Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 11 Maret 2012

Lagu Anak, Dimanakah kau Kini?


Membaca artikel Tante Monda yang berjudul "Dear Pahlawanku Pencipta Lagu Anak", seakan kita diajak untuk mencermati sebuah fenomena yang terjadi pada kehidupan anak-anak Indonesia sekarang. Tak terdengar lagi lantunan  "Aku Anak Sehat" dari bocah-bocah yang biasa kita dengar saat mereka pulang sehabis mengaji. Sekumpulan bocah yang bersepeda bareng sembari menyanyikan lagu "Kring Kring Goes Goes", Ah semua itu sepertinya sudah menjadi sebuah pemandangan yang begitu langka.

Semua sudah berubah tanpa pernah kita sadari. "Ayam Jantan" sudah tak lagi berkokok, karena kalah garang dengan raungan si "Kucing Garong". "Si Kancil" sudah tak nakal lagi, karena si "Keong Racun" sekarang makin menjadi-jadi. "Kasih Ibu" pun jarang sekali didendangkan, karena anak-anak sekarang lebih suka bersenandung  ala orang dewasa lewat "Cinta Satu Malam".

Saya rasa Tante Monda begitu jeli mengamati segala perubahan yang terjadi dalam dunia anak-anak kita. Dengan usia beliau yang beberapa  generasi di atas saya, mungkin Tante Monda  begitu merasa sangat kehilangan dengan lagu-lagu yang dulu  selalu mewarnai masa kecilnya. Lagu-lagu yang secara tidak langsung turut mendidik Tante Monda,  sebab lagu anak-anak bukan  sebatas unsur bunyi-bunyian yang mudah dihafal oleh seorang anak kecil. Banyak pelajaran dasar pada anak yang bisa kita temukan disana, macam berhitung atau pengenalan warna. Ada pula pendidikan budi pekerti pada anak semacam menyayangi orang tua, disiplin, semangat untuk belajar, mengenal keagungan Tuhan dan banyak lagi pelajaran budi pekerti  yang ditemukan dalam lagu-lagu itu. Namun sayang seiring perkembangan jaman, lagu-lagu itu sepertinya sekarang sudah mulai ditinggalkan.

Mungkin ada yang berpendapat, "Ah jaman Tante Monda kan dah jadul". Hmmm.. saya rasa kita tak mungkin mengerem laju perkembangan jaman. Tapi menurut saya seberapa pun pesatnya perkembangan jaman, yang namanya dunia anak-anak akan tetap stagnan. Pola pikir mereka tentunya masih sama dengan pola pikir kita saat masih polos dulu. Hanya kondisi kanan kiri saja yang mungkin akan mengalami perubahan dan ikut mempengaruhi perkembangan anak. Masa kanak adalah sebuah  proses meniru dari apa yang terlihat dan dengar di kanan kiri mereka. Salah satunya adalah lagu yang mereka dengar, yang tentunya harus kita filter sesuai dengan kapasitas mereka sebagai anak-anak.

Pernah suatu hari seorang bapak  meminta mengisi koleksi Mp3 handphone mereka ketika saya bekerja di warnet. Di salah satu koleksi itu si bapak juga meminta sebuah lagu berjudul "Keong Racun". Si bapak juga mengatakan jika anaknya yang masih TK suka sekali dan hafal di luar kepala lagu tersebut. Heran, kenapa orang tua yang harusnya bisa berperan aktif untuk memfilter segala sesuatu yang dikonsumsi oleh anak-anaknya, sekarang justru malah terkesan menyodori anaknya dengan sesuatu yang belum pada waktunya dan menurut saya lagu itu tak baik untuk pendidikan si anak. Jika untuk kategori orang dewasa saja "Keong Racun" masih menjadi sebuah kontroversi. Lantas bagaimana jika kemudian malah dikonsumsi anak-anak kita?.

Semoga saja mulai hari ini kita berperan aktif untuk selalu memfilter apa yang layak untuk ditonton dan didengar oleh anak-anak kita. Banyak hal  bisa kita berikan untuk para bibit-bibit penerus bangsa itu. Biarkan mereka berproses alami menurut tingkatan umurnya. Bukan malah sebaliknya kita memberikan sebuah injeksi negatif yang mengakibatkan mereka dewasa sebelum waktunya.

Juni kemarin saya mencoba untuk membuat sebuah blog yang sedianya saya tujukan untuk anak-anak. Sayang, karena keterbatasan kemampuan saya menulis tentang dunia anak, Akhirnya saya cuma bisa isi blog itu dengan kumpulan lirik dan sound lagu anak. Ada sesuatu yang menarik saat saya mencari bahan-bahan lagu yang akan saya masukkan dalam blog itu. Dimana saya banyak melihat terjadi aksi coba-coba mengklaim lagu-lagu tersebut oleh oknum-oknum dari negeri tetangga.  Semoga semua ini bisa menjadi sebuah "warning" bagi kita semua untuk bisa lebih mencintai lagu-lagu anak itu. Sebab sebuah bangsa mungkin tak akan pernah berani mengklaim  budaya  kita, jika  budaya itu benar-benar dicintai di negerinya sendiri.

Berikut ini saya punya sebuah video lagu anak tahun 80an. Dulu saat kecil saya sukali menyanyikan lagu ini saat bersepeda ria dengan teman-teman sepermainan saya. Bagaimana menurut pendapat anda, khususnya yang muda-muda mengenai lagu tersebut. Apakah anda bisa menangkap sebuah pesan pendidikan anak di dalamnya?. Apakah lagu jadul tersebut memang sudah tak layak untuk dikonsumsi anak-anak jaman sekarang?. Monggo dishare lewat komen di bawah ya.







close




cbox


Dulur blogger, tumbuh besar lalu menjadi dewasa adalah sesuatu yang pasti akan terjadi pada anak-anak kita. Tapi jangan sampai anak-anak kita menjadi dewasa secara prematur. Bukankah kita semua tahu jika salah satu masa indah dalam kehidupan adalah masa kanak-kanak?. Jadi apakah kita mau merenggut masa-masa indah mereka itu dengan sesuatu yang belum pada waktunya?.

“Tulisan ini diikutkan  pada  Giveaway Pertama di Kisahku bersama Kakakin