Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 10 Juli 2012

Sukmo Ilang, Andai Saja Kau Mampu Kubeli

 Di posting kemarin sempat saya singgung soal ketidakcocokan saya dengan sebuah keramaian bernama ngunduh mantu atau JFC. Ada yang menganggap jika semua itu adalah sebuah sikap ketidaksetujuan saya sebagai warga terhadap kebijakan kotanya. Ah saya rasa tidak, semua hanya soal masalah rasa. Hanya soal perbedaan sudut pandang saya tentang menikmati apa yang disebut sebagai sebuah hiburan. Bagaimanapun juga saya harus angkat topi untuk kreatifitas yang dilakukan oleh rekan-rekan Jember di JFC. Yang jadi pe-er buat saya sekarang adalah bagaimana saya bisa memberikan pula sebuah karya semampunya bagi kota kecil yang saya cintai ini.

Sebenarnya dulu saya pun gemar mendatangi berbagai macam hiburan atau keramaian macam karnaval JFC. Dari THR di lapangan kecamatan hingga Expo di pusat kota. Dari pagelaran orkes dangdut hingga konser musik, saya pun jarang ketinggalan untuk mendatanginya.

Suatu ketika saat masih menjadi seorang warga urban ibukota, lewat sebuah radio saya mendengar ada sebuah konser gratisan yang akan digelar  untuk memperingati ultah radio itu.  Saya pun tak mau ketinggalan untuk turut menyaksikan konser yang digelar di kawasan Senayan tersebut. Segala sesuatu telah saya persiapkan, termasuk pula kostum yang nanti akan saya kenakan.  

"Ra'i ndeso tapi klambi kudu kutho", itulah yang ada dalam pikiran saya saat itu. Kostum sudah saya setting se-trendy mungkin, dengan harapan saya tak terlihat ngisin-ngisini saat  berbaur dengan para orang kota nanti. Dengan percaya diri dan langkah ringan saya pun segera bergerak menuju Senayan. Tapi apa yang terjadi? Jasik..ternyata ternyata saya salah kostum saudara-saudara..!. Saya serasa menjadi penonton yang aneh dalam konser itu. Nyaris tak saya temukan penonton dengan pakaian resmi seperti yang saya kenakan. Mata saya hanya memandang sekumpulan muda-mudi yang bercelana pendek/training, kaos oblong lengkap dengan handuk kecilnya. Ya, konser itu sengaja digelar pagi hari dengan tujuan untuk menghibur orang-orang yang berolahraga di kawasan senayan. Konser yang sukses saya tonton dengan tuntas, tapi gagal total saat menginstall kostum yang saya kenakan.

Lain pula cerita saat  menonton konser band Flanella di kota saya sendiri. Konser yang penuh roman itu tiba-tiba terhenti  di tengah pertunjukan. Flanella menghentikan aksi panggungnya karena perhatian penonton tak lagi tertuju pada mereka. Magnet perhatian sekarang tak lagi tertuju pada apa yang di atas panggung, tapi beralih ke bawah panggung. Ke sebuah tempat dimana disitu terjadi aksi layaknya di film-film kungfu. Bisa ditebak siapa pelakunya?. Hahaha itu saya saudara-saudara, terlibat tarung bebas dengan penonton lainnya. Sebuah konser yang tak hanya sukses saya saksikan, tapi sukses pula saya mendapat oleh-oleh lebam ketika pulang.

Setelah kejadian itu saya berpikir jika mungkin sudah waktunya bagi saya untuk menghindari sesuatu yang berbau keramaian. Sejak saat itu saya cenderung menghindari segala jenis konser musik dan aneka macam keramaian seperti halnya malam tahun baru dan sejenisnya. Sekarang saya lebih menikmati sesuatu yang oleh orang lain kadang dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Saat muda mudi berbondong-bondong menuju keramaian, saya lebih suka menghindar dan memilih mengungsi ke tempat-tempat yang penuh kesunyian.

Sebut saja namanya Sukmo Ilang. Sebuah kawasan di timur desa tempat tinggal saya. Kawasan perbukitan milik Perhutani, yang  hanya menyisakan secuil hutan heterogen untuk dicumbui. Selebihnya hanya hamparan  hutan jati dan rumput ilalang tak beraturan. Di tempat itu biasanya saya mengungsikan diri dari segala macam sorak sorai keramaian. Dari puncak bukit itu kemeriahan pesta kembang api tahun baru hanya bisa saya tatap dari kejauhan.

Tempat itu bukan hanya sebatas ruang bagi saya untuk melarikan diri dari segala macam kebisingan. Tapi juga sebagai laboratorium alam mini bagi adik-adik saya, untuk belajar tentang apa itu arti dari sebuah konservasi. Sukmo Ilang pula yang dulu menjadi saksi ketika saya mengikrarkan diri menjadi seorang pencinta alam. Saya pun yakin selama masih ada generasi yang peduli dengan alamnya, pekik "salam lestari" senantiasa akan selalu terdengar dari balik hutan kecil itu.

Sukmo Ilang, banyak cerita yang tertulis di sana. Ada kehangatan persaudaraan yang terjalin di dalamnya. Ada pula secuil roman yang menjadi sebuah kenangan. Andai saja aku mampu, ingin rasanya kubeli bukit dan hutan kecil itu. Agar nanti bisa kutanami dengan sesuka hati. Yah, bukan hanya dengan pohon jati, tapi aku ingin menyulapnya menjadi sebuah rimba tropis tapi ber-wifi.

Dulur blogger, esok hari dijadwalkan the Three Lion alias Trio Macan akan mengguncang di lapangan kecamatan tempat tinggal saya. Entahlah, rasanya saya masih enggan untuk menontonnya. Saya khawatir jika masih nekat menonton aksi Trio Macan, sepulangnya saya akan menjadi orang yang mencakar-cakar sembarangan. Jadi yo wis lah besok atur piket malam aja deh, atau mungkin anda punya usulan sebuah tempat bagi saya untuk melarikan diri dari terkaman Trio Macan?.