Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 14 Juli 2012

Tajemtra, Apa Sekedar Jalan Kaki Saja?


Jangan datang ke Jember hari ini ! Itulah saran saya jika mungkin ada diantara anda yang mempunyai rencana bepergian ke kota kecil ini. Sebab bisa jadi saat sebelum memasuki kota Jember anda akan berhadapan dengan bapak-bapak polisi yang mengarahkan kendaraan anda untuk menjauhi jantung kota.

Emang ada apa Jember hari ini? Apa ada demo besar-besaran yang terjadi di pusat kota sana? Ah tidak saudara-saudara. Insya Allah, selama ada satpam dunia maya Jember akan baik-baik saja hahaha. Opo hubungane rek?

Hari ini di Jember sedang diadakan even rakyat  bernama Tanggul - Jember Tradisional atau biasa disebut Tajemtra. Sebuah kegiatan gerak jalan kolosal yang menempuh rute sepanjang kurang lebih 30 kilometer. Berawal dari alun-alun kecamatan Tanggul sebagai garis startnya dan finish di alun-alun kota Jember.

Sebenarnya even ini  lebih dulu terkenal dan mengakar bagi warga Jember, jauh-jauh sebelum JFC populer seperti sekarang ini. Even yang sekarang masuk dalam paket BBJ (Bulan Berkunjung Jember) ini umurnya jauh lebih tua dari saya. Gerak jalan klasik ini  melibatkan ribuan peserta. Konon menurut sejarah kegiatan ini pernah memakan korban jiwa salah satu pesertanya. Hingga akhirnya untuk mengenang peristiwa tersebut, piala yang diperebutkan sekarang dinamai dengan nama peserta yang meninggal tersebut yaitu Mahmudi Cup.

Dulu bisa dikatakan hampir setiap kecamatan-kecamatan di Jember mempunyai gerak jalan tradisionalnya sendiri-sendiri. Di tempat saya ada gerak jalan Gubatra (Gumelar - Balung Tradisional). Di kecamatan tetangga sebelah ada gerak jalan dengan nama unik yaitu Gambangsuling alias Gambirono - Bangsalsari - Sukorejo Keliling. Lalu ada pula gerak jalan yang bernama Watam yang menempuh rute dari pantai wisata Watu Ulo dan berakhir di alun-alun Ambulu. Namun sungguh sayang, gerak jalan tradisional tersebut kini nampaknya telah punah karena jaman.

Saat kecil dulu saya pun sering mengikuti gerak jalan Gubatra yang ada di daerah saya. Seperti halnya Tajemtra, gerak jalan tersebut menempuh rute puluhan kilometer. Melibatkan ribuan peserta yang tentu saja memakan waktu lama. Makanya tidak heran jika hingga tengah malam pun masih saja ada peserta yang berceceran di tengah jalan. Rute yang demikian panjang serasa bukan apa-apa jika dijalani bersama-sama. Saling menyemangati antar peserta. Berbagi bekal makanan dan minuman dengan mereka selama perjalanan yang ujung-ujungnya mendapat kenalan baru dari kegiatan itu.

Yang unik, tanpa dikomando penonton di sepanjang jalan pun ikut andil dalam kegiatan yang menguras tenaga itu.  Dengan sukarela para warga mengeluarkan peralatan sound system rumah yang mereka punyai. Memutar lagu-lagu perjuangan sebagai injeksi semangat bagi peserta yang berlaga. Tiba-tiba pula jalanan disulap menjadi panggung aksi para MC dadakan. Yah para warga itu dengan pedenya berlagak bak pandusiar yang mengucapkan selamat datang kepada setiap peserta yang lalu lalang di jalan depan rumahnya. Sebuah pemandangan yang lucu, tapi sangat efektif memberikan iuran semangat bagi langkah perjalanan tiap peserta. Lebih terharu lagi manakala saya menjumpai para warga yang dengan ikhlas hati menawarkan air minum gratis pada peserta yang mereka sediakan di meja-meja depan rumah mereka.

Itulah suasana gerak jalan tradisional yang dulu pernah saya ikuti. Bangga rasanya saat merah putih terikat di kepala saya dan menjadi teman selama perjalanan. Serasa menyenangkan karena disepanjang perjalanan penonton pun tak henti memberi dukungan semangat juang. Mengharukan pula rasanya manakala saya bisa menikmati teguk demi teguk dari air yang mereka tawarkan. Ah, sungguh sebuah nostalgia yang begitu saya rindukan terjadi pada Tajemtra hari ini. Yah, semoga saja masih ada merah putih yang terikat di kepala setiap peserta. Semoga pula "iwak peyek" tak menjadi sebuah lagu wajib dalam perjalanan mereka nantinya.

Gerak jalan tradisional macam Tajemtra menurut saya bukan hanya sekedar arena jalan kaki massal belaka, tapi ada pesan-pesan moral yang bisa kita ambil di dalamnya. Sebagai peserta kita harus senantiasa bersemangat menggapai tujuan kita. Meski kadang letih mendera, tapi jika semua kita lakukan bersama-sama, rasa lelah itu tidak akan begitu terasa. Sebagai penonton kita pun bisa memberikan kontribusi pada mereka. Dengan memberikan dukungan semampu kita, layaknya para MC dadakan dan air minum gratis yang ditawarkan oleh para warga.

Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan kita, masalah seberat apa pun insya ALLAH akan terasa enteng jika kita mau jalani bersama. Harus ada aksi saling dukung dan menyemangati untuk setiap karya anak bangsa. Memberikan sebuah dukungan dengan semua yang kita mampu. Jika kita tidak mampu? Hmm saya rasa diam dan bersikap seperti layaknya penonton pasif Tajemtra itu lebih baik dilakukan. Yah, daripada menjadi pribadi yang pelit memberikan apresiasi terhadap karya orang lain, tapi justru berubah kritis manakala dirinya melihat ada sisi kekurangan dari yang orang lain lakukan.

Dulur blogger, apakah di tempat anda masih ada gerak jalan tradisional macam Tajemtra? Apakah anda pernah pula mengikutinya? Jika anda masih belum mengikutinya, tidak ada salahnya jika anda mengikuti Tajemtra yang ada di kota saya. Insya ALLAH saya akan dengan senang hati menjadi penonton setia yang menyemangati perjalanan anda ahahaha.


note : Selamat berjuang buat pak Rohim, ayahanda Masbro sebagai peserta Tajemtra. Ah, andai saja ada  punya waktu mungkin saya akan bangga menjadi tandem perjalanan anda Bapak. Tapi sungguh sayang bapak, saya bukan lelaki merdeka seperti anda.  Maju terus dan tetap semangat pak Rohim..!


sumber gambar : http://prioritasjember.blogspot.com/