Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 30 Juli 2012

Ah, Kusangka Kaulah Marpuah itu


 Tanpa sengaja hari ini kembali kumelihat  nomer itu di dalam ponselku. Sebaris angka-angka  yang tak begitu cantik, tapi sempat  memberi warna hidupku terasa lebih menarik. Dua belas angka yang dulu selalu ada ketika aku tlah terjaga. Dua belas digit itu seakan telah mengubah segala pahitku menjadi serasa legit. Itulah yang kurasa saat mengenalmu dulu. Bahkan sempat kuberpikir jika kaulah wanita imajiner yang sedang aku tunggu. Yah, kusangka kaulah Marpuah itu.

Namun sungguh sayang, ternyata semua itu hanya dugaanku. Sejak sore itu baru aku tahu jika kau benar-benar wanita imajiner yang tak bisa kuraih dan kusentuh. Saat kau menangis di ujung telpon itu baru kutahu jika aku bukanlah yang nomer satu.

Ingin rasanya kuberikan dada ringkih ini untuk menampung semua tangismu. Menghibur dan meredakan semua kepahitan yang sedang kau rasakan. Tapi entah kenapa sore itu seakan aku menjadi seorang lelaki yang bodoh dalam hal merayu. Mulutku ini terasa terkunci. Hanya kata sabar, sabar dan s`bar saja yang bisa keluar dari bibir ini.

Yang kutahu saat itu kau hanya dipermainkan kumbang nakal itu. Yang kutahu saat itu aku juga sedang marah karena ada seseorang yang berani mengganggu wanita imajinerku. Saat itu sebenarnya aku telah siap mengepalkan tinju untuk siapa saja yang coba mengganggumu. Aku pun rela berdarah-darah jika  saja ada yang berani membuatmu marah. Tapi sudahlah, kurasa semua itu percuma. Kupikir kau pun menikmati segala lara yang tengah kau rasa.

Sejak saat itu kau pun rajin bercerita tentang si kumbang nakal itu. Sebuah cerita yang bagiku sungguh menyesakkan dada. Kurasa kau telah dibutakan cinta dan kau masih saja suka bermain di dalamnya. Padahal sebelumnya kau sudah merasakan pahitnya sebuah kegagalan. Tapi entah kenapa ulah nakal si kumbang selalu kau balas dengan sikap bertahan dan terus bertahan.

Sejak dekat denganmu sebenarnya aku sudah mempersiapkan banyak hal untukmu. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan mental jika tiba-tiba saja ada seorang bocah yang memanggilku ayah. Aku pun telah menyusun sebuah rencana yang mungkin tak pernah dilakukan lelaki manapun terhadapmu. Bukan..bukan, aku tak bermaksud membeli sebidang tanah lengkap dengan rumah mungilnya. Yang jelas aku tak ingin meniru roman bercinta ala novela. Aku hanya ingin menyisihkan separuh duit rokokku untuk membeli AK-47. Yah, sebuah senjata yang siap kutarik pelatuknya kepada siapa saja yang berani memberimu luka lara. Mungkin rencana itu terlihat gila, tapi setidaknya aku ingin menunjukkan jika aku selalu serius dalam urusan cinta.

Pernah di suatu hari kau berkata jika  mungkin akan ada sebuah keajaiban yang datang. Sebuah ungkapan yang seakan membujukku untuk  terus bertahan. Tapi sudahlah sayang, aku hanyalah lelaki yang phobia dengan segala jenis penghianatan. Menunggu bagiku adalah pekerjaan yang begitu menjemukan. Aku tak mau kisah cintaku harus dijalani bak orang mengantri di daftar tunggu. Sabar dan setia menunggu serta berharap agar segera menjadi yang nomer satu.

Yang bisa kulakukan saat ini mungkin adalah belajar. Belajar mencinta meski tak bisa bersama. Belajar menyayangi tanpa harus bernafsu memiliki. Walau kutahu kumbang nakal itu sekarang telah pergi dari hidupmu, tapi kurasa aku tak bisa berjalan terus dengan seseorang yang tak serius. Biarkan saja kuangkat bendera putih ini tinggi-tinggi. Biarkan saja aku berangsur pergi meninggalkan gelanggang roman ini. Melupakan seyum manis bermanik gingsul itu dan menerima kenyataan jika kau bukanlah Marpuah itu.

Tulisan ini dipartisipasikan untuk memeriahkan ultah blog mbak Kajol ke-4 tahun