Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 29 Mei 2012

Maaf Jika Ku Tak Menyentuhmu

Rasanya telah cukup lama aku tak memainkan jari jemari seperti sekarang ini. Serasa begitu asing saat kumencoba memasukkan dua kata kunci untuk membuka kembali rumah maya sederhanaku ini. Padahal dulu kau begitu setia menemani hari-hariku. Menjadi menu sarapan pagi sambil menikmati selinting sugesti serta secangkir kopi kesukaanku. Menjadi sahabat yang selalu setia menemani ketika aku dilanda insomnia stadium tinggi.

Kau begitu setia mendengar dan menampung semua ocehan dari seorang tukang sapu. Tentang dirinya,  negerinya dan juga tentang alamnya. Tentang apa yang dia lihat, dengar dan rasakan yang coba ia ungkapan lewat sebuah tulisan secara jujur menurut kata hatinya. Kau pun begitu sabar menerima saat tangan-tangan usilnya tiada henti mempermak wajahmu disana-sini. Yah, itulah kita dulu. Kau dan aku laksana muda-mudi yang sedang kasmaran. Seakan tiada sedikitpun diantara kita akan tega untuk meninggalkan. Namun entah mengapa sekarang tiba-tiba aku merasa enggan untuk menyentuhmu, Seakan aku menjadi suami yang sedang  memvonis talak satu kepada seorang istri.

Mungkin saja kau berpikir jika aku sudah tak lagi mengingatmu. Melupakan jika kau dan aku telah berjanji untuk terus berkarya hingga nanti salah satu diantara kita tiada. Kurasa tidak sayang..!. Bukankah lewat lagu itu telah  kujelaskan jika  aku adalah seorang blogger?. Bukankah kau tahu jika menjadi seorang blogger itu adalah pilihan hidupku?. Bisa saja kemarin aku tengah dilanda penyakit anak muda  bernama galau gulana. Sebuah kondisi tak tetap hati yang datang silih berganti. Datang dan pergi tak ubahnya bak jelangkung yang selalu menghantui.

Maaf jika kemarin ku tak menyentuhmu. Aku cuma jenuh dengan kondisi ini. Andai saja aku punya kuasa, ingin rasanya segera kuganti  monitor usang ini dengan muka  Alisa Soebandono yang selalu bisa kupandang tiap hari. Ku hanya merasa terlalu lama melayang di udara dunia maya, hingga lupa untuk kembali menapak kaki di dunia nyata. Aku juga sedang merasa tidak nyaman. Harusnya aku  belajar lagi untuk menerjemahkan arti dari sebuah senyuman. Ya, aku harus tahu jika diantara senyum-senyum itu terselip sebuah belati yang siap untuk menikamku kapan saja. Sejatinya aku hanya ingin berbagi senyuman, tapi entah kenapa sekarang semua tak ubahnya seperti ajang perlombaan. Kenapa untuk sebuah karya harus ada nomer satt, dua dan seterusnya?.

Pernah aku berpikir jika setelah bulan sebelas saja aku akan kembali menyentuhmu. Tapi kurasa lebih baik aku terus melangkah  di jalanku, seperti biasa, apa adanya dan sewajar-wajarnya. Tak perlu berhitung seberapa banyak jempol yang kita terima. Tak perlu bertanya sejauh mana nama kita akan membumbung ke angkasa. Supaya mereka tahu jika sejatinya aku memang tak mau berlomba dengan siapa saja. Namun jika mereka masih saja tetap memaksa, biarlah mereka ambil semua jempol-jempol itu. Tapi mohon sisakan satu jempol saja untukku, agar aku bisa mengangkat jempol itu tinggi-tinggi untuk mereka, sebagai tanda jika aku telah mengaku KALAH..!