Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 20 Juli 2012

Ada Konspirasi di Belakang Warung Itu


Lagi-lagi Essip disanggongi sebuah komen yang nggregetno ati. Sebenarnya bukan isi tulisan komennya yang saya permasalahkan, tapi komen bergambarnya itu loh yang membuat saya geregetan, seakan empunya komen mau menantang saya gasakan.

Loh emang si anonim pemilik komentar dahsyat itu muncul lagi? hehehe enggak kok. Komen itu datang dari  Den Mas Ngabehi Haris Samaranji Blontang Brotowali. Seorang dulur blogger asal semarang yang  protes karena merasa tidak dilibatkan dalam acara konspirasi 18 Juli. Lah emang semua itu salah saya?  salahe dewe dong, kenapa sampai sekarang belum ngurusi KTP jadi warga desa Webe. Jadi yo wis, nrimo wae  kalau kemarin ora kebagian sensasi "ngerjain komandan" hehehe.





Sejak Jambore Blogcamp digelar sebenarnya saya sudah mempunyai rencana membuat sebuah artikel khusus yang diposting tepat di hari jadinya. Tiga hari menjelang ultah Blogcamp, saya pun mempersiapkan sebuah pernak-pernik untuk artikel itu nantinya.  Artikel tentang Blogcamp, ucapan selamat, kembang api, musik dangdut plus penari latarnya, itulah konsep saya di artikel tersebut. Layaknya pesta perayaan beneran, saya  menggelar pula semacam gladi resik sebagai persiapan. Beberapa percobaan pun saya lakukan di sebuah blog siluman. Hasilnya? Alhamdulillah sesuai dengan bayangan saya. Musik dangdut bergema, penari latar lancar jaya, kembang api pun siap diluncurkan ke angkasa. Intinya saat itu saya merasa benar-benar yakin semua akan lancar-lancar saja dan tugas saya selanjutnya hanyalah membuat sebuah artikel untuk pengiringnya.

Sehari sebelum ultah Blogcamp saya pun mulai menggarap artikel tersebut. Dalam hati saya yakin pasti banyak pula diantara dulur blogger lainnya yang ingin memberikan sebuah kado posting di hari ultah Blogcampnanti. Jadi kenapa tidak sekalian diorganisir agar lebih semarak dan menjadi sebuah kejutan bagi sang komandan. Lewat YM dan FB saya mencoba hubungi beberapa dulur blogger, diantaranya Mbak Irma, mbak Melly, mbak Yuni, mbak Yunda Hamasah, mbak Iyha, mas Insan dan siapa saja yang online ketika itu. Semua pun sepakat menjadikan tanggal 18 Juli itu sebagai hari posting tribute to Blogcamp.

Sebuah konferensi via chat tiba-tiba muncul di FB. Isinya sebuah woro-woro dari mas Insan tentang rencana tersebut. Satu persatu blogger pun diundang hingga chat tersebut tak ubahnya sebuah ruang bawah tanah para gerilyawan yang sedang mengatur siasat perang. Mengatur strategi serapi mungkin dan tentu saja sangat dirahasiakan dari intaian pasukan telik sandi komandan.

Ide pun kemudian muncul dari seorang gerilyawan bernama teteh Nchie.  Sebuah aksi berpura-pura bungkam dan bermuka sengak pada setiap aktifitas yang dilakukan komandan. Saya heran kenapa semua yang ada disitu mengamini ide tersebut dan menjalankannya dengan begitu manisnya. Tidak menggubris setiap komentar Pakde d`n menyimpan rapi jempol-jempol mereka pada status-status FBnya. Yang tentu saja merubah suasana di ruang bawah tanah itu. Dari yang awalnya serius sekarang berubah menjadi ajang cekikikan sekaligus penyesalan. Mereka tertawa karena merasa sukses mengerjai komandan, tapi juga menyesal karena merasa mempermainkan komandan yang mereka sayang.

Segera saya lanjutkan menulis artikel. Sesekali saya mondar mandir menuju ruang bawah tanah, warung blogger dan markas blogcamp di FB untuk melihat situasi di medan perang. Disinilah sebuah insiden terjadi. Akibat sebuah ketidakfokusan, artikel separuh  jadi itu tanpa sengaja saya klik tombol publishnya. Yang berarti artikel itu launching tak sesuai jadwalnya. Saya pun segera menyimpan kembali "amunisi" itu rapat-rapat ke gudangnya dengan tujuan tak ada seorang pun yang sempat melihatnya. Namun di hati saya masih was-was dan khawatir artikel prematur tersebut terlanjur nongol di blogrol orang-orang.

Kekhawatiran saya ternyata terbukti terjadi. Sebuah status tiba-tiba muncul di Warung Blogger. Pak Mars mempertanyakan posting terbaru Essip yang hilang saat beliau mencoba membukanya. "Waduh bisa digebuki para emak-emak saya nanti", begitu pikir saya. Dugaan saya ternyata tepat karena saat obrolan YM baru saja terbuka mbak Iyha langsung menyambar saya. "piye sampean iku sam, nggarai ketemu wae", protes mbak Iyha. Demikian halnya ketika saya kembali ke ruang bawah tanah, orang-orang pun menyalahkan saya karena dianggap membahayakan nyawa para gerilyawan hahaha.






Saya tak ingin berlama-lama lagi di ruang bawah tanah itu.  Rasanya saya  sudah tak kuasa menahan serbuan emak-emak yang telah siap ngantemi saya dengan  peralatan dapurnya.  Suasana yang tidak kondusif itu akhirnya memaksa saya mengungsi kembali ke rumah maya sendiri. Melanjutkan menggarap postingan dan memasukkan segala pernak-pernik yang sudah disiapkan.

Masalah kembali terjadi karena pernak pernik yang sudah saya anggap lancar ternyata tak berjalan sesuai rencana. Tak ada musik dangdut yang terdengar. Tiada kembang api yang nampak memancar. Hanya menyisakan tiga penari latar yang berdansa tanpa irama dan juga sebuah foto sang komandan lengkap dengan senyum khasnya. Sebuah  senyuman yang seakan menertawakan kepanikan yang sedang saya rasakan.

Berbagai cara saya coba lakukan agar pernak pernik itu bisa berjalan sempurna. Saya pun mencoba mencopot semua piranti yang saya tanam ke tubuh Essip, karena saya khawatir ada bentrok script yang terjadi di sana. Hasilnya masih saja nihil dan justru sekarang tampilan Essip yang nampak amburadul karena saya preteli piranti-piranti di dalamnya. Hmmm. saya kualat komandan nih,  begitu pikir saya.

Akhirnya saya pun pasrah. Melanjutkan postingan tersebut tak sesuai dengan rencana di awal. Tapi setidaknya saya sedikit terhibur karena posting itu jadi artikel pertama yang mengucapkan dirgahayu buat markas besar sang komandan.

Dulur blogger, ada beberapa pelajaran yang saya petik dari tragedi konspirasi 18 Juli itu dengan Ramadhan nanti. Yang pertama adalah fokus dan konsentrasi pada sebuah pekerjaan sangatlah diperlukan ketika kita melakukannya. Segala sesuatu akan berjalan kurang sempurna bahkan bisa saja gagal jika kita mblarah dari pekerjaan utama kita. Seperti halnya ketika saya melakukan kesalahan posting prematur karena asyik mblarah sana sini, mungkin seperti itulah Ramadhan kita nanti. Jangan sampai kita semua melakukan sebuah sikap  mblarah yang bisa mengurangi keafdholan puasa kita. Tetap fokus dan konsentrasilah dengan puasa kita agar bisa berjalan sempurna.

Pelajaran yang kedua adalah jangan terlampau yakin dan mengklaim sesuatu yang kita anggap benar, sebelum tiba waktunya kebenaran itu terungkap. Yah dengan super pede saya yakin jika pernak pernik artikel yang sudah saya siapkan akan berjalan dengan lancar nantinya. Tapi apa terjadi? Hmmm.. segala hasil dan ketentuan ALLAH yang tentukan  finalnya. Demikian pula dengan halnya perbedaan Ramadhan yang terjadi hari ini, semoga kita bisa menyikapi semuanya dengan arif dan bijak. Tidak saling mengklaim yang paling benar. Tidak pula terlalu mencari siapa yang salah. Jalanilah puasa dengan keyakinan kita masing-masing. Ibarat seorang siswa saat ini kita sedang mengerjakan sebuah ujian semesteran dengan jadwal berbeda dengan hasil rapor yang akan dibagikan di alam barzah nantinya. Tidak ada yang salah menurut saya, yang salah adalah mereka yang mampu dan tiada mempunyai halangan tapi untuk puasa mereka mengatakan enggan.

Pelajaran yang terakhir adalah konspirasi itu menunjukkan jika sebenarnya kita mampu dan bisa bergandengan tangan untuk mencapai sebuah tujuan. Semoga saja di Ramadhan nanti kita bisa melanjutkan konspirasi yang telah ada. Membuat sebuah konspirasi yang senantiasa menuju kebaikan melalui artikel-artikel yang kita tuliskan.

Selamat Ramadhan dulur-dulur semua, Mohon maaf jika ada khilaf saya. Yuk kita sama-sama membuat konsipirasi yang begitu aduhai dan manis di dunia maya ini. Sebuah konspirasi yang menjadikan tulisan-tulisan kita sebagai salah satu ladang amal tentunya bagi kita semua.


note : maaf tulisane panjang hahaha. Maklum besok puasa jadi saya puas-puasin deh nulisnya. 

sumber gambar DISINI