masing-masing individu tentu saja akan berperan sesuai fungsinya masing-masing. Bayangkan jika saja pak tani mogok tidak menanam padi, tentu saja roda kehidupan kita akan terhenti. Demikian halnya dengan fenomena Tomcat, harus ada penyeimbang di atas bawah dan kanan kiri satwa tersebut. Jangan sampai kodrat Illahi yang sudah dirancang begitu rapi ini, menjadi tidak seimbang karena ulah kita sendiri.

Mungkin itu sekedar opini saya sebagai seorang pencinta alam mengenai  Tomcat. Semoga fenomena tersebut bisa dijadikan pelajaran dan media taffakur bagi kita semua, jika keseimbangan alam kita saat ini sedang goyang. Dan sebagai khalifah  tentu saja sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga keseimbangan alam ini berjalan sesuai dengan desain awalnya. Jangan hanya mau bertindak saat sebuah wabah datang secara mendadak. Tapi antisipasilah dengan melakukan sesuatu untuk bumi yang kita cintai ini.

Ah andai saja Tomcat bisa ngomong, mungkin dia akan berkata "Elo apa gue sih sebenarnya yang lebih ganas?".