Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 19 Juni 2012

Apa Artinya Hidup?

Selain "Luka Yang Indah", ada lagi sebuah lagu yang saya jadikan "doping" dalam menjalani hari-hari saya. Lagu ini diciptakan oleh kakanda saya yang tak seberapa tampan, sebagai proklamasi jika Lozz Akbar telah sembuh dari sebuah cedera hati.

Kecuali take vocal, semua proses penciptaan lagu tersebut dikerjakan oleh Masbro dan abang Mungki sebagai peracik bumbu musiknya. Di dalam lagu berjudul "Nyanyian Burung" ini saya hanya urun sebuah kalimat untuk dijadikan liriknya. Batdonwori, dijamin ora ngisin-ngisini. Suara saya kayaknya layak jual deh di pasar grosir Tanah Abang hehehe.

"Apa artinya hidup", itulah sebaris kalimat yang saya sodorkan kepada Masbro untuk dia racik menjadi sebuah lagu yang asyik. Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul di awang-awang pikiran kita semua. Tentang untuk apa hakekat diri ini diciptakan. Tentang bagaimana kita menjalani anugerah kehidupan yang telah diberikan Tuhan. Juga tentang akan kemana  jika kelak pulsa usia kita sudah lewat masa aktifnya.

"Hidup itu adalah ibadah",  sebuah kalimat yang sering kita dengar di sela-sela obrolan tentang kehidupan. Sebagai muslim tentu hukumnya wajib bagi saya untuk  melaksanakan pesan dari langit itu. Meski tak bisa dipungkiri dalam kehhdupan religi masih banyak lobang yang harus saya tutupi. Tapi semua itu butuh proses, dan saya pun harus sabar serta istiqomah menjalani proses itu. Sampai detik ini saya pun terus belajar agar segala aspek kehidupan saya senantiasa dalam bingkai ibadah. Dalam pekerjaan, berorganisasi, bersosialisasi dengan masyarakat, menulis dan semua hal yang dilakukan saya terus berusaha  memaknai semata karena ridho Sang Pencipta Kehidupan.

Alhamdulillah di dunia maya saya menemukan sebuah dimensi yang menjadi bagian kehidupan saya untuk berproses. Sebuah aktifitas bernama blogging yang sedikit banyak membantu saya untuk mencari sebuah hakikat bernama kehidupan. Essip = Lozz Akbar., yah rumah maya ini tak hanya sebatas aksi tulis menulis untuk melampiaskan uneg-uneg hati. Essip adalah cerminan diri saya yang selalu mempertanyakan kejujuran dari apa yang saya tuliskan. Sebagai media pengingat manakala ada coretan yang tak sesuai dengan diri saya di kehidupan nyata.

Lantas apa benar bingkai ibadah sekarang sudah ada dalam kehidupan saya?. Entahlah, saya tak bisa menjawab. Bagi saya pahala dan dosa adalah teka-teki Tuhan. Saya tak pernah tahu seberapa banyak duo Rakib Atid memberi tanda "like this" pada segala sesuatu yang saya kerjakan. Yang bisa saya lakukan mungkin hanya menjaga agar rel kehidupan saya senantiasa  menuju sebuah stasiun bernama "kebaikan". Tidak cukup sampai  disitu, saya pun harus menjaga semua yang saya anggap kebaikan itu  agar tak terkontaminasi dengan virus riya' dalam hati. Bagi saya sebuah perbuatan akan gugur nilai pahalanya, jika ada benih-benih riya' yang ditanam oleh pelakunya.

Ikhlas, itulah partikel yang harus dimiliki bagi para pencari ridho Illahi. Tanpa keikhlasan hidup ini tak ubahnya ibarat kerja rodi. Hanya menjadikan profesi kita sebagai mesin uang. Memanfaatkan kepandaian kita dengan pamrih pujian. Mempergunakan kekayaan dan jabatan hanya untuk mengejar gengsi semata. Sebuah kesia-siaan tentunya jika setiap pekerjaan kita hanya mengatasnamakan dunia.

Itulah penyakit-penyakit hati yang harus saya taklukan untuk menggapai sebuah keikhlasan. Saya harus berani bertempur melawan tentara-tentara riya'  yang ada dalam diri. Saya harus mampu menaklukkan mereka, merebut benteng keikhlasan dalam hati saya, lalu menancapkan sebuah panji-panji bertuliskan Lillahita'ala.

Pernah di suatu ketika saya ber-SMS ria dengan seseorang yang saya anggap menjadi salah satu kandidat Marpuah. Dia bertanya, "Apa tidak ada pekerjaan lain selain menjadi seorang penjaga warnet?". "Apa saya sudah bahagia dengan kondisi pekerjaan saya sekarang?". Pertanyaan spontan yang membuat sejenak hati saya kecut. Sebuah pertanyaan yang membuat si fulan harus segera mengangkat koper dari Lozz Idol hehehe. Tapi tak seberapa lama kemudian justru saya tersenyum simpul saat membaca ulang SMS dari si fulan tadi.

Bahagia?. Ah kenapa tidak?. Kebahagiaan menurut saya lebih banyak kita nikmati ketika belum ada dalam genggaman. Bahkan seringkali terjadi kebahagiaan yang sudah kita dapatkan rasanya tak senikmat ketika masih dalam impian. Saat saya menjadi seorang pengangguran, bahagia menurut versi saya adalah dengan menemukan pekerjaan. Lantas apa yang terjadi?. Ada sisi kebahagiaan lain yang sekarang lepas dalam diri saya. Tak bisa lagi saya bebas merdeka berpetualang. Sulit lagi rasanya saya mencium aroma hutan yang dulu menjadi kegemaran. Lantas apakah jika bertemu Marpuah nanti, bahagia hanya saya anggap sesuatu yang biasa?. Jelas buaaaaaaahaaaaagiaaa sekali dong ah. Namanya aja ketemu jodohe hehehe.

Esensi kebahagiaan terletak pada saat kita mensyukuri apa yang ada di tangan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk mengatakan jika saat ini saya tak bahagia. Saya bahagia karena mujur terpilih diantara mereka yang masih menganggur. Kenapa saya tidak bahagia, lah cuma duduk internetan saja ada yang kasih duit bulanan?. Kenapa saya enggan mengucap hamdalah, padahal di kanan kiri saya begitu banyak anugerah?.

Kebahagiaan juga ada ketika kita bisa mempergunakan semua anugerah itu bernilai faedah. Meski kecil tapi jika penuh keikhlasan insya Allah akan ada ganjaran yang kita dapatkan. Puas, senang dan bahagia pasti akan kita rasakan pula saat melihat orang lain tersenyum bahagia karena tangan kita. Bahagia bagi saya adalah ketika melihat seorang anak kecil keluar dari warnet saya dengan langkah kecil dan sungging senyuman. Sebuah senyuman yang dia dapatkan setelah membawa selembar kertas yang baru saja saya ketik isinya. Itulah bahagia menurut saya secara sederhana.

Kebahagiaan itu sebenarnya ada disekitar kita. Pada keluarga, teman, saudara, pekerjaan, sekolah, alam, blog dan dimana saja kita berada, bahagia sebenarnya begitu dekat dengan kita. Kebahagiaan pada dasarnya  mudah dan murah, asal kita mau ikhlas dan membingkainya dengan ibadah.

Selamat hari jadi mbak Syam

Selain lagu, saya juga punya sebuah kado untuk anda. Hanya sebuah bingkisan  sederhana berisi pertanyaan yang seringkali menjadi teman ketika saya melamunkan Marpuah  tentang hakikat

"Apa Artinya Hidup?"