Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 07 Juli 2012

Maaf, Jangan Tanya Saya Soal JFC


 Kemarin saya banyak sekali mendapat pertanyaan dari dulur-dulur blogger dan Facebooker soal kehebohan yang terjadi di kota saya. "Ngunduh mantu", "kapan maneh ketemu artis", "pingin mlebu tipi",  itulah jawaban orang-orang di daerah saya saat ditanya tentang tujuan mereka berbondong-bondong menuju pusat kota.

Menurut saya acara ngunduh mantu Anang - Ashanty kemarin merupakan acara yang memang begitu heboh dan  unik untuk sebuah kota kecil bernama Jember.  Tentunya sesuatu yang wajar jika sebagai wong ndeso saya pun ikutan heboh seperti mereka. Ikutan rame-rame menuju alun-alun kota yang menjadi magnet kehebohan hari itu.

Lantas piye acarane Lozz?. Yo emboh wong saya gak liat hehehe.

Entah kenapa kemarin saya tidak tertarik ikutan menyaksikan acara ngunduh mantu itu. Itulah sebabnya saya pun tidak bisa memberikan jawaban manakala teman-teman dunia maya bertanya perihal acara tersebut. Bahkan saya sempat ngguyoni mbak Lidya jika alasan saya tak menyaksikan acara itu disebabkan saya tak kuasa menatap Ashanty bersanding dengan lelaki lain hihihi.

Di dunia maya sering kali pula saya mendapat sebuah permintaan agar  menulis artikel seputar JFC. Namun berulangkali pula saya tak bisa menyanggupinya. Sebab bagaimana saya bisa menulis dan menceritakan glamornya even karnaval tahunan itu. Lah sepanjang pelaksanaan JFC sudah memasuki gelaran ke sebelas ini saya sekalipun tak pernah menyaksikannya. Apa itu berarti sebagai warga Jember saya tak setuju dengan gelaran itu?.

Hmm saya tidak mengatakan semua itu sebagai sebuah bentuk ketidaksetujuan, tapi saya lebih suka menyebutnya karena sebuah faktor ketidakcocokan. Yah, hanya soal rasa dalam menikmati sesuatu. Intinya sekarang saya masih kurang bisa menikmati segala macam hingar bingar keramaian layaknya acara ngunduh mantu Anang - Ashanty atau pun JFC.

Sebagai warga Jember tentu saja saya ikut bangga dengan even bernama JFC. Tak bisa saya pungkiri jika JFC turut mengatrol nama Jember di penjuru nusantara bahkan dunia. Meski saya pun tidak bisa membohongi jika ada sebuah rasa kurang sreg dengan even tersebut. Tapi biarlah, tidak selamanya ketidakcocokan meski disikapi dengan membuat opini terbuka. Kita pun harus mau menilai segala sesuatu dari semua sisi. Jika perlu sikap diam dan maklum mesti dilakukan agar kita bisa mengambil kesimpulan dengan bijaksana. Sikap diam,  mungkin itulah cara saya dalam menyikapi sekaligus mendukung even JFC yang menjadi kebanggaan kota saya ini.

JFC itu hanya bernuansa glamor, hura-hura dan menghambur-hamburkan duit semata.! itulah opini yang pernah saya baca dan dengar seputar pro kontra JFC dan BBJ. Mungkin itu ada benarnya jika yang jadi tolak ukur adalah sisi pemborosan. Tapi cobalah untuk berpikir jika ada sisi positif yang bisa kita ambil dari even tahunan itu. Boros mungkin di satu sisi, tapi limpahan rejeki bagi para pemulung, pedagang kaki lima, pedagang asongan dan pengais rejeki lainnya. Setidaknya masyarakat kecil pun bisa tersenyum dengan hiburan yang katanya dianggap boros itu, daripada mereka mumet karena memikirkan duit mereka yang karnaval entah kemana.

Dulur blogger dan khususnya dulur-dulur Jember, JFC merupakan karya dan kreatifitas anak bangsa. Jika anda mau silakan berikan dukungan sepenuh hati dengan mereka. Namun jika saja ada semacam ketidakcocokan atau ketidaksetujuan mungkin diam perlu anda lakukan. Diam yang tak sebatas hanya diam. Tapi sekaligus berpikir dan bertanya pada diri pribadi "apa yang sudah saya berikan buat kota kecil ini?". Jember bukan hanya sebatas JFC, masih banyak potensi yang bisa kita gali. Semua tergantung pada diri kita sebagai warganya. Jika kita punya niat, tekad dan mau berkarya sesuai bidangya, Insya ALLAH kota kecil bernama Jember akan selalu berkarnaval ria bersama kota-kota besar lainnya.


note : posting ini dibuat dengan suasan hiruk pikuk karnaval kecamatan yang lalu lalang tepat di depan warnet saya. Awalnya saya menikmati karnaval itu saat melihat barisan pakaian adat lewat. Tapi sayang saya langsung kehilangan selera dengan munculnya barisan ABG yang mengecat rambut dan bergoyang dugem dengan iringan sound system di belakangnya. Apakah ini gambaran negeri merdeka ini selanjutnya? semoga saja itu hanya dalam pikiran saya saja. Wassalam

sumber gambar diambil dari SINI