Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Rabu, 25 Juli 2012

Doakan Saja Saya Tak Lupa


 Syukur alhamdulillah untuk kesekian kali saya masih diberi kesempatan mereload pulsa usia hingga detik ini. 

Malam pergantian usia kali ini menjadi sesuatu yang berbeda dari tahun kemarin. Tak ada lagi prosesi ala pencinta alam yang biasanya saya lakukan. Tanpa hening sunyi menemani saat melakukan tafakur diri. Tiada  terdengar pula lantunan gitar yang biasa dipetik adik-adik saya tuk memecah keheningan di  hutan kecil itu. Tiada yang istimewa, semua berjalan seperti hari-hari biasa.

Mungkin hanya sebutir Paramex saja yang membuat malam kemarin terasa sedikit istimewa. Sebutir pereda nyeri yang telah sukses mengajak saya pergi menuju alam mimpi.  Melewatkan malam pergantian usia ini dengan sesuatu yang murah dan klasik. Yah, dengan  jalan tidur serta melupakan cenut-cenut  yang sejak sore tadi ada di kepala. Sejenak saya ingin melupakan semua persoalan kehidupan yang ada . Memejamkan mata sambil berharap ada sebuah keajaiban  yang terjadi saat saya bangun nanti.

Sayang, keajaiban yang saya harapkan ternyata hanya sebatas khayalan. Sebutir Paramex ternyata tak mampu menghilangkan semua persoalan yang ada. Tak semudah menghilangkan rasa nyeri kepala yang kini telah mereda. Padahal sebelum tidur tadi saya berharap ada seorang Marpuah yang tersenyum saat saya bangun nanti. Tapi...hmmm sungguh sialan, semuanya masih saja seperti kemarin. Masih saja pemandangan itu yang saya jumpai. Setumpuk pakaian kotor yang sabar mengantri untuk saya cuci.

Lembar kehidupan baru kehidupan kembali dibagikan. Dan masih menyisakan soal-soal lama yang harus saya kerjakan. Tentang jodoh, rejeki dan juga tentang berkarya. Tentang jodoh, ah saya rasa biarlah semua mengalir seperti apa adanya. Biarlah semua itu akan menjadi kejutan dari Illahi buat saya nanti. Yang harus saya lakukan tentu saja melakukan apa yang seharusnya lelaki lakukan. Amati lalu dekati. Jika sreg lakukan sebuah deal transaksi lalu konfirmasi ke KUA untuk mendaftarkan diri. Biar saja untuk sementara waktu "Setelah Bulan Sebelas" menjadi kalimat untuk menjawab status saya yang masih sendiri.

Tentang rejeki. Hmmm menurut saya di dunia ini ada tiga tipe manusia pencari rejeki. Tipe pasrah, qona'ah dan juga serakah. Pasrah, yah itulah diri saya dulu. Menganggap jika rejeki itu datang sendiri dan tak perlu untuk dicari. "Wong cilik" seringkali saya jadikan alasan untuk melegitimasi jika sesungguhnya saya masih malas-malasan. Lalu apa yang terjadi? tentu saja saya menjadi seorang pengangguran sejati.

Akhirnya saya berpikir sampai kapan saya harus memiliki mental "wong cilik", padahal sejatinya semua orang mempunyai kans untuk menjadi "orang gede". Uang bagi saya adalah sesuatu yang tak perlu terlalu dipusingkan, tapi jangan sampai pula kita meremehkan. Kita tidak pernah tahu apa yang nanti terjadi esok hari. Bisa saja sekarang saya masih duduk santai di depan layar monitor ini, tapi bisa jadi besok sang majikan akan mengatakan jika warnet ini stop beroperasi. Tak sekedar mental yang harus saya siapkan, tapi juga sebuah modal jika itu benar-benar terjadi.

Apakah itu pertanda saya terlalu takut pada sesuatu yang belum terjadi?. Mungkin saya akan balik bertanya apakah anda yakin nasib baik akan terus bersama anda nanti? Segala rahasia Illahi tiada satu pun yang bisa menebaknya. Jadi mulai sekarang kita persiapkan segala sesuatunya untuk memperingan jika nanti ALLAH memberikan ujian dalam kehidupan. Lantas bagaimana jika ketakutan itu tidak benar-benar terjadi? Hmm saya rasa tidak ada salahnya jika "wong cilik" seperti saya mempunyai cita-cita besar. Menjadi majikan bagi diri saya sendiri itulah cita-cita saya nanti.

Bersikap qona'ah saya rasa itu yang harus saya lakukan. Qona'ah yang  tak hanya sebatas pasrah, tapi mensyukuri potensi dan memberdayakannya untuk terus mencari rejeki. Apakah saya serakah jika saya terus mengejar rejeki itu? Apakah saya termasuk orang yang menumpuk-numpuk harta jika saya menyisihkan sedikit hasil jerih payah saya? Hmmm, terserah orang mau bilang apa. Bagi saya sepanjang proses itu halal, mencari rejeki akan tetap saya kerjakan. Menabung untuk masa depan itu juga akan saya lakukan. Meski tak melimpah dan cukup  membeli sebidang sawah, tapi setidaknya saya sudah memiliki sayap jika nanti ada bidadari  yang ingin mengajak saya terbang tinggi.

Apakah selama ini saya sudah berkarya di dunia maya?  Wow saya tak tahu apakah semua yang saya lakukan ini disebut karya.  Yang saya tahu dunia maya dulu hanya saya kenal sebagai tempat memulung sen demi sen kepingan dollar bagi saya. Lalu ada sebuah dunia bernama blogsphere yang membuat saya kepincut dan ikut nimbrung di dalamnya. Yang jelas saya tak ingin hidup saya menjadi timpang karena terjebak dengan kata-kata karya itu sendiri. Menyibukkan diri dengan segala macam permasalah umat, tapi untuk diri sendiri saya enggan berbuat. Nah jika saja ada pertanyaan yang mengharuskan saya memilih bekerja atau berkarya, tentu saja saya akan memilih bekerja. Sebab dalam setiap pekerjaan disitulah kita akan menemukan karya.

Dulur blogger, matur nuwun buat doa dan ungkapan cinta yang telah diberikan buat saya hari ini. Jika saja saya boleh memilih doa apa yang layak buat saya, mungkin saya ingin didoakan agar tak menjadi orang yang lupa dan lena. Andai takdir saya kaya, tolong ingatkan agar saya tak terlena dengan hartanya. Andai saya nanti disibukkan kerja, ingatkan saya agar tak lupa pula untuk berkarya. Andai pula saya sudah ketemu Marpuah, mohon ingatkan saya  jika masih saja ngotot ingin beristri dua hahaha..

Matur nuwun semua. Lophe Yu All..